Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU
Language
ID | EN | language
Apa Itu Quiet Quitting dan Mengapa Banyak Karyawan Melakukannya?
Informasi 27 dibaca

Apa Itu Quiet Quitting dan Mengapa Banyak Karyawan Melakukannya?

G

Gusti Ayu Tita P

Informasi

Diterbitkan

calendar_today 9 Juli 2026

Fenomena quiet quitting menjadi salah satu topik yang banyak dibahas dalam dunia kerja modern. Istilah ini tidak berarti seorang karyawan benar-benar mengundurkan diri dari pekerjaannya, melainkan memilih untuk bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang telah disepakati tanpa memberikan usaha berlebihan di luar kewajibannya. Fenomena ini muncul sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan kerja, kelelahan mental, serta keinginan untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Bagi sebagian orang, quiet quitting merupakan cara untuk menjaga kesehatan mental dan menghindari burnout. Namun bagi perusahaan, fenomena ini sering dianggap sebagai tantangan karena dapat memengaruhi produktivitas, keterlibatan karyawan, hingga budaya kerja dalam organisasi.

APA ITU QUIET QUITTING?

Quiet quitting adalah kondisi ketika karyawan tetap menjalankan pekerjaannya, tetapi hanya sebatas tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Mereka tidak lagi terdorong untuk mengambil pekerjaan tambahan, lembur secara sukarela, atau memberikan usaha ekstra tanpa adanya penghargaan yang sepadan.

Perilaku ini bukan berarti malas bekerja, melainkan bentuk penetapan batas agar pekerjaan tidak mengganggu kehidupan pribadi. Banyak pekerja mulai menyadari pentingnya menjaga keseimbangan hidup dibanding terus bekerja melebihi kapasitas.

MENGAPA BANYAK KARYAWAN MELAKUKANNYA?

Salah satu penyebab utama munculnya quiet quitting adalah tingginya tingkat stres dan kelelahan akibat beban kerja yang berlebihan. Banyak karyawan merasa usaha ekstra yang mereka berikan tidak diimbangi dengan penghargaan, kenaikan gaji, maupun peluang pengembangan karier.

Selain itu, perubahan cara pandang generasi muda terhadap pekerjaan juga berperan besar. Mereka lebih mengutamakan kesehatan mental, fleksibilitas kerja, serta kualitas hidup dibanding mengejar budaya kerja yang mengharuskan bekerja tanpa batas.

BURNOUT MENJADI PEMICU UTAMA

Burnout merupakan salah satu faktor yang paling sering mendorong seseorang melakukan quiet quitting. Tekanan pekerjaan yang terus meningkat, target yang tinggi, dan kurangnya waktu istirahat dapat membuat motivasi kerja menurun secara drastis.

Dalam kondisi tersebut, banyak karyawan memilih mengurangi keterlibatan emosional terhadap pekerjaan agar tetap mampu menjalankan tugas tanpa mengalami kelelahan yang lebih serius.

DAMPAK BAGI PERUSAHAAN DAN KARYAWAN

Bagi perusahaan, quiet quitting dapat menyebabkan menurunnya produktivitas, kreativitas, serta semangat kolaborasi dalam tim. Karyawan mungkin tetap menyelesaikan pekerjaan, tetapi tidak lagi memberikan ide baru atau berinisiatif membantu pekerjaan di luar tanggung jawabnya.

Di sisi lain, bagi karyawan, menetapkan batas kerja dapat membantu menjaga kesehatan mental, mengurangi stres, dan menciptakan keseimbangan hidup yang lebih baik. Namun jika dilakukan secara berlebihan, hal ini juga dapat membatasi peluang pengembangan karier dan promosi jabatan.

BAGAIMANA MENCEGAH QUIET QUITTING?

Perusahaan dapat mengurangi risiko quiet quitting dengan menciptakan lingkungan kerja yang sehat, memberikan apresiasi terhadap kinerja karyawan, serta menyediakan kesempatan untuk berkembang. Komunikasi yang terbuka antara atasan dan karyawan juga menjadi faktor penting dalam membangun keterlibatan kerja.

Sementara itu, karyawan perlu belajar mengelola beban kerja, menetapkan batas yang sehat, serta tetap menjaga profesionalisme. Dengan keseimbangan yang tepat, produktivitas dan kesejahteraan dapat berjalan beriringan.

KESIMPULAN

Quiet quitting merupakan fenomena ketika karyawan memilih bekerja sesuai tanggung jawab tanpa memberikan usaha di luar kewajiban. Tren ini muncul akibat meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, keseimbangan hidup, serta keinginan memperoleh penghargaan yang sepadan atas kontribusi yang diberikan.

Baik perusahaan maupun karyawan perlu memahami fenomena ini secara bijak. Dengan membangun budaya kerja yang sehat, komunikasi yang baik, serta penghargaan yang adil, produktivitas dapat tetap terjaga tanpa mengorbankan kesejahteraan para pekerja.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.