Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 14 dibaca

Apa Penyebab FOMO yang Sering Tidak Disadari?

G

Gusti Ayu Tita P

12 September 2026

Bagikan:
Apa Penyebab FOMO yang Sering Tidak Disadari?

FOMO atau Fear of Missing Out adalah perasaan takut tertinggal dari pengalaman, informasi, kesempatan, atau aktivitas yang sedang dilakukan orang lain. Kondisi ini semakin mudah muncul karena media sosial membuat seseorang dapat melihat kehidupan orang lain hampir setiap saat. Padahal, tidak semua hal yang terlihat di media sosial menggambarkan keadaan sebenarnya. FOMO dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan, mengatur waktu, menggunakan uang, hingga menilai dirinya sendiri.

Menariknya, FOMO tidak selalu muncul dalam bentuk keinginan mengikuti tren secara berlebihan. Perasaan tersebut dapat muncul secara halus, misalnya merasa harus segera membeli sesuatu karena banyak orang memilikinya atau merasa gelisah ketika tidak mengetahui kabar terbaru. Karena itu, memahami penyebab FOMO penting agar seseorang dapat mengenali pola tersebut sebelum memengaruhi kehidupan sehari-hari.

PENGARUH MEDIA SOSIAL YANG TERLALU INTENS

Media sosial menjadi salah satu faktor yang paling sering berkaitan dengan munculnya FOMO. Ketika seseorang terus melihat unggahan tentang liburan, pencapaian karier, gaya hidup, pertemanan, atau aktivitas menarik orang lain, muncul kecenderungan untuk membandingkan kehidupan sendiri dengan apa yang terlihat di layar. Paparan konten secara terus menerus dapat membuat seseorang merasa seolah olah orang lain selalu menjalani kehidupan yang lebih menarik.

Masalahnya, media sosial umumnya menampilkan bagian kehidupan yang memang ingin dibagikan oleh penggunanya. Kesulitan, kegagalan, rasa bosan, dan masalah pribadi sering kali tidak terlihat. Jika kondisi ini tidak disadari, seseorang dapat menganggap kehidupan orang lain jauh lebih sempurna dan akhirnya merasa takut tertinggal.

KEBIASAAN MEMBANDINGKAN DIRI DENGAN ORANG LAIN

FOMO juga dapat berawal dari kebiasaan membandingkan diri. Seseorang mungkin melihat teman yang lebih sukses, memiliki barang baru, mendapatkan kesempatan tertentu, atau mempunyai banyak kegiatan, kemudian merasa dirinya kurang berkembang. Perbandingan seperti ini dapat membuat pencapaian pribadi terlihat tidak berarti meskipun sebenarnya sudah cukup baik.

Perbandingan sosial yang berlebihan dapat mengubah standar kepuasan seseorang. Ketika ukuran keberhasilan selalu mengikuti pencapaian orang lain, seseorang akan lebih mudah merasa tertinggal. Akibatnya, keputusan yang dibuat bukan lagi berdasarkan kebutuhan atau tujuan pribadi, melainkan karena ingin menyamai kehidupan orang lain.

KEINGINAN UNTUK DITERIMA DALAM LINGKUNGAN

Manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari kelompok. Keinginan tersebut dapat menjadi salah satu pemicu FOMO ketika seseorang merasa harus mengikuti aktivitas tertentu agar tidak dianggap berbeda. Contohnya adalah mengikuti tren, menghadiri semua acara pertemanan, atau membeli produk yang sedang populer meskipun sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Tekanan untuk menyesuaikan diri dapat menjadi semakin kuat ketika lingkungan memberikan perhatian besar terhadap tren atau popularitas. Seseorang kemudian khawatir kehilangan hubungan sosial jika tidak ikut berpartisipasi. Dalam kondisi tertentu, keputusan yang dibuat akhirnya lebih dipengaruhi oleh keinginan mendapatkan penerimaan daripada pertimbangan yang rasional.

RASA TIDAK PUAS TERHADAP KEHIDUPAN SENDIRI

Perasaan tidak puas terhadap kehidupan dapat membuat FOMO semakin mudah berkembang. Ketika seseorang sedang merasa bosan, tidak memiliki tujuan yang jelas, atau menganggap kehidupannya berjalan terlalu biasa, aktivitas orang lain dapat terlihat jauh lebih menarik. Hal sederhana yang dilakukan orang lain pun bisa dianggap sebagai sesuatu yang seharusnya juga dimiliki.

Dalam kondisi tersebut, FOMO bukan hanya tentang apa yang dilakukan orang lain, tetapi juga tentang ketidakpuasan terhadap kondisi diri sendiri. Seseorang mungkin terus mencari pengalaman baru untuk mendapatkan rasa puas sementara. Namun, jika akar masalahnya tidak diselesaikan, kepuasan tersebut biasanya tidak bertahan lama dan dapat digantikan oleh keinginan lain.

KEBUTUHAN UNTUK SELALU MENGIKUTI INFORMASI TERBARU

Tidak semua FOMO berkaitan dengan barang atau kegiatan sosial. Ada pula FOMO terhadap informasi, yaitu perasaan tidak nyaman ketika seseorang merasa mungkin melewatkan berita, tren, percakapan, atau perkembangan terbaru. Kondisi ini dapat terlihat dari kebiasaan memeriksa ponsel berulang kali, membuka banyak aplikasi secara bergantian, atau merasa harus selalu mengetahui apa yang sedang terjadi.

Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang sulit benar-benar beristirahat dari informasi. Notifikasi dan pembaruan yang terus muncul memberikan dorongan untuk selalu memeriksa perangkat. Jika dilakukan terlalu sering, perhatian menjadi mudah terpecah dan seseorang dapat kesulitan berkonsentrasi pada pekerjaan, belajar, maupun percakapan langsung.

TAKUT KEHILANGAN KESEMPATAN

FOMO juga dapat muncul karena seseorang takut melewatkan kesempatan yang dianggap hanya datang sekali. Contohnya adalah promosi terbatas, acara tertentu, peluang pekerjaan, kegiatan bersama teman, atau tren yang sedang berkembang. Perasaan mendesak tersebut dapat membuat seseorang mengambil keputusan dengan cepat tanpa mempertimbangkan apakah kesempatan itu benar-benar sesuai dengan kebutuhannya.

Dalam situasi tertentu, rasa takut kehilangan kesempatan dapat mengalahkan pertimbangan logis. Seseorang mungkin membeli sesuatu karena takut harga naik, mengikuti kegiatan karena takut tidak diajak lagi, atau mengambil terlalu banyak aktivitas karena khawatir kehilangan pengalaman. Padahal, tidak semua kesempatan harus diambil dan tidak semua hal yang sedang populer memiliki nilai yang sama bagi setiap orang.

KEPERCAYAAN DIRI YANG BELUM KUAT

Kepercayaan diri juga dapat berhubungan dengan kecenderungan mengalami FOMO. Seseorang yang sering meragukan dirinya sendiri mungkin lebih mudah menggunakan kehidupan orang lain sebagai patokan. Ketika melihat orang lain memperoleh sesuatu yang dianggap berharga, muncul pikiran bahwa dirinya juga harus melakukan hal serupa agar merasa cukup baik.

Validasi dari luar kemudian menjadi semakin penting untuk membangun rasa percaya diri. Jika seseorang terus mencari pengakuan melalui tren, jumlah interaksi di media sosial, atau penerimaan kelompok, perasaan takut tertinggal dapat semakin kuat. Karena itu, membangun penilaian diri yang lebih sehat dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap standar yang berasal dari orang lain.

DAMPAK FOMO DALAM KEHIDUPAN SEHARI HARI

FOMO yang muncul sesekali merupakan hal yang dapat dialami banyak orang. Namun, jika terjadi terlalu sering, kondisi tersebut dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Seseorang dapat menjadi lebih impulsif dalam berbelanja, sulit berkonsentrasi, terlalu sering menggunakan media sosial, atau merasa tidak tenang ketika tidak mengikuti aktivitas tertentu.

Selain itu, FOMO dapat mengurangi kemampuan seseorang menikmati apa yang sedang dijalani. Perhatian terus tertuju pada kemungkinan pengalaman yang sedang dilakukan orang lain. Akibatnya, seseorang bisa berada dalam sebuah kegiatan tetapi tetap sibuk memikirkan apa yang mungkin sedang ia lewatkan di tempat lain.

CARA MENGENALI DAN MENGURANGI FOMO

Langkah pertama untuk mengurangi FOMO adalah mengenali pemicunya. Perhatikan kapan keinginan untuk mengikuti sesuatu muncul dan tanyakan apakah keputusan tersebut benar-benar berasal dari kebutuhan pribadi atau hanya karena melihat orang lain melakukannya. Memberikan jeda sebelum mengambil keputusan dapat membantu membedakan keinginan sesaat dengan kebutuhan yang sebenarnya.

Penggunaan media sosial juga dapat dibuat lebih teratur. Membatasi waktu melihat konten, mematikan notifikasi yang tidak penting, dan memilih akun yang memberikan informasi bermanfaat dapat mengurangi paparan terhadap pemicu FOMO. Selain itu, menetapkan prioritas pribadi dan menghargai pencapaian sendiri dapat membantu seseorang merasa lebih nyaman dengan kehidupannya tanpa harus selalu mengikuti apa yang sedang dilakukan orang lain.

KESIMPULAN

FOMO dapat muncul karena berbagai faktor yang sering tidak disadari, mulai dari pengaruh media sosial, kebiasaan membandingkan diri, kebutuhan untuk diterima, ketidakpuasan terhadap kehidupan, hingga rasa takut kehilangan kesempatan. Faktor tersebut dapat saling memperkuat sehingga seseorang merasa harus selalu mengikuti tren atau mengetahui segala sesuatu yang sedang terjadi.

Memahami penyebabnya merupakan langkah penting untuk mengendalikan FOMO. Tidak semua tren perlu diikuti dan tidak semua kesempatan harus diambil. Dengan menentukan prioritas, membatasi paparan media sosial, serta membangun kepuasan terhadap kehidupan sendiri, seseorang dapat membuat keputusan berdasarkan kebutuhan dan tujuan pribadi, bukan semata-mata karena takut tertinggal.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya