Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 37 dibaca

Apa yang Dapat Dilakukan untuk Meningkatkan Keterampilan Mengambil Keputusan pada Anak?

G

Gusti Ayu Tita P

31 Juli 2025

Bagikan:
Apa yang Dapat Dilakukan untuk Meningkatkan Keterampilan Mengambil Keputusan pada Anak?

Keterampilan mengambil keputusan pada anak merupakan kemampuan penting yang perlu dikembangkan sejak dini. Kemampuan ini membantu anak menentukan pilihan, mempertimbangkan akibat, dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat. Anak tidak selalu dapat mengambil keputusan dengan tepat karena kemampuan berpikir dan pengendalian dirinya masih berkembang. Oleh karena itu, orang tua dapat memberikan bimbingan yang sesuai dengan usia anak tanpa selalu menentukan semua pilihan untuknya. Melalui latihan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, anak dapat belajar menjadi lebih mandiri dan percaya diri ketika menentukan pilihan.

MEMBERIKAN PILIHAN SEDERHANA

Salah satu cara mengembangkan kemampuan mengambil keputusan adalah memberikan anak pilihan yang sesuai dengan usianya. Orang tua dapat meminta anak memilih pakaian, makanan, buku, atau kegiatan yang ingin dilakukan dari beberapa pilihan yang sudah disiapkan. Pilihan yang terbatas membuat anak tidak merasa terlalu bingung ketika harus menentukan sesuatu. Setelah memilih, anak dapat belajar bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Kebiasaan sederhana ini dapat menjadi latihan awal untuk membangun kemampuan mengambil keputusan.

Orang tua tidak perlu memberikan terlalu banyak pilihan sekaligus. Dua atau tiga pilihan yang jelas biasanya lebih mudah dipahami oleh anak, terutama pada usia yang masih kecil. Jika pilihan yang dibuat masih aman dan sesuai aturan, berikan anak kesempatan untuk menentukan pilihannya sendiri. Kesempatan memilih dapat membuat anak merasa dipercaya dan belajar mengenali apa yang sesuai dengan kebutuhannya.

MENGAJARKAN ANAK MEMPERTIMBANGKAN AKIBAT

Anak perlu memahami bahwa setiap keputusan dapat memberikan hasil atau konsekuensi tertentu. Orang tua dapat mengajak anak membicarakan kemungkinan yang terjadi sebelum memilih sesuatu. Misalnya, ketika anak ingin bermain sebelum menyelesaikan tugas, orang tua dapat bertanya apa yang mungkin terjadi jika tugasnya ditunda. Pertanyaan sederhana seperti ini membantu anak belajar memikirkan akibat sebelum bertindak. Proses tersebut juga dapat melatih kemampuan berpikir secara lebih terarah.

Pembahasan mengenai konsekuensi sebaiknya dilakukan tanpa membuat anak merasa takut. Orang tua dapat menjelaskan hubungan antara pilihan dan akibat menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Jika keputusan anak ternyata menghasilkan sesuatu yang kurang baik, jadikan pengalaman tersebut sebagai kesempatan untuk belajar. Dengan demikian, anak memahami bahwa kesalahan dalam mengambil keputusan dapat menjadi bahan pembelajaran.

MENGAJAK ANAK BERPIKIR SEBELUM MEMILIH

Anak dapat dilatih untuk tidak terburu-buru ketika harus menentukan pilihan. Orang tua dapat mengajarkan langkah sederhana seperti memahami masalah, melihat beberapa pilihan, mempertimbangkan akibat, lalu menentukan keputusan. Tidak semua keputusan membutuhkan waktu lama, tetapi anak perlu belajar bahwa berpikir sebelum bertindak dapat membantu menghindari kesalahan yang tidak perlu. Orang tua dapat menggunakan situasi sehari-hari sebagai latihan. Cara ini membuat proses belajar mengambil keputusan terasa alami.

Pertanyaan terbuka juga dapat membantu anak mengembangkan cara berpikirnya. Misalnya, orang tua dapat bertanya, “Menurut kamu, pilihan mana yang paling cocok dan mengapa?” Anak kemudian dapat menjelaskan alasan di balik pilihannya. Orang tua tidak harus langsung memberikan jawaban yang dianggap paling benar. Mendorong anak menjelaskan alasan dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan logis.

MEMBIARKAN ANAK MENGALAMI KONSEKUENSI YANG AMAN

Orang tua tentu ingin melindungi anak dari kesalahan, tetapi terlalu sering mengambil alih keputusan dapat membuat anak kurang terbiasa menentukan pilihan sendiri. Selama situasinya aman dan sesuai dengan usia anak, berikan ruang untuk mengalami konsekuensi yang wajar. Misalnya, jika anak memilih membawa barang tertentu untuk kegiatan dan ternyata barang tersebut tidak diperlukan, ia dapat belajar dari pengalaman tersebut. Pendekatan ini membantu anak memahami hubungan antara keputusan dan tanggung jawab. Namun, orang tua tetap perlu memberikan batasan untuk keputusan yang berkaitan dengan keselamatan atau risiko serius.

Setelah anak mengalami konsekuensi, ajak ia melakukan evaluasi sederhana. Tanyakan apa yang terjadi, apa yang dirasakan, dan apakah ada pilihan lain yang bisa dilakukan. Hindari menyalahkan atau mempermalukan anak ketika keputusan yang dibuat ternyata kurang tepat. Evaluasi tanpa menghakimi membantu anak lebih terbuka dalam membicarakan kesalahan. Dari pengalaman tersebut, anak dapat belajar membuat keputusan yang lebih baik di kemudian hari.

MENGHARGAI PROSES DAN USAHA ANAK

Ketika anak mulai belajar mengambil keputusan, orang tua perlu menghargai prosesnya, bukan hanya hasil akhirnya. Anak mungkin membuat pilihan yang kurang tepat karena pengalaman dan pengetahuannya masih terbatas. Jika setiap kesalahan langsung dimarahi, anak dapat menjadi takut mengambil keputusan sendiri. Sebaliknya, berikan apresiasi ketika anak berusaha mempertimbangkan pilihan dan menjelaskan alasannya. Dukungan positif dapat membantu membangun rasa percaya diri anak dalam menghadapi berbagai pilihan.

Apresiasi juga sebaiknya diberikan secara spesifik. Misalnya, orang tua dapat mengatakan bahwa anak sudah berusaha memikirkan akibat sebelum menentukan pilihan. Pujian seperti ini membantu anak mengetahui perilaku positif yang perlu dipertahankan. Dengan begitu, anak tidak hanya mengejar hasil yang benar, tetapi juga belajar menghargai proses berpikir dan pembelajaran.

MENGAJARKAN TANGGUNG JAWAB ATAS PILIHAN

Kemampuan mengambil keputusan perlu berjalan bersama dengan tanggung jawab. Anak dapat diajarkan bahwa setelah menentukan pilihan, ia juga perlu menjalankan bagian yang menjadi tanggung jawabnya. Misalnya, ketika anak memilih kegiatan tertentu, ia perlu mengikuti aturan yang berkaitan dengan kegiatan tersebut. Orang tua dapat memberikan pengingat tanpa langsung mengambil alih tugas anak. Kebiasaan ini membantu membentuk sikap bertanggung jawab terhadap keputusan sendiri.

Tanggung jawab perlu diberikan secara bertahap sesuai kemampuan anak. Anak yang lebih kecil dapat diberikan tanggung jawab sederhana, sedangkan anak yang lebih besar dapat dilibatkan dalam keputusan yang lebih kompleks. Orang tua tetap dapat memberikan arahan jika keputusan memiliki risiko atau membutuhkan pertimbangan orang dewasa. Dengan cara tersebut, anak belajar bahwa mandiri bukan berarti harus melakukan semuanya sendirian, tetapi mampu menentukan pilihan dan meminta bantuan ketika diperlukan.

MENJADI CONTOH DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN

Anak juga belajar dari cara orang tua mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua dapat menunjukkan bagaimana mempertimbangkan beberapa pilihan sebelum menentukan tindakan. Misalnya, ketika memilih sesuatu untuk keluarga, orang tua dapat menjelaskan alasan sederhana di balik keputusannya. Cara tersebut memberikan contoh nyata mengenai proses berpikir dalam mengambil keputusan. Anak dapat melihat bahwa keputusan yang baik biasanya membutuhkan pertimbangan, bukan sekadar mengikuti keinginan sesaat.

Orang tua juga dapat menunjukkan bahwa tidak semua keputusan menghasilkan sesuatu yang sempurna. Jika melakukan kesalahan, orang tua dapat mengakuinya dan menjelaskan bagaimana cara memperbaikinya. Contoh seperti ini mengajarkan anak bahwa kesalahan bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Anak pun dapat belajar untuk tetap tenang ketika keputusan yang dibuat ternyata perlu diperbaiki.

KESIMPULAN

Meningkatkan keterampilan mengambil keputusan pada anak dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua dapat memberikan pilihan yang sesuai usia, mengajak anak mempertimbangkan konsekuensi, dan memberikan kesempatan untuk belajar dari pengalaman. Anak juga perlu dilatih menjelaskan alasan pilihannya serta memahami bahwa setiap keputusan memiliki tanggung jawab. Dukungan orang tua sangat penting agar anak tidak takut melakukan kesalahan selama proses belajarnya tetap berada dalam batas yang aman. Dengan latihan yang konsisten, komunikasi yang baik, dan kesempatan untuk mandiri, anak dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya