Perundungan tidak selalu meninggalkan luka yang terlihat secara fisik. Banyak orang menganggap perundungan verbal hanya berupa ejekan atau kata-kata yang menyakitkan, sehingga dampaknya sering dianggap lebih ringan dibandingkan perundungan fisik. Padahal, keduanya sama-sama dapat memberikan pengaruh negatif terhadap kondisi psikologis, perkembangan sosial, dan kualitas hidup korban. Perundungan verbal yang terjadi secara berulang dapat meninggalkan luka emosional yang bertahan dalam waktu lama, bahkan hingga seseorang memasuki dunia kerja atau kehidupan dewasa.
Di lingkungan pendidikan, perundungan verbal sering muncul dalam bentuk hinaan, ejekan, ancaman, atau penyebutan nama yang merendahkan seseorang. Karena tidak menimbulkan cedera fisik, tindakan ini terkadang sulit dikenali dan kurang mendapatkan perhatian yang serius.
Sementara itu, perundungan fisik lebih mudah diketahui karena melibatkan tindakan seperti mendorong, memukul, atau bentuk kekerasan lainnya. Meski berbeda bentuk, keduanya sama-sama berpotensi merusak kesejahteraan korban apabila tidak segera ditangani.
Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa setiap bentuk perundungan memiliki dampak yang serius dan memerlukan upaya pencegahan serta penanganan yang tepat.
PERUNDUNGAN VERBAL DAPAT MELUKAI KONDISI PSIKOLOGIS
Ucapan yang menghina, merendahkan, atau mempermalukan seseorang secara terus-menerus dapat menurunkan rasa percaya diri korban. Korban sering merasa tidak berharga, takut berinteraksi, dan kehilangan semangat untuk belajar maupun beraktivitas.
Dampak psikologis tersebut dapat berlangsung lama apabila korban tidak memperoleh dukungan dari lingkungan sekitar.
Karena itu, perundungan verbal tidak boleh dianggap sebagai candaan atau hal yang biasa.
PERUNDUNGAN FISIK MENIMBULKAN CEDERA DAN RASA TAKUT
Perundungan fisik dapat menyebabkan luka, cedera, hingga rasa takut untuk kembali ke lingkungan tempat kejadian. Selain dampak fisik, korban juga dapat mengalami tekanan emosional yang memengaruhi kesehatan mentalnya.
Kekerasan fisik sering membuat korban merasa tidak aman dan kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan sekitarnya.
Oleh sebab itu, tindakan ini harus segera dihentikan melalui penanganan yang tegas dan tepat.
KEDUANYA DAPAT MEMENGARUHI PRESTASI DAN MASA DEPAN
Baik perundungan verbal maupun fisik dapat menurunkan motivasi belajar serta mengganggu konsentrasi korban. Akibatnya, prestasi akademik dan perkembangan potensi diri dapat ikut terhambat.
Apabila berlangsung dalam waktu lama, pengalaman tersebut juga dapat memengaruhi hubungan sosial dan kesiapan menghadapi dunia kerja.
Karena itu, setiap bentuk perundungan perlu dicegah sejak dini.
PENCEGAHAN MEMERLUKAN KEPEDULIAN BERSAMA
Sekolah, keluarga, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan saling menghargai. Pendidikan karakter, komunikasi yang baik, dan keberanian untuk melaporkan perundungan menjadi bagian penting dalam pencegahan.
Semakin tinggi kepedulian terhadap sesama, semakin kecil peluang terjadinya perundungan dalam bentuk apa pun.
Budaya saling menghormati perlu ditanamkan sejak dini agar setiap individu merasa aman dan dihargai.
SEMUA BENTUK PERUNDUNGAN HARUS DITANGANI SERIUS
Tidak ada bentuk perundungan yang dapat dianggap sepele. Meskipun tidak selalu meninggalkan luka fisik, perundungan verbal dapat memberikan dampak emosional yang sama beratnya bagi korban.
Penanganan yang cepat, dukungan psikologis, dan penegakan aturan secara konsisten menjadi langkah penting untuk melindungi korban.
Dengan demikian, lingkungan pendidikan dapat menjadi tempat yang lebih aman bagi semua peserta didik.
KESIMPULAN
Perundungan verbal dan perundungan fisik sama-sama berbahaya karena dapat memengaruhi kesehatan mental, prestasi akademik, hubungan sosial, serta masa depan korban. Perbedaannya hanya terletak pada bentuk tindakan, bukan pada tingkat keseriusan dampaknya.
Oleh karena itu, setiap bentuk perundungan harus dicegah dan ditangani dengan serius melalui kerja sama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat agar tercipta lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan saling menghargai.
Tentang Penulis
Gusti Ayu Tita P
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.