Apakah Skill Digital Lebih Penting daripada Gelar Sarjana untuk Mendapatkan Kerja?
Gusti Ayu Tita P
4 September 2026
Perkembangan teknologi membuat keterampilan digital semakin dibutuhkan dalam berbagai bidang pekerjaan. Banyak perusahaan kini menggunakan teknologi untuk menjalankan operasional, pemasaran, komunikasi, analisis data, hingga pengembangan produk. Kondisi tersebut membuat kemampuan seperti menggunakan perangkat digital, mengolah data, memahami teknologi, dan memanfaatkan kecerdasan buatan semakin bernilai. Namun, meningkatnya kebutuhan skill digital bukan berarti gelar sarjana sudah tidak penting.
Gelar sarjana dan skill digital sebenarnya memiliki fungsi yang berbeda dalam proses mencari kerja. Gelar menunjukkan latar belakang pendidikan formal, sedangkan skill digital dapat memperlihatkan kemampuan seseorang dalam menggunakan teknologi untuk menyelesaikan pekerjaan. Karena itu, pencari kerja sebaiknya tidak hanya memilih salah satunya, tetapi memahami bagaimana keduanya dapat saling melengkapi.
MENGAPA SKILL DIGITAL SEMAKIN DIBUTUHKAN?
Skill digital semakin penting karena teknologi telah menjadi bagian dari banyak aktivitas perusahaan. Pekerjaan yang dahulu dilakukan secara manual kini banyak menggunakan aplikasi, perangkat lunak, platform digital, dan sistem berbasis data. Karyawan yang mampu beradaptasi dengan teknologi dapat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien. Kemampuan tersebut juga dapat menjadi nilai tambah ketika seseorang bersaing dengan kandidat lain.
Kebutuhan skill digital tidak hanya berlaku bagi pekerjaan di bidang teknologi. Pemasaran, keuangan, pendidikan, administrasi, desain, komunikasi, dan berbagai bidang lainnya juga menggunakan teknologi. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menyebutkan bahwa AI dan big data, jaringan dan keamanan siber, serta literasi teknologi termasuk kelompok keterampilan yang berkembang paling cepat kebutuhannya. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan digital semakin relevan untuk berbagai jenis pekerjaan.
APAKAH GELAR SARJANA MASIH PENTING?
Gelar sarjana masih memiliki peran penting dalam dunia kerja. Beberapa perusahaan menetapkan jenjang pendidikan tertentu sebagai salah satu persyaratan untuk melamar posisi. Untuk profesi tertentu, pendidikan formal bahkan menjadi bagian dari kualifikasi yang harus dipenuhi sebelum seseorang dapat menjalankan pekerjaan tersebut. Karena itu, memiliki skill digital tidak otomatis membuat gelar sarjana menjadi tidak diperlukan.
Pendidikan tinggi juga memberikan pengetahuan dasar yang lebih terstruktur sesuai bidang studi. Selama kuliah, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, penelitian, komunikasi, kerja sama, dan pemecahan masalah. Pengalaman organisasi, magang, proyek akademik, serta kegiatan lainnya juga dapat menjadi bekal memasuki dunia kerja. Dengan demikian, nilai gelar tidak hanya terletak pada ijazah, tetapi juga proses pembelajaran yang menyertainya.
SKILL DIGITAL DAN GELAR MEMILIKI FUNGSI BERBEDA
Gelar sarjana dapat menunjukkan bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan formal dalam bidang tertentu. Sementara itu, skill digital menunjukkan kemampuan praktis yang dapat digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan. Perusahaan dapat menggunakan kedua informasi tersebut untuk menilai apakah kandidat memiliki latar belakang dan kemampuan yang sesuai. Oleh karena itu, keduanya tidak selalu tepat untuk dibandingkan secara langsung.
Sebagai contoh, seseorang yang melamar pekerjaan sebagai analis data mungkin membutuhkan latar belakang pendidikan yang sesuai sekaligus kemampuan menggunakan perangkat analisis data. Demikian pula seorang desainer dapat memperoleh manfaat dari pendidikan formal sekaligus kemampuan menggunakan berbagai perangkat desain. Kombinasi antara pendidikan dan keterampilan praktis dapat membuat profil kandidat lebih kuat.
KAPAN SKILL DIGITAL BISA LEBIH MENONJOL?
Skill digital dapat menjadi faktor yang sangat penting ketika pekerjaan lebih mengutamakan kemampuan praktis. Bidang seperti pemrograman, desain digital, pemasaran digital, analisis data, dan produksi konten biasanya membutuhkan bukti bahwa kandidat mampu menggunakan alat dan teknologi yang relevan. Dalam situasi tersebut, kemampuan nyata dapat membantu kandidat menunjukkan bahwa dirinya siap mengerjakan tugas.
Portofolio juga dapat digunakan untuk memperkuat bukti skill digital. Kandidat dapat menampilkan proyek aplikasi, desain, tulisan, analisis data, kampanye digital, atau karya lain yang pernah dibuat. Proyek tersebut membantu perusahaan melihat bagaimana keterampilan diterapkan dalam situasi nyata. Namun, penting untuk memastikan bahwa kemampuan yang ditampilkan memang relevan dengan posisi yang dilamar.
KAPAN GELAR SARJANA LEBIH DIPERLUKAN?
Gelar sarjana lebih penting ketika perusahaan secara jelas mencantumkannya sebagai persyaratan pekerjaan. Posisi tertentu membutuhkan pengetahuan akademik dan kualifikasi pendidikan yang tidak dapat digantikan hanya dengan kursus atau pengalaman mandiri. Hal ini terutama berlaku pada pekerjaan yang memiliki persyaratan profesi atau membutuhkan dasar keilmuan tertentu. Karena itu, pencari kerja harus selalu membaca persyaratan lowongan dengan teliti.
Gelar juga dapat membantu seseorang membangun fondasi karier dalam jangka panjang. Pendidikan formal memungkinkan mahasiswa mempelajari konsep dasar sebelum menerapkannya dalam pekerjaan. Selama proses tersebut, mahasiswa juga dapat membangun jaringan dengan dosen, teman, organisasi, dan dunia industri. Pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari modal karier setelah lulus.
KETERAMPILAN DIGITAL TIDAK HANYA TENTANG TEKNOLOGI
Skill digital tidak sebatas kemampuan mengoperasikan komputer atau aplikasi. Literasi teknologi juga mencakup kemampuan memahami informasi digital, menggunakan teknologi secara efektif, menjaga keamanan data, dan beradaptasi dengan perangkat baru. Kemampuan memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan masalah juga semakin penting. Oleh sebab itu, seseorang perlu terus belajar karena perkembangan teknologi berlangsung dengan cepat.
Kemampuan menggunakan teknologi juga perlu disertai keterampilan nonteknis. Komunikasi, kerja sama, kreativitas, berpikir analitis, dan kemampuan beradaptasi tetap dibutuhkan dalam pekerjaan. World Economic Forum mencatat bahwa analytical thinking tetap menjadi salah satu keterampilan inti yang paling dicari oleh pemberi kerja, sementara kreativitas dan ketahanan fleksibilitas serta kelincahan juga memiliki peran penting. Artinya, kemampuan digital akan lebih bernilai jika dipadukan dengan kemampuan manusia yang kuat.
CARA MENGGABUNGKAN GELAR DAN SKILL DIGITAL
Mahasiswa tidak perlu menunggu lulus untuk mulai mengembangkan skill digital. Keterampilan tersebut dapat dipelajari melalui kursus, proyek pribadi, organisasi, magang, atau kegiatan akademik. Misalnya, mahasiswa komunikasi dapat mempelajari analisis media sosial, mahasiswa bisnis dapat mempelajari pengolahan data, dan mahasiswa desain dapat memperdalam perangkat desain digital. Dengan cara ini, pendidikan formal dapat berjalan bersama pengembangan keterampilan praktis.
Setelah memperoleh keterampilan, penting untuk membuat bukti kemampuan yang dapat dilihat oleh perekrut. Sertifikat dapat menjadi pendukung, tetapi proyek dan portofolio sering kali memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai kemampuan. Pencari kerja juga sebaiknya memperbarui keterampilannya sesuai kebutuhan industri. Strategi tersebut membuat gelar sarjana tidak berdiri sendiri, tetapi didukung kemampuan yang relevan dengan dunia kerja.
CARA MENENTUKAN PRIORITAS UNTUK MENCARI KERJA
Langkah pertama adalah melihat posisi pekerjaan yang ingin dituju. Perhatikan apakah perusahaan meminta gelar tertentu, pengalaman kerja, keterampilan teknis, sertifikasi, atau portofolio. Setelah mengetahui persyaratan tersebut, seseorang dapat menentukan kemampuan apa yang perlu dikembangkan. Cara ini lebih efektif daripada mempelajari banyak keterampilan yang tidak berhubungan dengan tujuan karier.
Selanjutnya, bangun profil yang menunjukkan kombinasi pendidikan dan kemampuan. Cantumkan gelar secara jelas di CV jika relevan dengan posisi yang dilamar. Tampilkan skill digital yang benar-benar dikuasai dan sertakan proyek yang dapat membuktikannya. Dengan pendekatan tersebut, kandidat dapat menunjukkan bahwa dirinya memiliki dasar pendidikan sekaligus kemampuan untuk bekerja secara praktis.
MANA YANG LEBIH PENTING UNTUK MENDAPATKAN KERJA?
Tidak ada jawaban yang berlaku untuk semua pekerjaan mengenai apakah skill digital lebih penting daripada gelar sarjana. Kebutuhan perusahaan berbeda berdasarkan industri, posisi, dan tingkat pekerjaan. Dalam beberapa posisi, gelar menjadi persyaratan awal, sedangkan pada posisi lain kemampuan praktis dan portofolio dapat menjadi pertimbangan besar. Karena itu, pencari kerja perlu menyesuaikan strategi dengan pekerjaan yang dituju.
Pilihan terbaik adalah membangun keduanya secara seimbang. Gelar sarjana dapat memberikan fondasi pendidikan dan memenuhi persyaratan tertentu, sementara skill digital membantu seseorang menghadapi kebutuhan pekerjaan modern. Ketika keduanya didukung pengalaman dan kemampuan komunikasi yang baik, kandidat memiliki profil yang lebih lengkap. Pendekatan tersebut juga membantu seseorang lebih siap menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja.
KESIMPULAN
Skill digital semakin penting untuk mendapatkan kerja karena teknologi telah menjadi bagian dari berbagai bidang pekerjaan. Namun, perkembangan tersebut tidak membuat gelar sarjana kehilangan manfaatnya. Gelar tetap dibutuhkan untuk banyak posisi, terutama pekerjaan yang menetapkan pendidikan formal sebagai persyaratan. Sementara itu, skill digital dapat menjadi bukti bahwa seseorang mampu menggunakan teknologi dan mengikuti kebutuhan pekerjaan modern.
Daripada memilih antara gelar dan skill digital, pencari kerja sebaiknya mengembangkan keduanya. Pendidikan formal dapat memberikan dasar pengetahuan, sedangkan keterampilan digital dapat memperkuat kemampuan praktis. Ditambah pengalaman, portofolio, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi, kombinasi tersebut dapat meningkatkan kesiapan seseorang dalam menghadapi persaingan dunia kerja.
Tentang Penulis
Gusti Ayu Tita P
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.