Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 10 dibaca

Apakah Social Anxiety Dapat Memengaruhi Hubungan Sosial?

G

Gusti Ayu Tita P

11 September 2026

Bagikan:
Apakah Social Anxiety Dapat Memengaruhi Hubungan Sosial?

Social anxiety atau kecemasan sosial adalah kondisi ketika seseorang merasa takut, cemas, atau tidak nyaman dalam situasi yang melibatkan interaksi dengan orang lain. Perasaan tersebut dapat muncul ketika bertemu orang baru, berbicara dalam kelompok, menghadiri acara, atau menjadi pusat perhatian. Jika berlangsung terus-menerus, social anxiety dapat memengaruhi cara seseorang berkomunikasi dan membangun hubungan. Dampaknya dapat terlihat dalam hubungan dengan teman, keluarga, maupun lingkungan sekolah atau pekerjaan.

MENGAPA SOCIAL ANXIETY MEMENGARUHI HUBUNGAN SOSIAL?

Social anxiety dapat memengaruhi hubungan sosial karena seseorang sering merasa takut dinilai atau ditolak oleh orang lain. Kekhawatiran tersebut dapat membuat seseorang terlalu memikirkan perkataan dan perilakunya. Situasi sederhana seperti memulai percakapan dapat terasa sulit karena takut mengatakan sesuatu yang salah. Akibatnya, seseorang mungkin memilih diam meskipun sebenarnya ingin berinteraksi.

Kecemasan juga dapat membuat seseorang lebih banyak memperhatikan kekurangan dirinya daripada percakapan yang sedang berlangsung. Kondisi ini dapat membuat interaksi terasa melelahkan. Jika terjadi berulang kali, seseorang dapat semakin terbiasa menghindari situasi sosial.

SULIT MEMULAI DAN MEMPERTAHANKAN PERCAKAPAN

Orang yang mengalami social anxiety mungkin merasa kesulitan untuk memulai percakapan dengan orang lain. Mereka dapat bingung menentukan topik pembicaraan atau takut percakapannya dianggap membosankan. Bahkan ketika orang lain sudah mengajak berbicara, rasa cemas dapat membuat jawaban menjadi singkat. Hal ini bukan berarti mereka tidak ingin berteman atau tidak peduli kepada orang lain.

Kesulitan tersebut juga dapat membuat komunikasi menjadi tidak lancar. Orang lain mungkin salah memahami sikap diam sebagai tidak tertarik atau tidak ramah. Padahal, seseorang sebenarnya sedang berusaha mengendalikan rasa cemas yang muncul selama interaksi.

CENDERUNG MENGHINDARI INTERAKSI SOSIAL

Salah satu dampak yang sering terjadi adalah menghindari situasi sosial. Seseorang mungkin menolak ajakan berkumpul, memilih duduk sendirian, atau menghindari kegiatan yang mengharuskan berbicara dengan banyak orang. Menghindari situasi tersebut memang dapat memberikan rasa lega untuk sementara. Namun, jika dilakukan terus-menerus, kesempatan untuk mendapatkan pengalaman sosial yang positif menjadi semakin sedikit.

Kebiasaan menghindar juga dapat memperkuat keyakinan bahwa situasi sosial memang berbahaya atau sulit dihadapi. Akibatnya, kecemasan dapat muncul lebih kuat ketika seseorang kembali harus berinteraksi. Karena itu, menghadapi situasi sosial secara bertahap sesuai kemampuan dapat membantu membangun pengalaman yang lebih positif.

DAPAT MEMENGARUHI HUBUNGAN PERTEMANAN

Social anxiety dapat membuat seseorang kesulitan membangun hubungan pertemanan yang dekat. Rasa takut untuk membuka diri dapat membuat komunikasi dengan teman menjadi terbatas. Seseorang mungkin ingin ikut berkumpul tetapi merasa terlalu cemas untuk datang. Jika hal ini terus terjadi, hubungan dengan teman dapat menjadi semakin renggang.

Meski demikian, social anxiety tidak berarti seseorang tidak bisa memiliki hubungan pertemanan yang sehat. Teman yang memahami kondisi tersebut dapat memberikan rasa aman dan dukungan. Hubungan yang suportif dapat membantu seseorang merasa lebih nyaman untuk berkomunikasi dan perlahan meningkatkan kepercayaan dirinya.

MEMBUAT SESEORANG TERLALU MEMIKIRKAN RESPONS ORANG LAIN

Social anxiety sering berkaitan dengan overthinking terhadap interaksi sosial. Setelah berbicara dengan orang lain, seseorang mungkin mengingat kembali percakapannya dan mencari kesalahan yang mungkin dilakukan. Mereka dapat bertanya-tanya apakah perkataannya terdengar aneh atau apakah orang lain merasa tidak nyaman.

Kebiasaan tersebut dapat membuat interaksi sosial terasa lebih melelahkan. Padahal, orang lain belum tentu memikirkan percakapan tersebut sedalam yang dibayangkan. Belajar membedakan antara fakta dan kekhawatiran dapat membantu mengurangi pikiran negatif setelah berinteraksi.

DAPAT MENURUNKAN KEPERCAYAAN DIRI

Rasa takut dalam situasi sosial dapat membuat seseorang menganggap dirinya kurang mampu berkomunikasi. Jika sering menghindari interaksi, seseorang mungkin semakin jarang mendapatkan kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu. Hal tersebut dapat membuat kepercayaan diri semakin rendah.

Kepercayaan diri dapat dibangun kembali melalui pengalaman kecil. Misalnya, mulai menyapa orang lain, mengikuti percakapan singkat, atau berani menyampaikan pendapat dalam kelompok kecil. Kemajuan secara bertahap dapat membantu seseorang melihat bahwa dirinya sebenarnya mampu menghadapi berbagai situasi sosial.

BAGAIMANA CARA MENJAGA HUBUNGAN SOSIAL?

Menghadapi social anxiety tidak berarti harus langsung menjadi orang yang sangat aktif. Langkah sederhana seperti memulai percakapan secara perlahan dapat menjadi awal yang baik. Pilih situasi yang masih terasa cukup aman dan tingkatkan tantangan secara bertahap. Jangan terlalu menuntut diri untuk selalu tampil sempurna dalam setiap interaksi.

Penting juga untuk mempertahankan komunikasi dengan orang yang dipercaya. Menjelaskan bahwa rasa diam atau canggung berasal dari kecemasan dapat membantu orang lain memahami keadaan dengan lebih baik. Dukungan dari lingkungan yang positif dapat membuat proses menghadapi social anxiety terasa lebih ringan.

KAPAN PERLU MENCARI BANTUAN?

Jika social anxiety membuat seseorang terus menghindari teman, sekolah, pekerjaan, atau kegiatan sehari-hari, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan. Kecemasan yang sangat mengganggu aktivitas dapat membutuhkan bantuan yang lebih terarah. Berbicara dengan orang yang dipercaya dapat menjadi langkah awal untuk mendapatkan dukungan. Seseorang tidak harus menghadapi masalah tersebut sendirian.

Jika diperlukan, psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat membantu memahami pola kecemasan dan menentukan pendekatan yang sesuai. Bantuan profesional bukan berarti seseorang lemah. Justru, mencari bantuan dapat menjadi langkah untuk membangun kehidupan sosial yang lebih sehat.

KESIMPULAN

Social anxiety dapat memengaruhi hubungan sosial dengan membuat seseorang takut dinilai, sulit memulai percakapan, menghindari interaksi, dan terlalu memikirkan respons orang lain. Dampaknya dapat terlihat dalam hubungan pertemanan, komunikasi, maupun kepercayaan diri. Namun, kondisi tersebut bukan berarti seseorang tidak mampu memiliki hubungan sosial yang baik.

Social anxiety dapat dikelola melalui latihan bertahap, pola pikir yang lebih realistis, komunikasi yang terbuka, dan dukungan dari orang yang dipercaya. Jika kecemasan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, bantuan profesional dapat menjadi pilihan yang tepat.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya