Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Tips dan Trik
Tips dan Trik 55 dibaca

Bagaimana Algoritma Media Sosial Mendorong Terjadinya Cancel Culture?

G

Gusti Ayu Tita P

7 September 2026

Bagikan:
Bagaimana Algoritma Media Sosial Mendorong Terjadinya Cancel Culture?

Perkembangan media sosial membuat informasi dapat menyebar dalam waktu yang sangat singkat. Di satu sisi, kondisi ini memudahkan masyarakat menyampaikan pendapat dan mengawasi berbagai tindakan yang dianggap tidak sesuai dengan nilai sosial. Namun, penyebaran informasi yang sangat cepat juga dapat memicu cancel culture, yaitu tindakan kolektif untuk mengkritik, memboikot, atau menarik dukungan terhadap seseorang maupun organisasi karena dianggap melakukan kesalahan. Salah satu faktor yang dapat memperkuat fenomena tersebut adalah algoritma media sosial yang menentukan konten apa yang lebih sering muncul di hadapan pengguna.

MENGENAL ALGORITMA MEDIA SOSIAL DAN CANCEL CULTURE

Algoritma media sosial merupakan sistem yang digunakan platform untuk mengatur, memilih, dan merekomendasikan konten kepada pengguna. Sistem tersebut mempertimbangkan berbagai sinyal, seperti interaksi pengguna, riwayat aktivitas, jenis konten, serta kemungkinan seseorang tertarik terhadap suatu unggahan. Akibatnya, setiap pengguna dapat memperoleh susunan konten yang berbeda di halaman media sosialnya. Konten yang dianggap menarik atau memiliki tingkat interaksi tinggi berpotensi mendapatkan perhatian lebih besar. Kondisi ini dapat memengaruhi informasi yang dilihat seseorang setiap hari.

Sementara itu, cancel culture dapat dipahami sebagai fenomena ketika sekelompok orang secara bersama-sama menarik dukungan atau memberikan tekanan sosial kepada individu, merek, maupun organisasi karena suatu tindakan atau pernyataan yang dianggap bermasalah. Bentuknya dapat berupa kritik, ajakan berhenti mengikuti akun, hingga boikot terhadap produk atau layanan. Fenomena tersebut tidak selalu memiliki dampak yang sama pada setiap kasus. Dalam beberapa situasi, kritik publik dapat mendorong pertanggungjawaban, tetapi dalam situasi lain dapat berkembang menjadi serangan yang tidak proporsional.

KONTEN KONTROVERSIAL LEBIH MUDAH MENDAPAT PERHATIAN

Media sosial pada dasarnya dirancang untuk mempertahankan keterlibatan pengguna. Konten yang memicu emosi kuat seperti marah, terkejut, takut, atau penasaran dapat mendorong seseorang memberikan komentar, membagikan unggahan, atau melakukan interaksi lainnya. Ketika sebuah konten memperoleh banyak interaksi, sistem rekomendasi dapat membuatnya semakin terlihat oleh pengguna lain. Akibatnya, sebuah pernyataan kontroversial dapat berkembang menjadi perbincangan yang jauh lebih besar dibandingkan jangkauan awalnya. Penyebaran tersebut dapat mempercepat munculnya reaksi publik terhadap orang atau pihak yang menjadi sasaran.

Masalahnya, tingginya interaksi tidak selalu berarti informasi tersebut benar atau lengkap. Konten yang menarik perhatian dapat berisi potongan video, judul yang provokatif, atau informasi yang kehilangan konteks. Kecepatan penyebaran sering kali mendahului proses verifikasi. Ketika pengguna langsung memberikan penilaian berdasarkan informasi yang belum lengkap, tekanan publik dapat berkembang sebelum fakta sebenarnya diketahui.

EFEK VIRAL DAN PEMBENTUKAN OPINI PUBLIK

Ketika suatu unggahan menjadi viral, semakin banyak pengguna berpotensi melihat dan membicarakannya. Algoritma kemudian dapat memperluas jangkauan konten melalui rekomendasi atau fitur distribusi lainnya. Efek viral membuat sebuah kasus yang awalnya hanya diketahui oleh kelompok kecil dapat menjadi pembicaraan luas dalam waktu singkat. Banyaknya orang yang membahas suatu kasus juga dapat menciptakan kesan bahwa hampir semua orang memiliki pendapat yang sama. Padahal, reaksi yang terlihat di media sosial belum tentu mewakili seluruh masyarakat.

Pengguna juga dapat terpengaruh oleh jumlah komentar, tanda suka, atau unggahan yang mendukung suatu pandangan. Situasi tersebut dapat menciptakan tekanan sosial digital, terutama ketika seseorang merasa harus mengikuti opini mayoritas. Pengguna yang awalnya belum memiliki pendapat dapat ikut memberikan kritik setelah melihat banyak orang melakukan hal yang sama. Jika berlangsung tanpa pemeriksaan informasi, proses tersebut dapat memperkuat cancel culture secara cepat.

ECHO CHAMBER DAN POLARISASI DI MEDIA SOSIAL

Algoritma rekomendasi dapat membuat seseorang lebih sering melihat konten yang sesuai dengan minat atau perilakunya. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat berkontribusi terhadap terbentuknya echo chamber, yaitu lingkungan informasi ketika seseorang lebih banyak terpapar pandangan yang serupa. Ketika pengguna terus melihat pendapat yang sama, pandangan tersebut dapat terasa semakin benar atau dominan. Perbedaan perspektif akhirnya menjadi lebih jarang terlihat. Situasi ini dapat membuat diskusi mengenai suatu kontroversi menjadi semakin terpolarisasi.

Polarisasi dapat membuat pengguna memandang sebuah masalah secara lebih hitam dan putih. Seseorang yang dianggap melakukan kesalahan dapat langsung dilabeli sebagai pihak yang sepenuhnya buruk tanpa mempertimbangkan konteks. Kurangnya keberagaman perspektif juga dapat mengurangi kesempatan untuk memahami alasan di balik suatu peristiwa. Karena itu, pengguna perlu secara aktif mencari sumber dan sudut pandang yang berbeda ketika menghadapi isu kontroversial.

PERAN KOMENTAR, SHARE, DAN HASHTAG DALAM MEMPERLUAS ISU

Fitur interaksi seperti komentar, berbagi, dan hashtag dapat membantu suatu isu memperoleh perhatian lebih luas. Setiap pengguna memiliki kemampuan untuk ikut menyebarkan informasi hanya dengan beberapa sentuhan. Interaksi pengguna tersebut dapat membuat suatu isu terus muncul dalam percakapan digital. Hashtag tertentu juga dapat menjadi pusat diskusi yang menghubungkan berbagai unggahan mengenai kasus yang sama. Semakin banyak orang berpartisipasi, semakin besar pula kemungkinan isu tersebut memperoleh perhatian publik.

Namun, penyebaran melalui media sosial tidak selalu disertai pemeriksaan fakta. Sebuah unggahan dapat dibagikan karena pengguna merasa marah atau terkejut, bukan karena informasi tersebut sudah terbukti benar. Satu informasi yang keliru dapat menyebar bersama informasi yang benar, sehingga masyarakat perlu lebih berhati-hati ketika mengikuti isu yang sedang viral. Membaca sumber asli dan memeriksa konteks merupakan langkah penting sebelum ikut menyebarkan suatu tuduhan atau ajakan boikot.

DAMPAK CANCEL CULTURE BAGI INDIVIDU DAN MASYARAKAT

Cancel culture dapat memiliki sisi positif ketika digunakan untuk mendorong akuntabilitas publik. Kritik masyarakat dapat membuat individu atau organisasi lebih bertanggung jawab terhadap tindakan mereka. Dalam kasus tertentu, tekanan publik juga dapat meningkatkan perhatian terhadap persoalan sosial yang sebelumnya kurang diperhatikan. Media sosial dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk menyampaikan pengalaman dan menuntut perubahan. Namun, manfaat tersebut bergantung pada cara kritik dilakukan dan kualitas informasi yang digunakan.

Di sisi lain, cancel culture dapat menimbulkan dampak negatif ketika berkembang menjadi penghukuman massal tanpa proses yang adil. Seseorang dapat kehilangan reputasi atau kesempatan hanya berdasarkan informasi yang belum terverifikasi. Serangan berulang di media sosial juga dapat berubah menjadi perundungan digital. Oleh karena itu, kritik terhadap suatu tindakan perlu dibedakan dari serangan pribadi, penyebaran data pribadi, atau tindakan lain yang merugikan.

CARA BIJAK MENGHADAPI ISU CANCEL CULTURE

Pengguna media sosial dapat mengurangi dampak negatif cancel culture dengan membangun kebiasaan literasi digital. Sebelum membagikan konten, periksa sumber, tanggal informasi, konteks, serta apakah terdapat sumber lain yang mendukung klaim tersebut. Jangan menjadikan jumlah komentar atau unggahan viral sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan kebenaran. Jika informasi masih belum jelas, menunggu verifikasi merupakan pilihan yang lebih aman. Sikap tersebut membantu mengurangi penyebaran informasi yang keliru.

Pengguna juga perlu membedakan antara kritik yang konstruktif dan serangan terhadap individu. Kritik sebaiknya berfokus pada tindakan atau pernyataan yang dipermasalahkan, bukan menghina identitas atau kehidupan pribadi seseorang. Mengikuti akun dengan pandangan berbeda juga dapat membantu memperluas perspektif dan mengurangi risiko terjebak dalam satu lingkungan informasi. Dengan penggunaan media sosial yang lebih kritis dan bertanggung jawab, masyarakat dapat menyampaikan keberatan tanpa menciptakan penghukuman digital yang berlebihan.

KESIMPULAN

Algoritma media sosial dapat berperan dalam mempercepat terjadinya cancel culture karena sistem rekomendasi dapat memperluas jangkauan konten yang mendapatkan banyak perhatian dan interaksi. Konten kontroversial, efek viral, echo chamber, serta fitur komentar dan berbagi dapat memperkuat pembentukan opini publik. Namun, algoritma bukan satu-satunya penyebab karena perilaku pengguna, budaya masyarakat, dan karakter suatu isu juga memiliki pengaruh. Literasi digital, verifikasi informasi, dan kemampuan berpikir kritis sangat penting agar masyarakat tidak mudah mengambil keputusan berdasarkan informasi yang belum lengkap. Dengan penggunaan media sosial yang bijak, kritik publik dapat tetap menjadi sarana evaluasi tanpa berubah menjadi penghukuman massal yang tidak proporsional.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya