Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 197 dibaca

Mengapa Remaja Suka Junk Food dan Apa Dampaknya bagi Kesehatan?

G

Gusti Ayu Tita P

24 September 2026

Bagikan:
Mengapa Remaja Suka Junk Food dan Apa Dampaknya bagi Kesehatan?

Junk food menjadi salah satu jenis makanan yang cukup dekat dengan kehidupan remaja. Makanan seperti burger, kentang goreng, ayam goreng cepat saji, pizza, mi instan, makanan ringan kemasan, serta minuman tinggi gula sering dipilih karena mudah ditemukan dan praktis dikonsumsi. Rasanya yang gurih, manis, atau renyah juga membuat makanan tersebut menarik bagi banyak remaja. Namun, jika dikonsumsi terlalu sering dan menggantikan makanan bergizi, junk food dapat memberikan dampak kurang baik terhadap kesehatan.

Masa remaja merupakan periode penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Pada masa ini, kebutuhan energi dan berbagai zat gizi meningkat untuk mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan otak, aktivitas sehari-hari, serta perubahan hormonal. Karena itu, kualitas makanan yang dikonsumsi remaja perlu diperhatikan. Memahami alasan remaja menyukai junk food sekaligus mengetahui dampaknya dapat membantu membangun kebiasaan makan yang lebih seimbang.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN JUNK FOOD?

Junk food merupakan istilah umum yang sering digunakan untuk makanan yang cenderung tinggi kalori, gula, garam, atau lemak tertentu, tetapi relatif rendah dalam beberapa zat gizi penting jika dibandingkan dengan makanan utuh yang beragam. Contohnya dapat berupa makanan cepat saji, makanan ringan kemasan, minuman berpemanis, serta berbagai produk makanan yang sangat diproses. Namun, tidak semua makanan olahan otomatis termasuk junk food dan tidak semua makanan cepat saji memiliki komposisi gizi yang sama. Kandungan nutrisi tetap perlu dilihat berdasarkan jenis dan porsinya.

Masalah biasanya muncul ketika makanan tersebut dikonsumsi terlalu sering dan menggantikan makanan yang lebih bergizi. Tubuh remaja tetap membutuhkan protein, serat, vitamin, mineral, karbohidrat, dan lemak dalam jumlah yang sesuai. Jika pola makan didominasi makanan tinggi kalori tetapi rendah variasi zat gizi, kebutuhan tubuh dapat lebih sulit terpenuhi. Karena itu, perhatian sebaiknya tidak hanya diberikan pada satu jenis makanan, tetapi pada pola makan secara keseluruhan.

MENGAPA REMAJA SUKA JUNK FOOD?

Salah satu alasan junk food disukai remaja adalah rasa dan kemudahannya. Makanan dengan rasa gurih, manis, asin, atau tekstur renyah dapat terasa menarik dan mudah dikonsumsi. Selain itu, makanan cepat saji biasanya dapat diperoleh tanpa membutuhkan waktu lama untuk memasak. Bagi remaja dengan aktivitas sekolah, kuliah, organisasi, atau kegiatan lainnya, makanan praktis dapat terasa lebih sesuai dengan rutinitas mereka.

Faktor lingkungan juga memiliki pengaruh. Remaja sering berinteraksi dengan teman sebaya dan dapat mengikuti kebiasaan makan kelompoknya. Jika lingkungan pertemanan terbiasa membeli makanan cepat saji setelah sekolah atau berkumpul di restoran tertentu, seseorang dapat terdorong melakukan hal yang sama. Pengaruh teman sebaya tidak selalu menjadi penyebab utama, tetapi dapat membentuk kebiasaan dan preferensi makanan.

Media sosial dan pemasaran juga membuat makanan tertentu semakin mudah dikenal. Foto makanan yang menarik, promosi harga, layanan pesan antar, serta konten dari kreator dapat meningkatkan perhatian terhadap suatu produk. Remaja yang sering melihat makanan tertentu di lingkungan digital mungkin menjadi lebih familiar dengan produk tersebut. Karena itu, pilihan makanan remaja dapat dipengaruhi oleh kombinasi antara rasa, harga, kemudahan, lingkungan, dan promosi.

JUNK FOOD SERING DIANGGAP PRAKTIS DAN TERJANGKAU

Praktis merupakan salah satu alasan penting mengapa makanan cepat saji dan makanan olahan banyak dipilih. Remaja tidak perlu menghabiskan waktu lama untuk menyiapkan makanan tertentu. Produk yang sudah siap makan atau mudah dimasak dapat menjadi pilihan ketika seseorang sedang terburu-buru. Kemudahan tersebut menjadi semakin menarik bagi remaja yang memiliki jadwal padat.

Harga juga dapat menjadi pertimbangan. Banyak produk makanan ringan atau makanan cepat saji tersedia dalam berbagai pilihan harga dan ukuran. Promosi seperti paket hemat atau potongan harga dapat membuat makanan tertentu terasa lebih menarik secara ekonomi. Namun, harga murah tidak selalu berarti pilihan tersebut paling sesuai untuk kebutuhan gizi harian.

Karena itu, remaja perlu melihat makanan dari lebih banyak aspek daripada sekadar harga dan rasa. Nilai gizi, ukuran porsi, frekuensi konsumsi, dan keseimbangan dengan makanan lain juga penting. Makanan yang sesekali dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang beragam berbeda dengan makanan yang hampir selalu menjadi pilihan utama.

APA DAMPAK JUNK FOOD TERHADAP BERAT BADAN?

Konsumsi makanan yang tinggi kalori secara berlebihan dapat berkontribusi terhadap kelebihan berat badan apabila energi yang masuk secara konsisten lebih tinggi daripada energi yang digunakan tubuh. Risiko tersebut dapat meningkat jika pola makan juga rendah serat dan aktivitas fisik kurang. Namun, berat badan seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga tidak tepat mengaitkan perubahan berat badan hanya dengan satu jenis makanan. Genetik, aktivitas fisik, pola tidur, kondisi sosial, dan keseluruhan pola makan juga dapat berperan.

Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi kalori dalam jumlah besar dapat membuat asupan energi meningkat tanpa memberikan rasa kenyang yang sebanding, terutama jika makanan tersebut rendah serat. Minuman manis juga perlu diperhatikan karena kalori dalam bentuk cair dapat dikonsumsi dengan cepat. Jika kebiasaan tersebut berlangsung dalam jangka panjang, keseimbangan energi tubuh dapat terganggu.

Karena itu, fokus sebaiknya bukan sekadar menghindari semua makanan favorit. Remaja dapat belajar mengatur porsi dan frekuensi konsumsi serta menyeimbangkannya dengan sayur, buah, sumber protein, biji-bijian atau sumber karbohidrat yang sesuai, dan air putih. Pola makan yang beragam lebih realistis daripada aturan yang terlalu ketat.

DAMPAK JUNK FOOD TERHADAP KESEHATAN JANTUNG DAN METABOLISME

Pola makan yang terlalu sering mengandung makanan tinggi natrium, gula tambahan, dan lemak tertentu dapat berkaitan dengan berbagai faktor risiko metabolik. Dalam jangka panjang, pola makan yang tidak seimbang dapat berkontribusi terhadap masalah seperti tekanan darah tinggi, gangguan kadar lipid, dan gangguan metabolisme. Risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan satu makanan, melainkan dengan pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan.

Remaja mungkin belum langsung merasakan dampaknya karena banyak masalah metabolik berkembang secara perlahan. Namun, kebiasaan yang terbentuk pada masa remaja dapat terbawa hingga usia dewasa. Karena itu, membangun pola makan sehat sejak dini dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan jangka panjang.

Penting juga untuk memperhatikan sumber makanan secara keseluruhan. Mengurangi makanan tinggi natrium dan gula tambahan sambil meningkatkan konsumsi makanan yang kaya serat, vitamin, mineral, dan protein dapat membantu membentuk pola makan yang lebih seimbang. Aktivitas fisik dan tidur yang cukup juga merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat.

APA DAMPAK JUNK FOOD TERHADAP PENCERNAAN?

Beberapa jenis junk food memiliki kandungan serat yang relatif rendah, terutama jika dikonsumsi tanpa cukup sayur, buah, dan sumber serat lainnya. Serat dibutuhkan untuk membantu fungsi sistem pencernaan dan mendukung kesehatan saluran cerna. Ketika pola makan seseorang rendah serat, buang air besar dapat menjadi kurang teratur pada sebagian orang.

Makanan yang sangat berminyak atau dikonsumsi dalam jumlah besar juga dapat membuat sebagian orang merasa tidak nyaman pada pencernaan. Respons setiap orang dapat berbeda, sehingga tidak semua remaja akan mengalami keluhan yang sama. Selain jenis makanan, pola makan yang tidak teratur dan kurang minum juga dapat memengaruhi kondisi pencernaan.

Untuk membantu menjaga kesehatan pencernaan, remaja dapat memperbanyak sayur, buah, sumber biji-bijian, dan air putih sesuai kebutuhan tubuh. Makanan tersebut memberikan serat dan berbagai zat gizi yang tidak selalu banyak terdapat dalam makanan ultra-proses. Perubahan pola makan sebaiknya dilakukan secara bertahap agar lebih mudah dipertahankan.

APAKAH JUNK FOOD DAPAT MEMENGARUHI ENERGI DAN KONSENTRASI?

Pola makan memiliki hubungan dengan ketersediaan energi tubuh sepanjang hari. Makanan yang tinggi gula tambahan dapat memberikan energi dengan cepat, tetapi pola makan yang tidak seimbang tidak selalu memberikan rasa kenyang dan asupan zat gizi yang optimal. Jika remaja sering melewatkan makanan utama dan menggantinya dengan makanan ringan tinggi kalori, pola energinya dapat menjadi tidak teratur.

Kondisi tersebut dapat menjadi masalah bagi remaja yang membutuhkan energi untuk belajar, beraktivitas, berolahraga, dan menjalani rutinitas sehari-hari. Sarapan atau makanan utama yang seimbang dapat membantu menyediakan energi dan zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Namun, konsentrasi tidak hanya dipengaruhi makanan karena tidur, hidrasi, stres, aktivitas fisik, dan faktor lain juga berperan.

Karena itu, pola makan yang lebih seimbang dapat menjadi bagian dari kebiasaan untuk mendukung aktivitas belajar. Remaja sebaiknya tidak hanya mengandalkan makanan ringan atau minuman manis ketika merasa lelah. Pilihan makanan yang mengandung kombinasi karbohidrat, protein, serat, serta berbagai mikronutrien dapat menjadi bagian dari pola makan harian yang lebih baik.

DAMPAK JUNK FOOD TERHADAP KESEHATAN GIGI

Makanan dan minuman yang tinggi gula tambahan dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan gigi, terutama jika kebersihan mulut tidak dijaga dengan baik. Bakteri di dalam mulut dapat memanfaatkan gula dan menghasilkan asam yang berkontribusi terhadap kerusakan gigi. Frekuensi konsumsi makanan atau minuman manis juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Minuman berpemanis sering kali menjadi perhatian karena dapat dikonsumsi dengan cepat tanpa memberikan rasa kenyang seperti makanan padat. Jika dikonsumsi berkali-kali dalam sehari, gigi dapat lebih sering terpapar gula dan kondisi asam. Karena itu, kebiasaan minum air putih dan menjaga kebersihan gigi menjadi penting.

Remaja dapat mengurangi risiko dengan membatasi frekuensi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula serta menjaga kebersihan gigi secara rutin. Membaca label kandungan gula pada produk kemasan juga dapat membantu memahami apa yang dikonsumsi. Dengan kebiasaan sederhana tersebut, kesehatan gigi dapat lebih terjaga.

APA DAMPAK JUNK FOOD TERHADAP KEBIASAAN MAKAN REMAJA?

Kebiasaan makan yang terbentuk sejak remaja dapat memengaruhi pola makan ketika seseorang menjadi dewasa. Jika makanan tinggi gula, garam, atau lemak menjadi pilihan utama setiap hari, seseorang dapat semakin terbiasa dengan rasa yang kuat. Akibatnya, makanan yang lebih sederhana seperti buah, sayur, atau makanan yang minim tambahan rasa dapat terasa kurang menarik bagi sebagian orang.

Kebiasaan tersebut bukan berarti tidak dapat diubah. Preferensi makanan dapat berkembang melalui pengalaman dan paparan terhadap berbagai jenis makanan. Remaja dapat secara bertahap mencoba pilihan makanan yang lebih beragam tanpa harus menghilangkan seluruh makanan yang disukai.

Pendekatan yang lebih realistis adalah membangun pola makan seimbang, bukan menerapkan larangan yang terlalu ketat. Junk food dapat dikonsumsi sesekali dalam jumlah yang wajar, sementara sebagian besar makanan sehari-hari tetap berasal dari pilihan yang kaya zat gizi. Dengan cara ini, remaja dapat belajar mengatur makanan tanpa merasa harus menghindari semua makanan favorit.

BAGAIMANA CARA MENGURANGI KEBIASAAN MAKAN JUNK FOOD?

Mengurangi konsumsi junk food dapat dimulai dengan langkah sederhana. Remaja dapat mencoba mengganti sebagian makanan ringan dengan buah, kacang, yogurt tanpa tambahan gula berlebihan, atau makanan lain yang lebih bergizi sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing. Membawa bekal juga dapat membantu karena pilihan makanan sudah disiapkan sebelum rasa lapar muncul. Dengan begitu, keputusan makanan tidak selalu bergantung pada pilihan yang tersedia di sekitar.

Membaca label makanan juga dapat menjadi kebiasaan yang bermanfaat. Perhatikan kandungan gula, natrium, lemak, protein, serat, serta ukuran sajian. Ukuran sajian pada kemasan terkadang berbeda dari jumlah yang sebenarnya dimakan, sehingga informasi tersebut perlu diperhatikan dengan baik.

Selain itu, remaja tidak perlu mengubah pola makan secara ekstrem. Perubahan kecil seperti mengurangi minuman manis, menambah sayur, memperbanyak air putih, dan mengurangi frekuensi makanan cepat saji dapat dilakukan secara bertahap. Konsistensi lebih penting daripada perubahan yang terlalu drastis tetapi sulit dipertahankan.

PERAN ORANG TUA DAN LINGKUNGAN DALAM POLA MAKAN REMAJA

Kebiasaan makan remaja tidak hanya dipengaruhi oleh keputusan pribadi. Orang tua, keluarga, teman, sekolah, lingkungan sekitar, dan media dapat memengaruhi pilihan makanan. Ketersediaan makanan di rumah juga dapat menentukan pilihan yang mudah diambil ketika seseorang merasa lapar. Karena itu, menciptakan lingkungan yang menyediakan pilihan makanan bergizi dapat membantu remaja membangun kebiasaan yang lebih baik.

Orang tua sebaiknya tidak hanya memberikan larangan. Edukasi mengenai gizi dan kebiasaan makan dapat dilakukan dengan menjelaskan alasan di balik pilihan makanan. Mengajak remaja memilih bahan makanan, menyiapkan makanan bersama, atau memahami label nutrisi dapat membuat proses belajar menjadi lebih praktis.

Sekolah juga dapat berperan melalui edukasi gizi dan lingkungan makanan yang mendukung pilihan sehat. Informasi mengenai makanan sebaiknya diberikan dengan cara yang tidak membuat remaja merasa takut terhadap makanan tertentu. Tujuannya adalah membangun kesadaran dan kemampuan mengambil keputusan, bukan menciptakan pola makan yang terlalu membatasi.

APAKAH REMAJA HARUS BERHENTI MAKAN JUNK FOOD SEPENUHNYA?

Tidak selalu demikian. Pola makan sehat tidak harus berarti seseorang tidak boleh menikmati makanan favoritnya sama sekali. Yang lebih penting adalah memperhatikan frekuensi, porsi, kandungan gizi, dan keseimbangan pola makan secara keseluruhan. Mengonsumsi junk food sesekali berbeda dengan menjadikannya sebagai makanan utama setiap hari.

Remaja tetap membutuhkan variasi makanan untuk memenuhi kebutuhan tubuh selama masa pertumbuhan. Karena itu, makanan cepat saji atau makanan ringan sebaiknya tidak menggantikan makanan bergizi secara terus-menerus. Jika ingin mengonsumsi makanan favorit, porsinya dapat disesuaikan dan diimbangi dengan pilihan makanan lain yang kaya zat gizi.

Pendekatan seperti ini dapat membantu remaja membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan. Mereka belajar bahwa tidak ada satu makanan yang secara otomatis menentukan kesehatan seseorang. Pola makan secara keseluruhan dan kebiasaan hidup lebih penting untuk diperhatikan.

KESIMPULAN

Remaja menyukai junk food karena makanan tersebut umumnya mudah diperoleh, praktis, memiliki rasa yang menarik, dan sering dipengaruhi oleh lingkungan sosial serta pemasaran. Harga, kemudahan layanan pesan antar, kebiasaan teman, dan paparan media sosial juga dapat memengaruhi pilihan makanan. Pada masa remaja, kebutuhan gizi cukup penting karena tubuh masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan.

Jika dikonsumsi terlalu sering dalam pola makan yang tidak seimbang, junk food dapat berkontribusi terhadap berbagai masalah kesehatan, terutama ketika makanan tinggi kalori, gula, garam, atau lemak menggantikan makanan yang lebih bergizi. Dampaknya dapat berkaitan dengan berat badan, kesehatan metabolik, pencernaan, kesehatan gigi, serta kualitas pola makan. Namun, dampak kesehatan tidak ditentukan oleh satu makanan saja karena dipengaruhi oleh pola makan, aktivitas fisik, tidur, kondisi individu, dan gaya hidup secara keseluruhan.

Karena itu, remaja tidak harus menghindari semua makanan favorit secara total. Langkah yang lebih realistis adalah membangun pola makan yang beragam dan seimbang, membatasi frekuensi makanan tinggi gula atau garam, memperbanyak makanan kaya zat gizi, minum cukup air, dan tetap aktif secara fisik. Dukungan keluarga, sekolah, dan lingkungan juga penting agar kebiasaan makan sehat lebih mudah diterapkan. Jika remaja memiliki kondisi kesehatan atau kebutuhan gizi khusus, konsultasi dengan tenaga kesehatan atau ahli gizi dapat membantu menentukan pola makan yang sesuai.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya