Bagaimana Golongan Darah Ditentukan Secara Genetik?
Gusti Ayu Tita P
14 September 2026
Golongan darah merupakan salah satu karakteristik biologis yang dimiliki setiap manusia dan dapat berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Perbedaan tersebut tidak muncul secara acak, tetapi dipengaruhi oleh faktor genetik yang diwariskan dari orang tua. Sistem ABO dan faktor Rhesus menjadi bagian penting dalam menentukan karakteristik golongan darah seseorang. Karena berasal dari kombinasi gen, golongan darah anak dapat memiliki hubungan dengan golongan darah kedua orang tuanya. Memahami proses tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa anggota keluarga dapat memiliki golongan darah yang sama maupun berbeda.
APA HUBUNGAN GOLONGAN DARAH DENGAN GENETIK?
Golongan darah berkaitan erat dengan gen yang diwariskan dari orang tua. Gen tersebut memberikan instruksi kepada tubuh untuk menghasilkan karakteristik tertentu pada permukaan sel darah merah. Dalam sistem ABO, gen yang diwariskan akan menentukan apakah seseorang memiliki antigen A, antigen B, keduanya, atau tidak memiliki antigen A dan B. Kombinasi gen dari ayah dan ibu kemudian menentukan golongan darah seseorang. Karena itu, golongan darah termasuk salah satu karakteristik yang dapat diturunkan dalam keluarga.
Setiap orang menerima materi genetik dari kedua orang tuanya. Kombinasi tersebut dapat menghasilkan golongan darah yang sama dengan salah satu orang tua atau berbeda dari keduanya. Namun, hasilnya tetap mengikuti pola pewarisan gen tertentu. Golongan darah bukan sekadar hasil pemeriksaan laboratorium, tetapi merupakan karakteristik yang terbentuk berdasarkan informasi genetik dalam tubuh. Pemeriksaan darah digunakan untuk mengetahui hasil akhir karakteristik tersebut secara langsung.
BAGAIMANA GEN SISTEM ABO MENENTUKAN GOLONGAN DARAH?
Sistem ABO terutama dipengaruhi oleh gen ABO yang memiliki beberapa bentuk atau alel. Secara sederhana, alel A menghasilkan antigen A, sedangkan alel B menghasilkan antigen B. Alel O tidak menghasilkan antigen A atau B pada permukaan sel darah merah. Seseorang memperoleh satu alel dari ayah dan satu alel dari ibu. Kombinasi kedua alel tersebut kemudian menentukan golongan darah ABO.
Alel A dan B bersifat kodominan, sehingga jika seseorang mewarisi A dari satu orang tua dan B dari orang tua lainnya, keduanya dapat diekspresikan dan menghasilkan golongan darah AB. Sementara itu, alel O bersifat resesif terhadap A dan B. Seseorang dengan kombinasi OO akan memiliki golongan darah O. Pola tersebut menjelaskan mengapa golongan darah A, B, AB, dan O dapat muncul dalam sebuah keluarga.
BAGAIMANA GOLONGAN DARAH A, B, AB, DAN O DITURUNKAN?
Golongan darah A dapat terbentuk dari kombinasi gen AA atau AO, sedangkan golongan darah B dapat terbentuk dari kombinasi BB atau BO. Golongan darah AB terbentuk ketika seseorang memperoleh alel A dari satu orang tua dan alel B dari orang tua lainnya. Sementara itu, golongan darah O umumnya terbentuk dari kombinasi OO. Pola tersebut menunjukkan bahwa satu jenis golongan darah dapat memiliki lebih dari satu kemungkinan kombinasi genetik.
Sebagai contoh, orang tua dengan golongan darah A dapat memiliki anak bergolongan darah A atau O apabila kedua orang tua membawa alel O. Orang tua dengan golongan darah AB dapat memiliki anak bergolongan darah A, B, atau AB, tergantung kombinasi gen yang diwariskan. Kemungkinan golongan darah anak juga dipengaruhi oleh kombinasi gen dari kedua orang tua. Oleh karena itu, memperkirakan golongan darah anak hanya berdasarkan satu orang tua tidak cukup untuk mendapatkan hasil yang pasti.
BAGAIMANA FAKTOR RHESUS DITENTUKAN SECARA GENETIK?
Selain sistem ABO, faktor Rhesus atau Rh juga memiliki dasar genetik. Salah satu bagian yang paling penting adalah keberadaan antigen D pada permukaan sel darah merah. Seseorang yang memiliki antigen D biasanya dikategorikan sebagai Rh positif, sedangkan yang tidak memiliki antigen D dikategorikan sebagai Rh negatif. Karakteristik tersebut juga berkaitan dengan gen yang diwariskan dari orang tua.
Pewarisan faktor Rh lebih kompleks jika dijelaskan secara lengkap karena melibatkan beberapa gen. Namun, secara sederhana, keberadaan variasi gen tertentu dapat menyebabkan seseorang memiliki antigen RhD. Jika seseorang memiliki karakteristik Rh positif, status tersebut dapat diwariskan kepada anak sesuai kombinasi gen dari kedua orang tua. Karena itu, golongan darah lengkap, seperti A positif atau O negatif, merupakan hasil dari sistem ABO dan faktor Rh yang ditentukan secara terpisah tetapi digunakan bersama.
APAKAH GOLONGAN DARAH ANAK HARUS SAMA DENGAN ORANG TUANYA?
Tidak, golongan darah anak tidak harus sama dengan golongan darah salah satu orang tua. Anak dapat memiliki golongan darah yang berbeda karena memperoleh kombinasi alel dari ayah dan ibu. Misalnya, dua orang tua dengan golongan darah A yang membawa alel O dapat memiliki anak dengan golongan darah O. Hal ini terjadi karena anak menerima satu alel dari masing-masing orang tua.
Namun, terdapat pola tertentu yang membuat beberapa kombinasi golongan darah tidak mungkin terjadi dalam sistem ABO sederhana. Misalnya, orang tua dengan golongan darah O hanya dapat memberikan alel O kepada anak. Sementara itu, orang tua dengan golongan darah AB tidak memiliki alel O untuk diwariskan. Pola pewarisan genetik inilah yang membuat hubungan antara golongan darah orang tua dan anak dapat dipelajari secara ilmiah. Meskipun demikian, pemeriksaan darah tetap diperlukan untuk mengetahui golongan darah seseorang dengan pasti.
MENGAPA MENGETAHUI PEWARISAN GOLONGAN DARAH PENTING?
Memahami pewarisan golongan darah dapat membantu seseorang mengetahui bahwa karakteristik darah memiliki dasar genetik dan biologis. Informasi ini juga dapat digunakan sebagai pengetahuan dasar dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Dalam keluarga, pola golongan darah dapat membantu menjelaskan mengapa anak memiliki golongan darah tertentu. Namun, perkiraan berdasarkan riwayat keluarga tidak dapat menggantikan pemeriksaan laboratorium.
Pengetahuan mengenai genetik golongan darah juga penting dalam konteks medis tertentu. Sistem ABO dan Rh perlu diketahui terutama ketika seseorang membutuhkan transfusi darah atau ketika faktor Rh diperhatikan selama kehamilan. Tenaga kesehatan menggunakan hasil pemeriksaan darah, bukan hanya perkiraan berdasarkan golongan darah orang tua. Dengan demikian, informasi genetik menjadi bagian dari pemahaman, sedangkan pemeriksaan tetap menjadi dasar untuk memastikan status golongan darah.
APAKAH PEMERIKSAAN DARAH TETAP DIPERLUKAN?
Meskipun golongan darah ditentukan secara genetik, tes golongan darah tetap diperlukan untuk mengetahui status seseorang secara langsung. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan sampel darah dan dapat menentukan golongan ABO serta faktor Rh. Hasil pemeriksaan memberikan informasi yang lebih akurat dibandingkan perkiraan berdasarkan golongan darah orang tua. Hal ini sangat penting sebelum tindakan medis yang membutuhkan informasi golongan darah.
Pemeriksaan juga menjadi bagian penting dalam memastikan kecocokan transfusi darah. Dalam kondisi tertentu, tenaga kesehatan dapat melakukan pemeriksaan tambahan untuk mengetahui keberadaan antibodi atau memastikan kecocokan antara donor dan penerima. Jadi, mengetahui pola pewarisan golongan darah merupakan pengetahuan yang bermanfaat, tetapi tidak boleh digunakan sebagai pengganti pemeriksaan medis. Dengan pemeriksaan yang tepat, informasi golongan darah dapat digunakan secara aman dalam berbagai kebutuhan kesehatan.
KESIMPULAN
Golongan darah ditentukan oleh faktor genetik yang diwariskan dari kedua orang tua. Sistem ABO dipengaruhi oleh kombinasi alel A, B, dan O, sedangkan faktor Rhesus terutama berkaitan dengan keberadaan antigen RhD. Kombinasi gen tersebut dapat membuat anak memiliki golongan darah yang sama atau berbeda dari orang tuanya. Meskipun pola pewarisan dapat dipelajari, pemeriksaan darah tetap menjadi cara yang tepat untuk mengetahui golongan darah seseorang. Pemahaman mengenai faktor genetik golongan darah juga penting dalam konteks transfusi, kehamilan, dan pengetahuan kesehatan secara umum.
Tentang Penulis
Gusti Ayu Tita P
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.