Bagaimana Membangun Keterampilan Menghadapi Kritik pada Anak?
Gusti Ayu Tita P
31 Juli 2025
Keterampilan menghadapi kritik pada anak merupakan kemampuan penting yang dapat membantu anak belajar dari kesalahan dan memahami sudut pandang orang lain. Kritik yang disampaikan dengan cara yang tepat dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk memperbaiki perilaku atau kemampuannya. Namun, sebagian anak mungkin merasa sedih, malu, marah, atau kehilangan percaya diri ketika menerima kritik. Karena itu, orang tua perlu mengajarkan bahwa kritik tidak selalu berarti penolakan atau tanda bahwa anak tidak mampu. Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat belajar menerima masukan dengan lebih tenang dan menggunakannya untuk berkembang.
MENGAJARKAN PERBEDAAN KRITIK DAN CELAAN
Langkah pertama adalah membantu anak memahami bahwa kritik dan celaan merupakan hal yang berbeda. Kritik yang membangun berfokus pada perilaku atau hasil tertentu dan memberikan arahan untuk melakukan perbaikan. Sebaliknya, celaan dapat menyerang pribadi anak dengan memberikan label negatif tanpa membantu menunjukkan solusi. Anak perlu mengetahui bahwa melakukan kesalahan tidak membuat dirinya menjadi anak yang buruk. Pemahaman ini dapat membantu anak menerima masukan tanpa langsung merasa bahwa dirinya tidak berharga.
Orang tua dapat memberikan contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, daripada mengatakan anak ceroboh, orang tua dapat menjelaskan bahwa barang yang digunakan perlu dikembalikan ke tempatnya agar tidak mudah hilang. Cara tersebut membuat anak memahami perilaku yang perlu diperbaiki, bukan merasa dirinya sebagai sumber masalah. Kebiasaan ini juga membantu anak belajar memberikan masukan kepada orang lain dengan cara yang lebih baik.
MENJADI CONTOH DALAM MENERIMA KRITIK
Anak banyak belajar dari perilaku orang tua dan orang dewasa di sekitarnya. Ketika orang tua mampu menerima masukan dengan tenang, anak dapat melihat contoh bagaimana seseorang menghadapi kritik tanpa langsung marah atau menyerah. Orang tua dapat menunjukkan bahwa mengakui kesalahan bukan berarti lemah. Mereka juga dapat mengatakan bahwa masukan dari orang lain bisa digunakan untuk memperbaiki sesuatu. Contoh nyata seperti ini dapat membantu anak memahami bahwa kritik merupakan bagian dari proses belajar.
Orang tua juga perlu menghindari reaksi berlebihan ketika mendapatkan masukan di depan anak. Jika anak melihat bahwa setiap kritik selalu dibalas dengan kemarahan, ia mungkin menganggap kritik sebagai sesuatu yang harus ditolak. Sebaliknya, sikap terbuka dapat mengajarkan kemampuan mengelola emosi saat menghadapi pendapat yang berbeda. Dari kebiasaan tersebut, anak perlahan dapat belajar merespons kritik dengan lebih sehat.
MEMBERIKAN KRITIK DENGAN CARA YANG TEPAT
Cara menyampaikan kritik sangat memengaruhi bagaimana anak menerimanya. Orang tua sebaiknya menyampaikan kritik secara spesifik, tenang, dan berfokus pada perilaku, bukan menyerang kepribadian anak. Hindari kata-kata yang memberikan label seperti malas, bodoh, atau nakal. Jelaskan apa yang terjadi, mengapa hal tersebut perlu diperbaiki, dan apa yang dapat dilakukan berikutnya. Pendekatan seperti ini membuat kritik terasa sebagai arahan, bukan serangan terhadap diri anak.
Waktu dan situasi juga perlu diperhatikan ketika memberikan masukan. Jika anak sedang sangat marah atau menangis, orang tua dapat membantu menenangkan emosinya terlebih dahulu sebelum membicarakan kesalahan. Setelah kondisi lebih tenang, pembicaraan dapat dilakukan dengan bahasa yang sederhana sesuai usia anak. Dengan begitu, anak memiliki kesempatan untuk mendengarkan, memahami, dan memproses masukan dengan lebih baik.
MENGAJARKAN ANAK MENDENGARKAN MASUKAN
Anak dapat dilatih untuk mendengarkan kritik sebelum memberikan respons. Orang tua dapat mengajarkan kebiasaan sederhana seperti berhenti sejenak, mendengarkan sampai selesai, lalu memikirkan apakah masukan tersebut memang dapat membantu. Anak juga dapat diajarkan untuk bertanya jika belum memahami maksud orang yang memberikan kritik. Kemampuan tersebut membantu anak mengembangkan komunikasi yang sehat dan tidak langsung bereaksi berdasarkan emosi. Seiring waktu, anak akan semakin terbiasa menghadapi pendapat yang berbeda.
Namun, mendengarkan bukan berarti anak harus menerima semua kritik begitu saja. Orang tua dapat menjelaskan bahwa anak tetap boleh mengatakan tidak setuju dengan cara yang sopan. Anak juga perlu memahami bahwa jika mendapatkan perlakuan yang menghina atau menyakitkan, ia dapat mencari bantuan dari orang dewasa yang dipercaya. Dengan demikian, anak belajar membedakan antara masukan yang bermanfaat dan perlakuan yang tidak pantas.
MEMBANTU ANAK MENGELOLA EMOSI
Kritik dapat memunculkan berbagai emosi pada anak, seperti kecewa, malu, sedih, atau marah. Orang tua sebaiknya tidak langsung meminta anak berhenti merasa demikian, tetapi membantu anak mengenali dan menamai emosinya. Misalnya, orang tua dapat mengatakan bahwa wajar jika anak merasa kecewa setelah mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan. Setelah emosi mulai lebih tenang, orang tua dapat mengajak anak membahas isi kritik tersebut. Cara ini membantu anak belajar bahwa emosi dapat dirasakan tanpa harus langsung bertindak secara impulsif.
Latihan sederhana juga dapat membantu anak mengatur emosinya. Anak dapat diajarkan menarik napas perlahan, mengambil waktu sejenak, atau berbicara kepada orang yang dipercaya ketika merasa terlalu tertekan. Kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari keterampilan mengelola emosi yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. Anak tidak harus selalu merasa nyaman ketika menerima kritik, tetapi dapat belajar memilih respons yang lebih tepat.
MEMBERIKAN KESEMPATAN UNTUK MEMPERBAIKI KESALAHAN
Setelah menerima kritik, anak membutuhkan kesempatan untuk melakukan perbaikan. Orang tua dapat mengajak anak mencari solusi dan menentukan langkah sederhana yang bisa dilakukan. Misalnya, jika anak mendapatkan masukan karena tidak menyelesaikan tugas, orang tua dapat membantu membuat jadwal agar tugas berikutnya dapat dikerjakan lebih teratur. Pendekatan tersebut membuat anak memahami bahwa kesalahan dapat menjadi bahan pembelajaran. Anak juga belajar bahwa mendapatkan kritik bukanlah akhir dari suatu usaha.
Orang tua sebaiknya tidak terus mengingatkan kesalahan yang sama setelah anak berusaha memperbaikinya. Berikan penghargaan terhadap kemajuan yang telah dilakukan, meskipun hasilnya belum sempurna. Dukungan seperti ini dapat membantu menjaga rasa percaya diri anak sekaligus mendorongnya untuk terus belajar. Dengan keseimbangan antara arahan dan dukungan, anak dapat menjadi lebih terbuka terhadap masukan.
MEMBANGUN LINGKUNGAN YANG AMAN UNTUK BERBICARA
Anak akan lebih mudah belajar menghadapi kritik jika merasa aman untuk mengungkapkan perasaan dan pendapatnya. Orang tua dapat membangun kebiasaan berdiskusi tanpa langsung menghakimi ketika anak melakukan kesalahan. Anak perlu mengetahui bahwa ia dapat mengatakan merasa sedih, marah, atau tidak setuju tanpa takut dipermalukan. Komunikasi terbuka dalam keluarga dapat membantu anak memahami berbagai situasi dengan lebih baik. Lingkungan yang aman juga membuat anak lebih berani meminta bantuan ketika menghadapi masalah.
Selain keluarga, lingkungan sekolah dan pergaulan juga dapat memengaruhi cara anak menerima kritik. Orang tua dapat mengajarkan anak untuk mencari orang dewasa yang dapat dipercaya jika kritik berubah menjadi penghinaan, perundungan, atau perlakuan yang membuatnya merasa tidak aman. Dengan dukungan yang konsisten, anak dapat belajar menghadapi masukan sekaligus menjaga batasan dirinya. Keterampilan tersebut akan berguna ketika anak berinteraksi dengan berbagai orang di masa depan.
KESIMPULAN
Mengajarkan anak menghadapi kritik membutuhkan proses yang dilakukan secara bertahap dan sesuai dengan usia serta kemampuan anak. Orang tua dapat memulainya dengan mengajarkan perbedaan antara kritik yang membangun dan celaan, kemudian memberikan contoh cara menerima masukan dengan tenang. Kritik sebaiknya disampaikan secara spesifik dan berfokus pada perilaku yang perlu diperbaiki, bukan menyerang pribadi anak. Anak juga perlu dibantu untuk mengenali emosi, mendengarkan masukan, dan mencari solusi setelah melakukan kesalahan. Dengan dukungan, komunikasi terbuka, dan lingkungan yang aman, anak dapat tumbuhkan menjadi pribadi yang lebih terbuka terhadap masukan tanpa kehilangan rasa percaya dirinya.
Tentang Penulis
Gusti Ayu Tita P
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.