Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 11 dibaca

Bagaimana Toxic Positivity Terjadi dalam Pertemanan dan Hubungan Sosial?

G

Gusti Ayu Tita P

11 September 2026

Bagikan:
Bagaimana Toxic Positivity Terjadi dalam Pertemanan dan Hubungan Sosial?

Pertemanan dan hubungan sosial seharusnya menjadi tempat seseorang merasa nyaman untuk berbagi cerita dan mendapatkan dukungan. Namun, dalam beberapa situasi, dukungan yang diberikan justru dapat berubah menjadi toxic positivity. Kondisi ini terjadi ketika seseorang terlalu memaksakan pandangan positif hingga mengabaikan perasaan atau masalah yang sedang dihadapi orang lain. Jika terus terjadi, pola komunikasi tersebut dapat membuat seseorang merasa tidak didengar dan enggan terbuka.

TOXIC POSITIVITY SERING MUNCUL SAAT MEMBERIKAN NASIHAT

Toxic positivity dapat muncul ketika seseorang memberikan nasihat dengan tujuan membuat temannya segera berhenti merasa sedih. Kalimat seperti jangan sedih, harus tetap bersyukur, atau berpikir positif saja mungkin terdengar sederhana dan penuh perhatian. Namun, kalimat tersebut dapat terasa kurang tepat jika diberikan tanpa memahami masalah yang sedang dihadapi. Orang yang sedang bercerita terkadang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan terlebih dahulu, bukan langsung mendapatkan nasihat.

Nasihat yang terlalu cepat juga dapat membuat seseorang merasa emosinya tidak valid. Padahal, setiap orang memiliki cara dan waktu yang berbeda dalam menghadapi masalah. Memberikan kesempatan untuk bercerita dapat membuat hubungan menjadi lebih terbuka. Setelah perasaan didengarkan, barulah dukungan atau saran dapat diberikan sesuai kebutuhan.

MEMBANDINGKAN MASALAH DENGAN PENGALAMAN ORANG LAIN

Bentuk toxic positivity lainnya adalah membandingkan masalah seseorang dengan kondisi orang lain. Contohnya adalah mengatakan bahwa masalah yang dihadapi sebenarnya tidak seberapa karena masih banyak orang yang memiliki masalah lebih berat. Pernyataan seperti ini dapat membuat seseorang merasa tidak berhak mengeluhkan keadaan yang dialaminya. Padahal, setiap orang dapat merasakan tekanan secara berbeda meskipun menghadapi situasi yang tidak sama.

Perbandingan tersebut juga tidak selalu membantu seseorang menemukan solusi. Alih-alih merasa lebih baik, seseorang justru dapat merasa bersalah karena menganggap dirinya terlalu banyak mengeluh. Dalam hubungan sosial yang sehat, pengalaman orang lain sebaiknya tidak digunakan untuk mengecilkan perasaan seseorang. Setiap cerita perlu didengarkan berdasarkan konteks dan pengalaman orang yang mengalaminya.

MEMAKSA TEMAN UNTUK SELALU TERLIHAT KUAT

Dalam pertemanan, seseorang terkadang dianggap harus selalu kuat ketika menghadapi masalah. Kalimat seperti kamu harus kuat atau jangan menunjukkan kelemahan dapat membuat seseorang merasa tidak memiliki ruang untuk menunjukkan emosi. Padahal, menangis, kecewa, takut, atau merasa lelah merupakan hal yang dapat terjadi ketika seseorang menghadapi tekanan. Menjadi kuat bukan berarti harus menyembunyikan semua perasaan.

Tekanan untuk selalu terlihat baik juga dapat membuat seseorang memilih memendam masalah. Jika berlangsung terus-menerus, komunikasi dalam pertemanan dapat menjadi kurang terbuka. Teman yang baik seharusnya memberikan ruang untuk menunjukkan kondisi sebenarnya tanpa takut dihakimi. Dukungan semacam ini dapat membantu seseorang merasa lebih aman dalam menjalani masa sulit.

MENGABAIKAN CERITA KARENA INGIN SEGERA MELIHAT SISI POSITIF

Toxic positivity juga dapat terjadi ketika seseorang terlalu cepat mengarahkan pembicaraan kepada sisi positif dari sebuah masalah. Misalnya, ketika teman menceritakan kegagalan, respons yang langsung diberikan adalah setidaknya kamu sudah mencoba atau pasti ada hikmahnya. Kalimat tersebut memang dapat memiliki maksud baik, tetapi bisa terasa kurang empatik jika diberikan sebelum mengakui kekecewaan yang dirasakan. Seseorang membutuhkan kesempatan untuk menerima kenyataan sebelum mencari sisi positifnya.

Dukungan yang lebih baik dapat dimulai dengan mengakui perasaan tersebut. Kita dapat mengatakan bahwa situasi yang dihadapi memang sulit dan wajar jika seseorang merasa kecewa. Setelah itu, pembicaraan dapat diarahkan secara perlahan pada pilihan atau harapan yang tersedia. Dengan cara tersebut, sikap positif diberikan tanpa menghapus pengalaman emosional seseorang.

DAMPAK TOXIC POSITIVITY TERHADAP HUBUNGAN SOSIAL

Toxic positivity yang terjadi berulang kali dapat membuat seseorang merasa tidak dipahami oleh teman atau orang terdekat. Ia mungkin mulai menghindari percakapan tentang masalah pribadi karena khawatir mendapatkan respons yang sama. Akibatnya, komunikasi dapat menjadi lebih tertutup dan hubungan emosional perlahan menjauh. Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan dapat memilih menyimpan masalahnya sendiri.

Hubungan sosial yang sehat membutuhkan rasa aman untuk menyampaikan berbagai jenis emosi. Tidak semua percakapan harus berisi hal yang menyenangkan karena kehidupan juga memiliki masalah dan kegagalan. Ketika seseorang merasa didengarkan tanpa dihakimi, kepercayaan dalam hubungan dapat tumbuh. Oleh karena itu, penting menghindari kebiasaan yang membuat orang lain merasa harus selalu terlihat baik.

CARA MEMBERIKAN DUKUNGAN TANPA TOXIC POSITIVITY

Memberikan dukungan yang sehat dapat dimulai dengan menjadi pendengar yang baik. Dengarkan cerita tanpa langsung menyela, menghakimi, atau memberikan solusi sebelum memahami situasinya. Tunjukkan empati dengan mengakui bahwa perasaan yang muncul merupakan sesuatu yang dapat dipahami. Setelah itu, tanyakan apakah orang tersebut ingin didengarkan saja atau membutuhkan saran.

Dukungan juga dapat diberikan melalui tindakan sederhana, seperti menemani, membantu menyelesaikan hal tertentu, atau sekadar menanyakan kabar. Tidak perlu selalu mencari kalimat yang sempurna untuk membuat seseorang merasa lebih baik. Kehadiran dan perhatian yang tulus sering kali lebih berarti daripada nasihat yang terlalu cepat. Dengan pendekatan tersebut, hubungan sosial dapat menjadi tempat yang lebih aman untuk berbagi.

MEMBANGUN HUBUNGAN SOSIAL YANG LEBIH EMPATIK

Hubungan yang sehat tidak menuntut seseorang untuk selalu bahagia atau berpikir positif. Setiap orang perlu memiliki ruang untuk merasakan berbagai emosi tanpa takut dianggap lemah. Empati dapat membantu seseorang memahami bahwa setiap masalah memiliki dampak yang berbeda bagi setiap individu. Dengan memahami perasaan orang lain, komunikasi dapat menjadi lebih terbuka dan saling menghargai.

Sikap positif tetap dapat diberikan, tetapi sebaiknya muncul setelah perasaan seseorang diakui. Memberikan harapan tidak harus dilakukan dengan menyangkal masalah yang sedang terjadi. Kita dapat membantu seseorang melihat pilihan yang tersedia sambil tetap menghargai emosinya. Dengan keseimbangan tersebut, dukungan dalam pertemanan dan hubungan sosial dapat terasa lebih tulus dan bermanfaat.

KESIMPULAN

Toxic positivity dalam pertemanan dan hubungan sosial dapat terjadi ketika seseorang terlalu memaksakan sikap positif hingga mengabaikan perasaan orang lain. Kondisi ini dapat muncul melalui nasihat yang terlalu cepat, perbandingan masalah, tuntutan untuk selalu kuat, atau kebiasaan mengabaikan emosi negatif. Jika dibiarkan, toxic positivity dapat membuat seseorang merasa tidak dipahami dan memilih menutup diri. Karena itu, penting membangun komunikasi yang lebih empatik dengan mendengarkan, memahami, dan memberikan dukungan sesuai kebutuhan.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya