Bangga Ikut Tren, Lupa Akar Budaya Realita Generasi Muda Hari Ini
Gusti Ayu Tita P
8 Januari 2026
PENDAHULUAN
Generasi muda saat ini tumbuh di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat. Media sosial menghadirkan berbagai tren global yang mudah diakses dan ditiru, mulai dari gaya berpakaian, musik, hingga cara berkomunikasi. Mengikuti tren sering dianggap sebagai simbol eksistensi dan keterbukaan terhadap dunia modern. Namun, di balik kebanggaan ikut arus global tersebut, muncul fenomena lain yang tak kalah penting untuk disoroti: semakin jauhnya generasi muda dari akar budaya mereka sendiri.
TREN GLOBAL SEBAGAI SIMBOL EKSISTENSI
Bagi banyak anak muda, mengikuti tren bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk pengakuan sosial. Apa yang viral di media sosial sering menjadi standar pergaulan dan identitas. Tren global hadir dengan citra modern, cepat berubah, dan dianggap lebih relevan dengan gaya hidup masa kini. Sayangnya, budaya lokal jarang mendapatkan ruang yang sama. Ketika tren asing lebih sering muncul di linimasa, budaya sendiri perlahan tersisih dari perhatian.
AKAR BUDAYA YANG MULAI TERLUPAKAN
Akar budaya mencakup bahasa daerah, tradisi, kesenian, hingga nilai-nilai lokal yang diwariskan turun-temurun. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, unsur-unsur ini semakin jarang digunakan. Banyak generasi muda yang lebih fasih menggunakan istilah asing dibandingkan bahasa daerahnya sendiri. Jika kondisi ini terus berlanjut, budaya lokal berisiko hanya dikenal sebagai pengetahuan, bukan lagi sebagai identitas yang hidup dan dijalani.
PERAN MEDIA SOSIAL DALAM MEMBENTUK SELERA
Media sosial berperan besar dalam membentuk selera dan pola pikir generasi muda. Algoritma platform digital cenderung mengutamakan konten yang sedang populer secara global, sehingga budaya lokal kalah bersaing dalam hal visibilitas. Tanpa strategi promosi yang kreatif, budaya lokal sulit menembus arus konten viral. Akibatnya, generasi muda lebih terpapar budaya luar daripada warisan budayanya sendiri.
ANTARA ADAPTASI DAN KEHILANGAN IDENTITAS
Mengikuti tren global bukanlah hal yang sepenuhnya negatif. Adaptasi budaya adalah bagian dari dinamika masyarakat modern. Namun, adaptasi tanpa kesadaran dapat berujung pada hilangnya identitas. Generasi muda perlu memiliki keseimbangan antara keterbukaan terhadap budaya global dan pemahaman terhadap budaya lokal. Tanpa keseimbangan ini, kebanggaan terhadap budaya sendiri akan semakin memudar.
TANTANGAN PENDIDIKAN BUDAYA DI ERA MODERN
Pendidikan budaya sering kali masih disampaikan secara teoritis dan kurang kontekstual. Akibatnya, budaya lokal terasa jauh dari kehidupan nyata generasi muda. Padahal, pendekatan yang lebih kreatif dan partisipatif dapat membuat budaya terasa lebih dekat dan relevan. Sekolah dan komunitas memiliki peran penting dalam menjembatani tradisi dengan realitas kehidupan modern.
MEMBANGUN KEBANGGAAN TANPA MENOLAK PERUBAHAN
Menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya lokal tidak berarti menutup diri dari tren global. Justru, budaya lokal dapat berkembang melalui inovasi dan kolaborasi. Ketika budaya lokal dihadirkan dalam format yang sesuai dengan selera generasi muda, peluang untuk kembali diminati akan semakin besar. Kebanggaan sejati bukan hanya ikut tren, tetapi juga mengenal dan menghargai akar budaya sendiri.
KESIMPULAN
Fenomena bangga ikut tren global sambil melupakan akar budaya adalah realita yang perlu disikapi secara bijak. Generasi muda berada di posisi strategis untuk menentukan arah identitas budaya di masa depan. Dengan kesadaran, pendidikan, dan kreativitas, mengikuti tren dan menjaga budaya lokal bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan untuk membentuk generasi yang modern sekaligus berakar kuat pada jati diri bangsa.
Tentang Penulis
Gusti Ayu Tita P
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.