Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 30 dibaca

Budaya Sendiri Kian Terpinggirkan, Mengapa Tren Asing Lebih Diminati?

G

Gusti Ayu Tita P

8 Januari 2026

Bagikan:
Budaya Sendiri Kian Terpinggirkan, Mengapa Tren Asing Lebih Diminati?

 

Di era globalisasi dan digitalisasi seperti sekarang, arus informasi bergerak sangat cepat tanpa mengenal batas wilayah. Berbagai tren dari luar negeri dengan mudah masuk ke kehidupan masyarakat Indonesia, terutama melalui media sosial. Mulai dari gaya berpakaian, musik, bahasa, hingga gaya hidup, tren asing semakin mendominasi ruang publik. Sayangnya, kondisi ini membuat budaya lokal perlahan kehilangan tempat di hati generasi muda. Budaya sendiri kian terpinggirkan, sementara tren asing justru lebih diminati dan dianggap lebih relevan dengan zaman.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan selera, tetapi juga menjadi tanda adanya pergeseran identitas budaya yang perlu disadari bersama. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin budaya lokal hanya akan menjadi simbol sejarah tanpa lagi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

ARUS GLOBALISASI DAN PENGARUH MEDIA SOSIAL

Globalisasi membawa banyak dampak positif, seperti kemudahan akses informasi dan keterbukaan terhadap budaya dunia. Namun, di sisi lain, globalisasi juga mempercepat masuknya budaya asing ke dalam kehidupan masyarakat lokal. Media sosial menjadi pintu utama penyebaran tren asing, karena konten dari berbagai negara dapat diakses hanya dengan satu kali scroll.

Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube sering menampilkan tren luar negeri yang dikemas secara menarik, modern, dan viral. Tanpa disadari, hal ini membentuk pola konsumsi budaya baru, di mana sesuatu yang berasal dari luar dianggap lebih keren, kekinian, dan layak ditiru. Sementara itu, budaya lokal jarang mendapat ruang promosi yang sama besar, sehingga terlihat kalah pamor di mata generasi muda.

PERGESERAN MINAT GENERASI MUDA TERHADAP BUDAYA LOKAL

Generasi muda memiliki peran besar dalam menentukan keberlangsungan budaya. Namun, kenyataannya, banyak anak muda yang lebih akrab dengan tren asing dibandingkan tradisi daerahnya sendiri. Mereka mungkin hafal tarian viral dari luar negeri, tetapi tidak mengenal tarian tradisional daerah asalnya. Kondisi ini menunjukkan adanya jarak antara generasi muda dan akar budayanya.

Salah satu penyebabnya adalah anggapan bahwa budaya lokal itu kuno, ketinggalan zaman, dan kurang relevan dengan kehidupan modern. Padahal, budaya lokal sejatinya memiliki nilai filosofis, sejarah, dan identitas yang kuat. Kurangnya inovasi dan pengemasan yang menarik membuat budaya lokal sulit bersaing dengan tren asing yang terus berkembang.

BUDAYA LOKAL KALAH DALAM KOMPETISI POPULARITAS

Tren asing sering kali hadir dengan visual menarik, konsep modern, serta dukungan industri kreatif yang kuat. Hal ini membuat budaya asing lebih mudah diterima dan cepat menyebar. Sebaliknya, budaya lokal masih sering diposisikan hanya sebagai warisan atau simbol formal dalam acara tertentu, bukan sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.

Ketika budaya lokal tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, ia akan semakin terpinggirkan. Bukan karena kurang bernilai, melainkan karena kalah bersaing dalam hal eksposur dan popularitas. Akibatnya, masyarakat lebih memilih mengikuti tren asing yang dianggap lebih praktis dan sesuai dengan selera masa kini.

DAMPAK HILANGNYA EKSISTENSI BUDAYA LOKAL

Memudarnya budaya lokal bukanlah masalah sepele. Budaya merupakan identitas suatu bangsa. Jika budaya lokal terus ditinggalkan, maka identitas bangsa pun ikut melemah. Generasi muda bisa kehilangan rasa memiliki terhadap tanah kelahirannya, sehingga muncul sikap apatis terhadap nilai-nilai lokal.

Selain itu, hilangnya budaya lokal juga berdampak pada keberlanjutan tradisi dan kearifan lokal. Nilai-nilai seperti gotong royong, sopan santun, dan kebersamaan yang terkandung dalam budaya lokal berpotensi tergeser oleh budaya individualistik yang sering melekat pada tren global.

UPAYA MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA LOKAL DI ERA MODERN

Menghadapi tantangan ini, diperlukan peran aktif dari berbagai pihak. Budaya lokal tidak harus dipertentangkan dengan tren asing, tetapi perlu dikemas secara kreatif agar relevan dengan generasi masa kini. Inovasi menjadi kunci agar budaya lokal bisa tampil menarik tanpa kehilangan jati dirinya.

Generasi muda dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi budaya lokal. Konten kreatif, kolaborasi modern, serta pengemasan visual yang menarik dapat membantu budaya lokal kembali mendapat perhatian. Selain itu, pendidikan budaya sejak dini juga penting untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan sendiri.

Pemerintah, komunitas budaya, dan pelaku industri kreatif juga memiliki peran besar dalam memberikan ruang dan dukungan bagi budaya lokal agar tetap hidup dan berkembang di tengah arus globalisasi.

KESIMPULAN

Tren asing tidak selalu membawa dampak negatif, selama masyarakat mampu bersikap selektif dan tetap menjunjung nilai budaya lokal. Menjadi modern bukan berarti harus meninggalkan identitas sendiri. Justru, kekuatan suatu bangsa terletak pada kemampuannya mempertahankan budaya lokal sambil beradaptasi dengan perubahan zaman.

Dengan kesadaran kolektif dan upaya bersama, budaya lokal tidak akan sekadar menjadi kenangan masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai bagian dari kehidupan modern. Melestarikan budaya sendiri bukan berarti menutup diri dari dunia luar, melainkan menjaga jati diri agar tidak larut dalam arus global yang terus mengalir.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya