Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 19 dibaca

Ketika Mahasiswa Mulai Acuh Alarm Bahaya bagi Budaya Solidaritas

G

Gusti Ayu Tita P

30 Januari 2026

Bagikan:
Ketika Mahasiswa Mulai Acuh Alarm Bahaya bagi Budaya Solidaritas

Mahasiswa sering disebut sebagai tulang punggung perubahan sosial. Dari ruang kelas hingga jalanan, mereka dikenal aktif menyuarakan keadilan, membantu sesama, dan membangun gerakan kolektif. Namun belakangan, muncul fenomena yang cukup mengkhawatirkan: sikap acuh tak acuh semakin terasa di lingkungan kampus.

Banyak mahasiswa datang ke kelas, mengerjakan tugas, lalu pulang tanpa interaksi berarti. Kegiatan sosial sepi peminat, diskusi makin jarang, dan kerja sama terasa sekadar formalitas. Jika kondisi ini terus dibiarkan, solidaritas yang dulu menjadi ciri khas mahasiswa bisa perlahan memudar.

Apakah ini hanya perubahan zaman, atau justru alarm bahaya bagi budaya kebersamaan di kampus?

PERGESERAN SIKAP MAHASISWA DI ERA SERBA DIGITAL

Perkembangan teknologi memberi kemudahan luar biasa dalam kehidupan akademik. Materi kuliah bisa diakses online, tugas dikumpulkan lewat platform digital, dan komunikasi cukup melalui pesan singkat. Semua menjadi cepat dan praktis.

Namun kemudahan ini juga mengurangi interaksi langsung. Mahasiswa tidak lagi banyak berdiskusi tatap muka atau menghabiskan waktu bersama di kampus. Akibatnya, kedekatan emosional antarindividu semakin berkurang.

Lambat laun, muncul kebiasaan mengerjakan segala sesuatu sendirian. Tanpa disadari, budaya kolektif bergeser menjadi budaya individual.

TANDA-TANDA SIKAP ACUH MULAI TERLIHAT

Sikap acuh tidak selalu terlihat jelas, tetapi bisa dikenali dari kebiasaan sehari-hari. Misalnya, enggan membantu teman yang kesulitan, tidak peduli pada kegiatan organisasi, atau memilih diam saat ada masalah di sekitar.

Beberapa tanda lainnya antara lain:

  1. Jarang berpartisipasi dalam kegiatan kampus
  2. Minim komunikasi dengan teman sekelas
  3. Kurang empati terhadap kesulitan orang lain
  4. Fokus berlebihan pada kepentingan pribadi
  5. Jika sikap ini dianggap normal, rasa kebersamaan akan semakin sulit tumbuh.

Padahal, kampus seharusnya menjadi tempat belajar hidup bermasyarakat, bukan hanya mengejar nilai.

DAMPAK MENURUNNYA SOLIDARITAS BAGI LINGKUNGAN KAMPUS

Menurunnya solidaritas membawa dampak nyata bagi kehidupan mahasiswa. Lingkungan akademik terasa kaku, kerja kelompok tidak efektif, dan banyak mahasiswa merasa sendirian menghadapi tekanan kuliah.

Selain itu, kurangnya dukungan sosial dapat memicu stres dan menurunkan motivasi belajar. Tanpa teman berbagi, masalah kecil bisa terasa lebih berat.

Dalam jangka panjang, mahasiswa juga kehilangan kesempatan membangun relasi dan jaringan yang sebenarnya sangat penting untuk masa depan karier.

Singkatnya, ketika solidaritas melemah, kualitas pengalaman kuliah ikut menurun.

SOLIDARITAS SEBAGAI FONDASI KARAKTER MAHASISWA

Solidaritas bukan sekadar membantu teman meminjam catatan atau mengerjakan tugas bersama. Lebih dari itu, solidaritas membentuk karakter empati, tanggung jawab sosial, dan kemampuan bekerja sama.

Nilai-nilai ini justru sangat dibutuhkan di dunia kerja dan kehidupan nyata. Perusahaan maupun masyarakat membutuhkan individu yang mampu berkolaborasi, bukan berjalan sendiri.

Karena itu, menjaga kepedulian sosial di kampus sama artinya dengan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang matang secara emosional dan profesional.

LANGKAH SEDERHANA MEMBANGUN KEPEDULIAN KEMBALI

Menghidupkan kembali budaya solidaritas tidak harus dimulai dari gerakan besar. Perubahan kecil yang konsisten sudah cukup memberi dampak.

Mahasiswa dapat memulai dengan menyapa teman, aktif berdiskusi, membantu saat ada yang kesulitan, serta ikut organisasi atau kegiatan sosial. Kebiasaan sederhana ini mampu menciptakan rasa saling memiliki.

Ketika satu orang peduli, yang lain akan ikut tergerak. Dari situlah budaya kebersamaan perlahan tumbuh kembali.

KESIMPULAN

Sikap acuh di kalangan mahasiswa bukan hal sepele. Ia bisa menjadi alarm bahaya bagi budaya solidaritas yang selama ini menjadi kekuatan utama dunia kampus.

Mahasiswa memang perlu mandiri, tetapi bukan berarti menutup diri dari lingkungan sekitar. Keseimbangan antara tanggung jawab pribadi dan kepedulian sosial adalah kunci terciptanya kampus yang sehat dan suportif.

Karena pada akhirnya, perubahan besar selalu lahir dari kebersamaan, bukan dari perjuangan sendirian.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya