Mahasiswa dan Budaya Pura Pura Paham, Salah Siapa?
Gusti Ayu Tita P
23 Februari 2026
Di banyak ruang perkuliahan, suasana kelas sering terlihat tenang dan tertib. Mahasiswa mengangguk, mencatat, dan jarang mengajukan pertanyaan. Sekilas, semua tampak berjalan baik. Namun di balik itu, tersimpan fenomena yang cukup mengkhawatirkan, yaitu budaya pura pura paham. Ketika mahasiswa memilih diam meski tidak mengerti, muncul pertanyaan penting: salah siapa sebenarnya?
BUDAYA PURA PURA PAHAM DI LINGKUNGAN KAMPUS
Budaya pura pura paham merujuk pada kebiasaan mahasiswa yang berpura-pura memahami materi demi menjaga citra akademik. Mereka takut dianggap lambat, kurang pintar, atau tertinggal dibandingkan teman-temannya. Akhirnya, kelas menjadi ruang formalitas, bukan ruang belajar yang aktif dan jujur.
Fenomena ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari kebiasaan dan tekanan yang terus berulang dalam sistem pendidikan tinggi.
TEKANAN SOSIAL DAN AKADEMIK MAHASISWA
Salah satu faktor utama munculnya budaya pura pura paham adalah tekanan sosial. Mahasiswa sering merasa harus tampil cerdas agar diakui oleh lingkungan sekitar. Di sisi lain, tekanan akademik seperti tuntutan nilai tinggi dan target kelulusan juga memperkuat rasa takut untuk terlihat tidak mampu.
Dalam kondisi ini, kejujuran belajar kerap dikalahkan oleh keinginan untuk bertahan secara sosial di lingkungan kampus.
PERAN DOSEN DAN SISTEM PEMBELAJARAN
Pertanyaan “salah siapa” tidak bisa dibebankan sepenuhnya pada mahasiswa. Sistem pembelajaran yang terlalu satu arah dan minim ruang diskusi turut berkontribusi. Ketika mahasiswa merasa bertanya justru akan mempermalukan diri sendiri, mereka cenderung memilih diam.
Dosen memiliki peran penting dalam menciptakan suasana kelas yang aman dan inklusif, di mana kebingungan dianggap sebagai bagian wajar dari proses belajar.
DAMPAK JANGKA PANJANG BUDAYA PURA PURA PAHAM
Budaya pura pura paham membawa dampak serius bagi kualitas pendidikan. Mahasiswa berisiko memiliki pemahaman dangkal, sulit mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan kurang percaya diri terhadap kemampuan akademiknya sendiri.
Dalam jangka panjang, lulusan yang terbiasa berpura-pura memahami sesuatu akan kesulitan menghadapi tantangan dunia kerja yang menuntut kejujuran, adaptasi, dan kemauan belajar berkelanjutan.
MEMBANGUN BUDAYA BELAJAR YANG LEBIH SEHAT
Mengubah budaya pura pura paham membutuhkan kerja sama semua pihak. Mahasiswa perlu berani jujur terhadap diri sendiri dan memahami bahwa bertanya bukanlah tanda kelemahan. Sementara itu, lingkungan kampus harus mendorong proses belajar yang lebih manusiawi, bukan sekadar kompetitif.
Budaya belajar yang sehat lahir dari dialog, empati, dan penghargaan terhadap proses, bukan hanya hasil akhir.
KESIMPULAN
Mahasiswa dan budaya pura pura paham bukan persoalan satu pihak semata. Ini adalah hasil dari tekanan sosial, sistem akademik, dan pola belajar yang belum sepenuhnya ramah terhadap kejujuran. Alih-alih saling menyalahkan, yang dibutuhkan adalah kesadaran bersama untuk membangun ruang belajar yang aman, terbuka, dan bermakna.
Tentang Penulis
Gusti Ayu Tita P
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.