Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 11 dibaca

Media Sosial dan Ilusi Ketertinggalan Benarkah Kita Tidak Berkembang?

G

Gusti Ayu Tita P

6 Januari 2026

Bagikan:
Media Sosial dan Ilusi Ketertinggalan Benarkah Kita Tidak Berkembang?

Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui berbagai platform, kita dapat melihat pencapaian teman, keluarga, influencer, hingga orang yang sama sekali tidak kita kenal. Informasi tentang pekerjaan, pendidikan, perjalanan, bisnis, dan gaya hidup dapat muncul dalam hitungan detik. Di satu sisi, hal ini memberikan inspirasi, tetapi di sisi lain dapat memunculkan perasaan tertinggal.

Ketika melihat orang lain mendapatkan pekerjaan impian, lulus lebih cepat, memiliki bisnis, atau mencapai sesuatu yang kita inginkan, terkadang kita merasa hidup sendiri berjalan terlalu lambat. Padahal, apa yang terlihat di media sosial biasanya hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Lantas, benarkah kita tidak berkembang hanya karena belum mencapai hal yang sama dengan orang lain?

MEDIA SOSIAL DAN PERASAAN TERTINGGAL

Media sosial memungkinkan seseorang melihat banyak pencapaian orang lain dalam waktu singkat. Dahulu, kita mungkin hanya mengetahui keberhasilan orang terdekat, tetapi sekarang berbagai pencapaian dapat muncul setiap kali membuka aplikasi. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang secara tidak sadar membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.

Masalahnya, perbandingan tersebut sering dilakukan secara tidak seimbang. Kita melihat hasil akhir orang lain, tetapi tidak mengetahui proses, kegagalan, masalah, dan pengorbanan yang mereka lalui. Akibatnya, kehidupan sendiri terlihat kurang menarik dibandingkan apa yang ditampilkan di layar. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memengaruhi kepercayaan diri dan membuat seseorang merasa tidak cukup baik.

MENGAPA MEDIA SOSIAL MEMBUAT KITA MERASA TIDAK BERKEMBANG?

Salah satu penyebabnya adalah kecenderungan manusia untuk membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial membuat proses tersebut semakin mudah karena berbagai informasi pribadi dapat terlihat setiap saat. Ketika seseorang terus melihat orang lain mencapai sesuatu, ia dapat merasa bahwa dirinya berjalan di tempat meskipun sebenarnya mengalami kemajuan.

Selain itu, media sosial cenderung menampilkan momen terbaik. Orang lebih sering membagikan keberhasilan, liburan, prestasi, atau pencapaian daripada kegagalan dan kesulitan. Inilah yang dapat menciptakan ilusi kesuksesan, seolah-olah semua orang sedang berkembang dengan cepat sementara diri sendiri tidak melakukan apa-apa. Padahal, kenyataan di balik sebuah unggahan bisa jauh lebih kompleks.

DAMPAK MEMBANDINGKAN DIRI DI MEDIA SOSIAL

Kebiasaan membandingkan diri dapat memberikan dampak terhadap kondisi emosional dan cara seseorang menilai dirinya sendiri. Seseorang mungkin merasa kurang sukses, kurang menarik, atau kurang produktif setelah melihat pencapaian orang lain. Perasaan tersebut dapat berkembang menjadi rasa insecure apabila tidak disadari dan dikendalikan dengan baik.

Dampaknya juga dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang bisa kehilangan motivasi, terlalu memikirkan pencapaian orang lain, atau merasa harus mengikuti standar kehidupan yang sebenarnya tidak sesuai dengan kebutuhannya. Karena itu, penting untuk memahami bahwa perkembangan diri setiap orang memiliki waktunya masing-masing.

CARA MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL SECARA SEHAT

Menggunakan media sosial secara sehat bukan berarti harus menghapus semua aplikasi. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah menyadari bagaimana media sosial memengaruhi perasaan dan pikiran. Jika konten tertentu terus membuat kita merasa rendah diri atau tertinggal, kita dapat mengurangi paparan terhadap konten tersebut dan memilih akun yang memberikan informasi atau inspirasi positif.

Membatasi waktu penggunaan media sosial juga dapat membantu. Gunakan waktu yang biasanya dihabiskan untuk melihat pencapaian orang lain untuk melakukan kegiatan yang benar-benar bermanfaat, seperti belajar, berolahraga, membaca, mengembangkan keterampilan, atau berinteraksi secara langsung dengan orang terdekat. Dengan begitu, media sosial menjadi alat, bukan sesuatu yang menentukan nilai diri kita.

MENGUKUR PERKEMBANGAN DIRI DENGAN CARA YANG LEBIH SEHAT

Perkembangan diri sebaiknya tidak hanya diukur dari pencapaian yang terlihat oleh orang lain. Kemajuan bisa berupa kemampuan mengelola waktu dengan lebih baik, menyelesaikan tanggung jawab, memperoleh keterampilan baru, menjadi lebih disiplin, atau mampu menghadapi masalah dengan lebih tenang. Hal-hal tersebut mungkin tidak terlihat di media sosial, tetapi tetap merupakan bentuk perkembangan yang penting.

Cobalah membandingkan diri dengan versi diri sendiri di masa lalu. Tanyakan apa yang sudah dipelajari, kebiasaan apa yang sudah berubah, dan kemampuan apa yang sekarang dimiliki. Cara ini membantu membangun mindset positif karena fokus berpindah dari mengejar pencapaian orang lain menjadi menghargai proses pribadi.

BENARKAH KITA TIDAK BERKEMBANG?

Merasa tertinggal tidak selalu berarti bahwa kita benar-benar berhenti berkembang. Perasaan tersebut bisa muncul karena terlalu sering melihat kehidupan orang lain melalui media sosial. Kita mungkin sedang mengalami kemajuan, tetapi tidak menyadarinya karena menggunakan standar keberhasilan milik orang lain.

Setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, kemampuan, dan perjalanan yang berbeda. Ada yang mencapai tujuan lebih cepat, sementara orang lain membutuhkan waktu lebih panjang. Yang terpenting adalah tetap memiliki tujuan hidup yang realistis, terus belajar, dan melakukan langkah kecil secara konsisten. Dengan memahami hal tersebut, media sosial tidak lagi menjadi ukuran utama untuk menentukan apakah kehidupan kita sedang maju atau tidak.

KESIMPULAN

Media sosial dapat menjadi sumber informasi dan inspirasi, tetapi juga dapat menciptakan ilusi ketertinggalan ketika digunakan untuk terus membandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain. Apa yang terlihat di layar biasanya hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang sehingga tidak tepat dijadikan ukuran keberhasilan pribadi.

Perkembangan diri tidak selalu berupa pencapaian besar yang dapat dipamerkan. Belajar, bertumbuh, memperbaiki kebiasaan, dan mampu menghadapi tantangan juga merupakan bentuk kemajuan. Karena itu, daripada terus membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik fokus melihat perkembangan diri sendiri dan menghargai setiap proses yang telah dilalui.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya