Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 34 dibaca

Mengapa FOMO Bisa Mengganggu Produktivitas?

G

Gusti Ayu Tita P

12 September 2026

Bagikan:
Mengapa FOMO Bisa Mengganggu Produktivitas?

FOMO atau Fear of Missing Out adalah rasa takut tertinggal dari informasi, aktivitas, pengalaman, atau tren yang sedang diikuti orang lain. Perasaan ini semakin mudah muncul karena media sosial membuat berbagai aktivitas orang lain terlihat setiap saat. Seseorang dapat merasa harus terus mengikuti perkembangan terbaru agar tidak dianggap ketinggalan. Jika tidak dikendalikan, FOMO bukan hanya memengaruhi ketenangan pikiran, tetapi juga dapat mengganggu fokus dan produktivitas dalam kehidupan sehari-hari.

Memahami hubungan antara FOMO dan produktivitas penting agar seseorang dapat menggunakan teknologi secara lebih sehat. Dengan mengenali penyebab dan dampaknya, kebiasaan yang membuat pekerjaan terganggu dapat diperbaiki secara bertahap.

APA ITU FOMO?

FOMO adalah kondisi ketika seseorang merasa khawatir melewatkan sesuatu yang dianggap penting atau menarik, terutama ketika melihat orang lain sedang melakukan aktivitas tertentu. Istilah ini banyak dikaitkan dengan penggunaan media sosial karena platform digital memungkinkan seseorang melihat berbagai kegiatan, pencapaian, dan pengalaman orang lain secara terus-menerus. Contohnya, seseorang yang melihat teman menghadiri acara tertentu dapat merasa perlu ikut, meskipun sebenarnya memiliki pekerjaan yang lebih penting.

FOMO tidak selalu berarti seseorang benar-benar ingin melakukan hal yang sama. Sering kali, perasaan tersebut muncul karena adanya perbandingan sosial dan kekhawatiran bahwa orang lain mendapatkan pengalaman yang lebih baik. Jika muncul terlalu sering, perhatian seseorang dapat berpindah dari kebutuhan dan tujuan pribadi menuju apa yang sedang dilakukan orang lain.

FOMO MEMBUAT FOKUS MUDAH TERPECAH

Salah satu alasan FOMO dapat menurunkan produktivitas adalah karena membuat seseorang terdorong untuk terus memeriksa notifikasi, pesan, berita, atau media sosial. Kebiasaan membuka ponsel ketika sedang belajar atau bekerja dapat memecah konsentrasi. Meskipun hanya berlangsung sebentar, perpindahan perhatian tersebut membuat seseorang membutuhkan waktu untuk kembali fokus pada tugas sebelumnya.

Fokus yang terus terputus juga dapat membuat pekerjaan terasa lebih lama dan melelahkan. Seseorang mungkin merasa sibuk sepanjang hari, tetapi hasil yang diselesaikan justru tidak sebanding dengan waktu yang digunakan. Karena itu, kemampuan menjaga perhatian pada satu pekerjaan menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak FOMO terhadap produktivitas.

FOMO MENDORONG KEBIASAAN MULTITASKING

FOMO juga dapat membuat seseorang mencoba mengikuti banyak hal dalam waktu bersamaan. Misalnya, seseorang mengerjakan tugas sambil memantau percakapan grup, melihat konten terbaru, dan mengecek informasi yang sedang ramai. Kebiasaan tersebut terlihat produktif karena banyak aktivitas dilakukan sekaligus, tetapi multitasking tidak selalu menghasilkan pekerjaan yang lebih efektif.

Ketika perhatian berpindah berkali-kali, otak perlu menyesuaikan diri dengan informasi baru sebelum kembali ke pekerjaan utama. Akibatnya, kualitas pekerjaan dapat menurun dan kesalahan lebih mudah terjadi. Untuk tugas yang membutuhkan pemikiran mendalam, fokus pada satu prioritas dalam satu waktu biasanya jauh lebih membantu daripada terus berpindah antaraktivitas.

FOMO MENINGKATKAN PERBANDINGAN DENGAN ORANG LAIN

Media sosial sering menampilkan pencapaian, perjalanan, gaya hidup, atau momen terbaik seseorang. Ketika melihat berbagai unggahan tersebut secara terus-menerus, seseorang dapat membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. FOMO kemudian dapat muncul karena merasa orang lain lebih maju, lebih sukses, atau memiliki pengalaman yang lebih menarik.

Perbandingan tersebut dapat mengalihkan energi dari tujuan yang sebenarnya ingin dicapai. Seseorang mungkin terlalu sibuk memikirkan pencapaian orang lain sehingga lupa mengevaluasi kemajuan dirinya sendiri. Padahal, setiap orang memiliki kondisi, prioritas, kemampuan, dan waktu perkembangan yang berbeda.

FOMO DAPAT MENAMBAH STRES DAN KELELAHAN MENTAL

Keinginan untuk selalu mengetahui perkembangan terbaru dapat membuat pikiran sulit beristirahat. Seseorang mungkin merasa harus selalu online agar tidak melewatkan informasi penting. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat menyebabkan kelelahan mental, terutama ketika seseorang terus menerima banyak informasi tanpa memberikan waktu yang cukup untuk beristirahat.

Stres yang meningkat juga dapat memengaruhi kemampuan berkonsentrasi dan menyelesaikan pekerjaan. Ketika pikiran terlalu penuh dengan berbagai informasi dan kekhawatiran, tugas sederhana sekalipun dapat terasa lebih berat. Oleh sebab itu, mengatur waktu penggunaan media sosial dan memberikan jeda dari perangkat digital dapat membantu menjaga energi mental.

FOMO MEMBUAT PRIORITAS MENJADI TIDAK JELAS

Produktivitas tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak pekerjaan yang dilakukan, tetapi juga apakah pekerjaan tersebut sesuai dengan prioritas utama. FOMO dapat membuat seseorang mengikuti terlalu banyak aktivitas hanya karena takut tertinggal. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk tugas penting justru habis untuk hal yang kurang mendesak.

Untuk mengatasinya, seseorang perlu menentukan apa yang benar-benar penting sebelum mengikuti aktivitas atau informasi baru. Membuat daftar prioritas, menetapkan batas waktu, dan berani mengatakan tidak terhadap hal yang kurang relevan dapat membantu menjaga arah pekerjaan. Dengan demikian, perhatian tidak mudah dikendalikan oleh tren atau aktivitas orang lain.

CARA MENGATASI FOMO AGAR LEBIH PRODUKTIF

Langkah pertama adalah mengenali pemicu FOMO. Perhatikan kapan keinginan untuk terus memeriksa media sosial atau mengikuti aktivitas orang lain biasanya muncul. Setelah mengetahui pemicunya, seseorang dapat membuat batasan seperti mematikan notifikasi yang tidak penting, menentukan waktu khusus untuk membuka media sosial, dan menghindari penggunaan ponsel ketika sedang mengerjakan tugas.

Selain itu, penting untuk membangun kepercayaan terhadap pilihan pribadi. Tidak semua informasi harus diketahui dan tidak semua tren harus diikuti. Fokus pada tujuan sendiri, menikmati proses, serta mengevaluasi kemajuan secara berkala dapat membantu mengurangi kebutuhan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain. Dengan kebiasaan tersebut, teknologi dapat digunakan sebagai alat pendukung produktivitas, bukan sumber gangguan.

FOKUS PADA TUJUAN PRIBADI

Mengurangi FOMO bukan berarti harus menghindari media sosial sepenuhnya. Yang lebih penting adalah memiliki kendali terhadap perhatian dan waktu yang digunakan. Seseorang tetap dapat mengikuti berita, berkomunikasi, dan menikmati konten digital selama aktivitas tersebut tidak mengganggu tujuan utama.

Produktivitas akan lebih mudah terjaga ketika seseorang mengetahui apa yang ingin dicapai dan mampu membedakan antara kebutuhan dengan dorongan sesaat. Tidak mengetahui semua hal bukan berarti tertinggal, dan tidak mengikuti semua aktivitas orang lain bukan berarti kehilangan kesempatan. Dengan fokus pada tujuan pribadi, seseorang dapat bekerja lebih tenang, terarah, dan konsisten.

KESIMPULAN

FOMO dapat mengganggu produktivitas karena mendorong seseorang untuk terus memeriksa informasi, membandingkan diri, melakukan multitasking, dan mengikuti berbagai aktivitas yang sebenarnya tidak selalu penting. Kebiasaan tersebut dapat memecah fokus, menghabiskan waktu, serta meningkatkan stres dan kelelahan mental. Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dapat memengaruhi kualitas pekerjaan jika berlangsung terus-menerus.

Cara mengatasinya dapat dimulai dari membatasi penggunaan media sosial, mengatur notifikasi, menentukan prioritas, dan fokus pada tujuan pribadi. Dengan memahami bahwa tidak semua hal harus diikuti, seseorang dapat menggunakan waktunya secara lebih bijak. Pada akhirnya, produktivitas bukan tentang mengikuti sebanyak mungkin hal, melainkan mampu memberikan perhatian pada hal yang benar-benar penting.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya