Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 28 dibaca

Mengapa Gaya Hidup Hedon Semakin Populer di Era Media Sosial?

G

Gusti Ayu Tita P

8 September 2026

Bagikan:
Mengapa Gaya Hidup Hedon Semakin Populer di Era Media Sosial?

Perkembangan media sosial telah mengubah cara anak muda melihat tren, hiburan, dan kehidupan sehari-hari. Berbagai konten mengenai liburan, kuliner, fashion, tempat nongkrong, hingga barang bermerek dapat ditemukan hanya dalam beberapa detik. Kondisi tersebut membuat gaya hidup hedon semakin mudah dikenal dan ditiru oleh generasi muda. Jika tidak disikapi secara bijak, paparan tersebut dapat mendorong perilaku konsumtif dan membuat seseorang menilai kebahagiaan berdasarkan apa yang dimiliki atau ditampilkan.

PENGERTIAN GAYA HIDUP HEDON DI ERA MEDIA SOSIAL

Gaya hidup hedon adalah pola kehidupan yang cenderung menempatkan kesenangan dan kepuasan pribadi sebagai salah satu prioritas utama. Dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut dapat terlihat dari kebiasaan mengutamakan hiburan, berbelanja, kuliner, perjalanan, atau aktivitas lain yang memberikan kepuasan. Menikmati hasil kerja sebenarnya merupakan hal yang wajar selama dilakukan sesuai kemampuan. Namun, gaya hidup tersebut dapat menjadi masalah apabila seseorang terus mengejar kesenangan tanpa memperhatikan kebutuhan dan kondisi finansial.

Media sosial membuat gaya hidup tersebut semakin terlihat karena pengguna dapat membagikan berbagai aktivitas secara terbuka. Foto makanan mahal, perjalanan, pakaian terbaru, atau aktivitas di tempat populer dapat memberikan gambaran tertentu mengenai kehidupan seseorang. Tampilan kehidupan di media sosial tidak selalu menggambarkan kondisi yang sebenarnya, tetapi sering kali terlihat seperti standar kehidupan ideal. Hal inilah yang dapat memengaruhi cara anak muda memahami kesuksesan dan kebahagiaan.

PERAN MEDIA SOSIAL DALAM MEMBENTUK GAYA HIDUP

Media sosial bekerja dengan menampilkan konten yang sesuai dengan aktivitas dan ketertarikan pengguna. Ketika seseorang sering melihat konten tentang belanja, liburan, atau kemewahan, konten serupa dapat terus muncul dalam linimasa. Paparan berulang dapat membuat aktivitas konsumtif terlihat normal dan umum dilakukan. Akibatnya, seseorang dapat terdorong mengikuti tren meskipun sebelumnya tidak memiliki kebutuhan terhadap produk atau aktivitas tersebut.

Selain itu, media sosial memungkinkan pengguna membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Perbandingan tersebut dapat terjadi secara sadar maupun tidak sadar ketika seseorang melihat pencapaian, penampilan, atau aktivitas orang lain. Social comparison dapat membuat seseorang merasa kehidupannya kurang menarik sehingga muncul keinginan untuk memiliki pengalaman yang serupa. Jika tidak dikendalikan, dorongan tersebut dapat berkembang menjadi kebiasaan konsumsi yang berlebihan.

PENGARUH INFLUENCER DAN TREN DIGITAL

Influencer memiliki kemampuan untuk memengaruhi perhatian dan preferensi pengikutnya melalui konten yang mereka buat. Ketika seorang influencer memperkenalkan produk, tempat makan, destinasi wisata, atau tren tertentu, pengikut dapat merasa tertarik untuk mencobanya. Promosi juga sering dikemas dalam bentuk konten yang terlihat alami sehingga batas antara hiburan dan pemasaran menjadi lebih tipis. Hal tersebut membuat tren konsumsi dapat menyebar dengan cepat di kalangan anak muda.

Tren digital juga memiliki siklus yang semakin cepat. Produk atau aktivitas yang populer hari ini dapat digantikan oleh tren baru dalam waktu singkat. Kondisi tersebut dapat menciptakan dorongan untuk terus mengikuti perkembangan agar tidak merasa tertinggal. FOMO atau fear of missing out menjadi salah satu faktor yang dapat memperkuat perilaku tersebut karena seseorang takut kehilangan kesempatan untuk mengikuti pengalaman yang sedang populer.

KEMUDAHAN BELANJA MEMPERKUAT PERILAKU KONSUMTIF

Popularitas gaya hidup hedon tidak hanya dipengaruhi oleh konten media sosial, tetapi juga oleh kemudahan melakukan transaksi. Berbagai platform digital memungkinkan seseorang menemukan produk, melihat ulasan, membandingkan harga, dan melakukan pembelian tanpa harus datang ke toko. Promosi seperti diskon, gratis ongkir, voucher, dan penawaran dalam waktu terbatas dapat menciptakan dorongan untuk segera membeli. Kemudahan transaksi digital akhirnya dapat membuat keputusan belanja dilakukan dengan lebih cepat.

Masalah dapat terjadi ketika seseorang membeli barang hanya karena tertarik dengan promosi atau ingin mengikuti tren. Pembelian yang dilakukan berulang kali dapat meningkatkan pengeluaran meskipun setiap transaksi terlihat kecil. Dalam jangka panjang, belanja impulsif dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk menabung dan memenuhi kebutuhan penting. Karena itu, kemudahan teknologi sebaiknya diimbangi dengan kemampuan mengendalikan keinginan dan membuat perencanaan keuangan.

FAKTOR SOSIAL DAN KEINGINAN MENDAPATKAN PENGAKUAN

Manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk diterima dan dihargai dalam lingkungan sosial. Pada sebagian anak muda, media sosial menjadi salah satu tempat untuk menunjukkan identitas dan mendapatkan respons dari orang lain. Jumlah komentar, tanda suka, atau perhatian terhadap unggahan terkadang dapat dianggap sebagai bentuk pengakuan sosial. Hal tersebut dapat mendorong seseorang menampilkan gaya hidup tertentu agar terlihat menarik atau mengikuti perkembangan zaman.

Tekanan sosial juga dapat muncul ketika seseorang melihat teman-temannya sering melakukan aktivitas tertentu. Misalnya, ketika kelompok pertemanan terbiasa mengunjungi tempat mahal, seseorang mungkin merasa perlu ikut agar tetap dianggap bagian dari kelompok. Keputusan tersebut bisa menjadi masalah apabila dilakukan dengan mengorbankan kebutuhan lain. Keinginan untuk mendapatkan pengakuan sebaiknya tidak membuat seseorang memaksakan kondisi finansial hanya demi memenuhi standar lingkungan.

DAMPAK GAYA HIDUP HEDON BAGI ANAK MUDA

Gaya hidup hedon tidak otomatis memberikan dampak buruk karena menikmati hiburan, bepergian, atau membeli barang yang disukai dapat menjadi bagian dari kehidupan yang seimbang. Masalah muncul ketika kegiatan tersebut dilakukan tanpa batas dan tidak sesuai dengan kemampuan. Dampaknya dapat berupa pengeluaran berlebihan, sulit menabung, penggunaan utang untuk konsumsi, dan terganggunya perencanaan keuangan. Dalam kondisi tertentu, tekanan untuk mempertahankan gaya hidup juga dapat menimbulkan stres karena seseorang harus terus memenuhi standar yang dibuat sendiri atau lingkungan.

Selain aspek finansial, gaya hidup yang terlalu berorientasi pada kesenangan dapat memengaruhi prioritas. Waktu dan energi yang seharusnya digunakan untuk belajar, mengembangkan keterampilan, membangun karier, atau mempersiapkan masa depan dapat berkurang. Anak muda perlu memahami bahwa apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian dari kehidupan seseorang. Kebahagiaan dan keberhasilan tidak seharusnya diukur hanya dari barang, pengalaman, atau penampilan yang dapat ditampilkan kepada publik.

MEMBANGUN SIKAP BIJAK DI TENGAH TREN MEDIA SOSIAL

Mengikuti perkembangan tren tidak harus dihindari sepenuhnya. Anak muda tetap dapat menikmati media sosial dan menggunakan uang untuk hiburan selama memiliki batas pengeluaran yang jelas. Sebelum membeli sesuatu, penting untuk mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya muncul karena pengaruh tren. Kebiasaan mencatat pengeluaran juga dapat membantu melihat apakah aktivitas konsumsi sudah sesuai dengan kemampuan finansial.

Selain itu, pengguna media sosial perlu membangun kemampuan berpikir kritis terhadap konten yang dilihat setiap hari. Tidak semua kehidupan yang terlihat mewah menunjukkan kondisi finansial yang kuat, dan tidak semua tren harus diikuti. Literasi keuangan dan literasi digital dapat membantu anak muda memahami konsekuensi dari keputusan konsumsi serta mengenali strategi pemasaran yang digunakan dalam media sosial. Dengan sikap tersebut, media sosial dapat digunakan sebagai sarana hiburan dan informasi tanpa membuat seseorang terjebak dalam gaya hidup hedon yang berlebihan.

KESIMPULAN

Gaya hidup hedon semakin populer di era media sosial karena berbagai aktivitas konsumtif dapat ditampilkan, dipromosikan, dan ditiru dengan sangat cepat. Media sosial, influencer, FOMO, tren digital, tekanan sosial, dan kemudahan belanja online menjadi beberapa faktor yang dapat memperkuat kecenderungan tersebut. Menikmati kehidupan bukanlah sesuatu yang salah selama dilakukan sesuai kemampuan dan tidak mengorbankan kebutuhan utama. Anak muda perlu memahami bahwa kehidupan yang ditampilkan di media sosial tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya. Dengan literasi keuangan, kontrol diri, dan kemampuan menentukan prioritas, generasi muda dapat tetap mengikuti perkembangan zaman tanpa harus menjadikan gaya hidup hedon sebagai ukuran kebahagiaan.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya