Mengapa Mata Mudah Lelah Setelah Terlalu Lama Menatap Layar Digital?
Gusti Ayu Tita P
30 September 2026
Penggunaan laptop, komputer, tablet, dan smartphone sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Mahasiswa menggunakan layar untuk belajar, pekerja membutuhkannya untuk menyelesaikan tugas, sedangkan masyarakat umum sering menggunakan perangkat digital untuk berkomunikasi dan mencari informasi. Namun, terlalu lama menatap layar digital dapat membuat mata terasa lelah, kering, perih, atau penglihatan menjadi kurang nyaman. Kondisi ini sering berkaitan dengan digital eye strain atau kelelahan mata akibat penggunaan perangkat digital dalam waktu lama.
Keluhan tersebut umumnya bersifat sementara dan dapat berkurang setelah mata mendapatkan waktu istirahat. Meski demikian, kebiasaan menggunakan layar tanpa jeda, pencahayaan yang kurang sesuai, jarak layar yang tidak tepat, atau gangguan penglihatan yang belum dikoreksi dapat memperburuk rasa tidak nyaman. Mengetahui penyebab mata lelah dapat membantu seseorang mengatur kebiasaan menggunakan perangkat digital dengan lebih baik.
MATA BEKERJA LEBIH KERAS SAAT MENATAP LAYAR
Ketika melihat layar dalam jarak dekat, mata harus terus melakukan penyesuaian fokus agar tulisan dan gambar terlihat jelas. Aktivitas tersebut membutuhkan kerja sistem penglihatan secara terus-menerus, terutama ketika seseorang membaca teks kecil atau berpindah antara beberapa tampilan digital. Penggunaan layar dalam waktu lama dapat membuat mata terasa tegang dan tidak nyaman. American Optometric Association menyebut kondisi ini sebagai bagian dari computer vision syndrome atau digital eye strain.
Kebutuhan visual saat menggunakan layar juga berbeda dari membaca bahan cetak. Pantulan cahaya, kontras, ukuran tulisan, jarak pandang, dan posisi layar dapat memengaruhi kenyamanan mata. Jika kondisi tersebut kurang sesuai, mata dapat bekerja lebih keras untuk mempertahankan fokus. Karena itu, cara menggunakan perangkat digital turut menentukan seberapa besar rasa lelah yang dirasakan.
BERKEDIP LEBIH SEDIKIT SAAT MELIHAT LAYAR
Salah satu penyebab utama mata terasa kering saat menggunakan perangkat digital adalah berkurangnya frekuensi berkedip. Ketika seseorang berkonsentrasi membaca atau melihat layar, frekuensi berkedip dapat menurun. Padahal, berkedip membantu menyebarkan lapisan air mata ke permukaan mata agar tetap lembap. Berkedip lebih jarang dapat meningkatkan risiko mata kering dan menimbulkan rasa perih atau tidak nyaman.
Mata kering dapat disertai beberapa keluhan seperti rasa terbakar, terasa berpasir, kemerahan, penglihatan kabur, atau mata berair. Menariknya, mata yang mengalami kekeringan juga dapat mengeluarkan air mata lebih banyak sebagai respons terhadap iritasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa rasa berair tidak selalu berarti permukaan mata cukup lembap. Menjaga kelembapan mata menjadi salah satu bagian penting dalam mengurangi keluhan saat menggunakan layar.
SILAU DAN PENCAHAYAAN DAPAT MEMPERBURUK MATA LELAH
Kondisi pencahayaan di sekitar layar juga dapat memengaruhi kenyamanan mata. Cahaya yang terlalu terang, pantulan dari jendela, atau sumber cahaya yang langsung mengenai layar dapat menciptakan silau. Akibatnya, pengguna mungkin perlu berusaha lebih keras untuk membaca tulisan atau melihat gambar dengan jelas. Silau layar dan pencahayaan yang tidak tepat merupakan faktor yang dapat memperburuk digital eye strain.
Pengaturan layar juga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi ruangan. Kecerahan yang terlalu tinggi dibandingkan lingkungan sekitar dapat membuat mata terasa tidak nyaman. Posisi layar juga perlu diperhatikan agar pengguna tidak terus-menerus menundukkan atau mengangkat kepala. Dengan mengurangi pantulan dan menyesuaikan pencahayaan ruang kerja, penggunaan perangkat digital dapat menjadi lebih nyaman.
JARAK DAN POSISI LAYAR TURUT MEMENGARUHI KENYAMANAN
Jarak pandang yang terlalu dekat dapat meningkatkan tuntutan pada sistem penglihatan ketika seseorang melakukan aktivitas jarak dekat. Selain jarak, posisi layar juga dapat memengaruhi kenyamanan mata, leher, dan bahu. American Optometric Association menyarankan posisi monitor sekitar 20 hingga 28 inci dari mata dan sedikit berada di bawah posisi mata untuk penggunaan komputer.
Pengaturan tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan masing-masing pengguna. Tulisan yang terlalu kecil juga dapat membuat seseorang mendekatkan wajah ke layar agar dapat membaca dengan jelas. Jika hal tersebut sering terjadi, memperbesar ukuran teks dapat menjadi pilihan yang lebih nyaman. Jarak layar yang tepat dan posisi kerja yang baik dapat membantu mengurangi beban visual.
APA SAJA GEJALA MATA LELAH AKIBAT LAYAR?
Mata lelah akibat penggunaan perangkat digital dapat muncul dalam berbagai bentuk. Gejala yang umum antara lain mata kering, penglihatan kabur, mata terasa berat, sakit kepala, mata berair, dan rasa tidak nyaman pada mata. Beberapa orang juga dapat mengalami nyeri pada leher dan bahu karena posisi tubuh yang kurang tepat ketika menggunakan perangkat.
Tingkat keluhan dapat berbeda pada setiap orang. Penggunaan layar dalam waktu yang lebih lama, pencahayaan yang kurang sesuai, serta gangguan penglihatan yang belum dikoreksi dapat meningkatkan kemungkinan munculnya gejala. Sebagian besar keluhan digital eye strain bersifat sementara dan dapat berkurang setelah aktivitas menggunakan layar dihentikan. Namun, keluhan yang terus berulang atau menetap perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan faktor penglihatan lain.
BAGAIMANA CARA MENGURANGI MATA LELAH SAAT MENGGUNAKAN LAYAR?
Salah satu cara sederhana adalah memberikan jeda secara teratur. American Academy of Ophthalmology merekomendasikan prinsip 20-20-20, yaitu setiap 20 menit melihat sesuatu yang berjarak sekitar 20 kaki atau 6 meter selama setidaknya 20 detik. Kebiasaan ini memberikan kesempatan bagi mata untuk mengalihkan fokus dari layar dalam jarak dekat.
Selain beristirahat, pengguna dapat lebih sering berkedip, mengurangi silau, menyesuaikan kecerahan layar, serta menjaga jarak pandang yang nyaman. Jika mata terasa kering, penggunaan air mata buatan dapat membantu sebagian orang, sesuai kebutuhan dan petunjuk penggunaannya. Mengatur kebiasaan penggunaan layar secara konsisten lebih penting daripada hanya mengandalkan satu cara untuk mengatasi rasa lelah.
Kacamata khusus penyaring cahaya biru juga tidak terbukti diperlukan untuk mencegah digital eye strain. American Academy of Ophthalmology menyatakan bahwa ketidaknyamanan akibat penggunaan layar lebih berkaitan dengan cara dan durasi penggunaan perangkat daripada cahaya biru dari layar itu sendiri.
KAPAN MATA LELAH PERLU DIPERIKSA?
Mata lelah setelah menggunakan layar biasanya membaik setelah beristirahat. Namun, jika penglihatan tetap kabur, rasa sakit berlanjut, atau keluhan sering muncul meskipun kebiasaan penggunaan layar sudah diperbaiki, pemeriksaan mata dapat diperlukan. Gangguan penglihatan yang belum dikoreksi dapat memperburuk gejala digital eye strain.
Pemeriksaan juga dapat membantu mengetahui apakah keluhan sebenarnya berkaitan dengan mata kering, gangguan refraksi, atau kondisi mata lainnya. Jangan menganggap semua keluhan mata otomatis disebabkan oleh layar. Keluhan yang menetap atau semakin berat sebaiknya diperiksa oleh dokter mata atau tenaga kesehatan yang sesuai agar penyebabnya dapat diketahui dengan tepat.
KESIMPULAN
Mata mudah lelah setelah terlalu lama menatap layar digital terutama karena mata terus melakukan pekerjaan visual jarak dekat dan pengguna cenderung lebih jarang berkedip saat berkonsentrasi. Kondisi tersebut dapat menyebabkan mata kering, penglihatan kabur, sakit kepala, serta rasa tidak nyaman pada mata. Silau, pencahayaan yang kurang sesuai, jarak layar, posisi tubuh, dan gangguan penglihatan yang belum dikoreksi juga dapat memperburuk keluhan.
Untuk menjaga kenyamanan, biasakan mengambil jeda menggunakan prinsip 20-20-20, berkedip secara teratur, mengatur pencahayaan, menjaga jarak layar, dan menggunakan posisi kerja yang nyaman. Jika keluhan tidak membaik setelah mengurangi paparan layar atau terus berulang, pemeriksaan mata dapat menjadi langkah yang tepat.
Tentang Penulis
Gusti Ayu Tita P
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.