Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 15 dibaca

Mengapa Media Sosial Bisa Memicu FOMO?

G

Gusti Ayu Tita P

12 September 2026

Bagikan:
Mengapa Media Sosial Bisa Memicu FOMO?

Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui berbagai platform, seseorang dapat melihat aktivitas, pencapaian, gaya hidup, hingga pengalaman orang lain dalam waktu singkat. Di balik kemudahan tersebut, media sosial juga dapat memunculkan Fear of Missing Out atau FOMO, yaitu perasaan takut tertinggal dari pengalaman, tren, atau kesempatan yang sedang dinikmati orang lain. Kondisi ini dapat membuat seseorang merasa harus selalu mengikuti perkembangan terbaru agar tidak dianggap ketinggalan. Jika tidak dikendalikan, FOMO akibat media sosial dapat memengaruhi keputusan, emosi, waktu, bahkan kondisi keuangan seseorang.

APA ITU FOMO?

FOMO merupakan singkatan dari Fear of Missing Out, yang menggambarkan kekhawatiran bahwa orang lain sedang mendapatkan pengalaman yang lebih menyenangkan, menarik, atau berharga tanpa melibatkan diri kita. Perasaan tersebut dapat muncul ketika seseorang melihat unggahan teman yang sedang berlibur, membeli barang baru, menghadiri acara tertentu, atau mencapai prestasi. Media sosial membuat pengalaman seperti itu terlihat semakin dekat karena informasi dapat muncul secara terus-menerus di layar. Akibatnya, seseorang dapat membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain tanpa mengetahui kondisi sebenarnya di balik unggahan tersebut. FOMO bukan sekadar ingin mengikuti tren, tetapi dapat berkembang menjadi dorongan kuat untuk tidak ingin merasa tertinggal.

FOMO dapat dialami oleh siapa saja dan tingkat pengaruhnya berbeda pada setiap orang. Seseorang mungkin hanya merasa penasaran ketika tidak mengikuti tren, sementara orang lain dapat merasa cemas atau tidak puas dengan kehidupannya sendiri. Intensitas penggunaan media sosial, kebiasaan membandingkan diri, dan kebutuhan mendapatkan pengakuan sosial dapat ikut memengaruhi munculnya FOMO. Karena itu, memahami penyebabnya menjadi langkah penting agar penggunaan media sosial tetap sehat.

MENGAPA MEDIA SOSIAL MEMICU FOMO?

Media sosial dirancang untuk menghadirkan informasi secara cepat dan berkelanjutan. Pengguna dapat melihat berbagai aktivitas orang lain hanya dengan menggulir layar selama beberapa menit. Konten tentang liburan, kesuksesan, gaya hidup, makanan, pekerjaan, dan tren terbaru dapat muncul secara bersamaan. Paparan yang berulang membuat seseorang merasa bahwa orang lain selalu melakukan sesuatu yang menarik, sementara dirinya tidak. Padahal, media sosial umumnya hanya menampilkan bagian kehidupan yang ingin dibagikan, bukan keseluruhan realitas seseorang.

FOMO juga semakin kuat karena adanya fitur seperti notifikasi, jumlah suka, komentar, dan konten yang sedang populer. Ketika sebuah tren mendapatkan perhatian besar, seseorang dapat merasa perlu ikut serta agar tetap menjadi bagian dari lingkungan sosialnya. Algoritma platform juga dapat terus menyajikan konten berdasarkan aktivitas pengguna sehingga topik tertentu muncul berulang kali. Situasi tersebut menciptakan siklus paparan dan keinginan untuk mengikuti yang dapat membuat seseorang sulit berhenti memantau media sosial.

PERBANDINGAN SOSIAL MENJADI PEMICU UTAMA

Salah satu faktor penting yang membuat media sosial memicu FOMO adalah perbandingan sosial. Manusia secara alami dapat membandingkan dirinya dengan orang lain untuk memahami posisi atau perkembangannya. Masalahnya, media sosial sering memperlihatkan pencapaian orang lain tanpa memberikan konteks mengenai proses, kegagalan, atau kesulitan yang mereka alami. Akibatnya, seseorang dapat membandingkan kehidupan sehari-harinya dengan versi terbaik kehidupan orang lain. Perbandingan semacam ini dapat membuat pencapaian pribadi terasa kurang berarti.

Sebagai contoh, seseorang yang sedang bekerja mungkin melihat unggahan teman tentang perjalanan wisata atau keberhasilan karier. Jika dilakukan terus-menerus, ia dapat berpikir bahwa dirinya tidak cukup sukses atau tidak menikmati hidup seperti orang lain. Perasaan tertinggal tersebut dapat menjadi pemicu FOMO dan mendorong seseorang mengambil keputusan hanya karena ingin menyamai orang lain. Padahal, setiap individu memiliki kondisi, tujuan, kemampuan, dan prioritas yang berbeda.

FOMO MENDORONG KEINGINAN MENGIKUTI TREN

Tren di media sosial dapat berubah dengan sangat cepat. Produk tertentu, gaya berpakaian, tempat wisata, makanan, aplikasi, hingga aktivitas tertentu dapat menjadi populer dalam waktu singkat. Ketika melihat banyak orang mengikuti tren yang sama, sebagian pengguna merasa perlu ikut agar tidak merasa berbeda dari lingkungan sosialnya. Dorongan tersebut dapat muncul meskipun sebenarnya barang atau aktivitas tersebut tidak terlalu dibutuhkan. Keinginan untuk tetap relevan akhirnya dapat mengalahkan pertimbangan mengenai kebutuhan dan manfaat.

FOMO juga dapat memengaruhi perilaku konsumsi. Seseorang mungkin membeli produk karena sedang viral, mengikuti promosi dengan batas waktu tertentu, atau mencoba pengalaman yang sedang ramai dibicarakan. Jika kebiasaan ini terus berlangsung, pengeluaran dapat meningkat tanpa perencanaan yang matang. Karena itu, penting untuk membedakan antara membeli karena kebutuhan dan membeli karena takut tertinggal dari orang lain.

NOTIFIKASI DAN ALGORITMA MEMPERKUAT FOMO

Notifikasi membuat pengguna lebih mudah mengetahui ketika ada informasi baru. Pesan, komentar, unggahan, tren, dan aktivitas akun lain dapat terus menarik perhatian sepanjang hari. Ketika seseorang terbiasa memeriksa notifikasi setiap kali muncul, penggunaan media sosial dapat menjadi semakin sering. Kebiasaan tersebut dapat menciptakan perasaan bahwa selalu ada sesuatu yang harus diketahui atau diikuti. Dalam kondisi tertentu, pengguna dapat merasa tidak nyaman ketika jauh dari perangkat karena khawatir melewatkan informasi penting.

Algoritma media sosial juga berperan dalam menentukan konten yang muncul di hadapan pengguna. Konten yang sering dilihat atau berinteraksi dengan pengguna cenderung memengaruhi rekomendasi berikutnya. Akibatnya, seseorang dapat terus menerima konten tentang topik yang sedang menarik perhatiannya. Paparan berulang terhadap kehidupan dan tren orang lain dapat membuat FOMO semakin mudah muncul, terutama jika pengguna jarang mengambil jeda dari media sosial.

DAMPAK FOMO TERHADAP KEHIDUPAN SEHARI HARI

FOMO dapat memberikan dampak pada berbagai aspek kehidupan. Dari sisi psikologis, seseorang dapat merasa cemas, tidak puas, iri, atau terus-menerus khawatir tertinggal. Dari sisi perilaku, FOMO dapat membuat seseorang terlalu sering membuka media sosial, sulit berkonsentrasi, atau mengikuti aktivitas yang sebenarnya tidak sesuai dengan kebutuhannya. Dalam konteks finansial, FOMO dapat mendorong pembelian impulsif karena seseorang ingin memiliki barang yang sedang populer. Jika terjadi terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat mengganggu pengelolaan waktu dan keuangan.

FOMO juga dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk menikmati kehidupannya sendiri. Ketika perhatian terlalu banyak diarahkan pada aktivitas orang lain, seseorang dapat melupakan tujuan dan kebutuhan pribadinya. Ia mungkin lebih sibuk memikirkan apa yang sedang dilakukan orang lain daripada menentukan apa yang benar-benar penting bagi dirinya. Kehidupan yang terus dibandingkan dengan media sosial dapat terasa kurang memuaskan, meskipun sebenarnya tidak ada masalah besar dalam kehidupan nyata.

CARA MENGURANGI FOMO AKIBAT MEDIA SOSIAL

Mengurangi FOMO tidak berarti harus berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah menyadari bahwa media sosial bukan gambaran lengkap kehidupan seseorang. Unggahan biasanya hanya menunjukkan momen tertentu yang dipilih untuk dibagikan. Karena itu, hindari menjadikan unggahan orang lain sebagai standar mutlak untuk menilai kehidupan sendiri. Menentukan prioritas pribadi juga dapat membantu seseorang lebih fokus pada tujuan yang benar-benar ingin dicapai.

Pengguna juga dapat mengatur waktu penggunaan media sosial dengan lebih sadar. Matikan notifikasi yang tidak penting, batasi waktu penggunaan, dan berikan jeda ketika mulai merasa terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain. Memilih akun yang memberikan informasi bermanfaat dan berhenti mengikuti konten yang terus memicu tekanan juga dapat membantu. Sebelum mengikuti tren atau membeli sesuatu, tanyakan kepada diri sendiri apakah keputusan tersebut memang dibutuhkan atau hanya muncul karena takut tertinggal. Penggunaan media sosial yang lebih sadar dapat membantu menjaga keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata.

GUNAKAN MEDIA SOSIAL SECARA LEBIH SEHAT

Media sosial pada dasarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk. Platform digital dapat digunakan untuk belajar, membangun koneksi, mendapatkan informasi, mengembangkan bisnis, dan menemukan komunitas yang memiliki minat serupa. Masalah muncul ketika penggunaan media sosial membuat seseorang kehilangan kendali terhadap waktu, perhatian, atau keputusan pribadinya. Karena itu, tujuan utamanya bukan menghindari media sosial, melainkan menggunakannya secara bijak dan sesuai kebutuhan. Pengguna perlu menyadari kapan media sosial memberikan manfaat dan kapan penggunaannya mulai menimbulkan tekanan.

Membangun kebiasaan digital yang sehat dapat dimulai dari langkah sederhana. Luangkan waktu untuk beraktivitas tanpa perangkat, fokus pada hubungan di dunia nyata, dan evaluasi kembali alasan ketika ingin mengikuti sebuah tren. Ingat bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda, sehingga tidak semua hal yang terlihat menarik di media sosial harus dimiliki atau diikuti. Dengan kesadaran tersebut, media sosial dapat menjadi alat yang bermanfaat tanpa membuat seseorang terus merasa tertinggal.

KESIMPULAN

Media sosial bisa memicu FOMO karena pengguna terus terpapar kehidupan, pencapaian, dan tren orang lain. Perbandingan sosial, notifikasi, algoritma, serta keinginan untuk tetap mengikuti lingkungan dapat memperkuat rasa takut tertinggal. FOMO kemudian dapat memengaruhi kondisi emosional, penggunaan waktu, keputusan konsumsi, dan kepuasan terhadap kehidupan sendiri. Namun, dampaknya dapat dikurangi dengan membatasi penggunaan media sosial, memilih konten secara bijak, dan memahami bahwa apa yang terlihat di internet bukan gambaran lengkap kehidupan seseorang. Menggunakan media sosial secara sadar membantu seseorang tetap mendapatkan manfaat teknologi tanpa harus terjebak dalam tekanan untuk selalu mengikuti orang lain.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya