Mengapa Syukur Menjadi Kunci Utama untuk Meredam FOMO?
Gusti Ayu Tita P
14 Juni 2025
Dalam kehidupan modern yang dipenuhi dengan arus informasi dan pencitraan di media sosial, banyak orang tanpa sadar terjebak dalam FOMO (Fear of Missing Out)—rasa takut tertinggal dari pengalaman, pencapaian, atau kesenangan yang sedang dinikmati orang lain. FOMO dapat memicu kecemasan, stres, bahkan rasa rendah diri. Namun, tahukah Anda bahwa syukur adalah kunci sederhana namun sangat efektif untuk meredam perasaan tersebut?
Apa Itu FOMO dan Mengapa Bisa Membahayakan?
FOMO adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa tidak nyaman karena merasa tertinggal atau tidak ikut dalam aktivitas yang dilakukan orang lain. Fenomena ini diperparah oleh unggahan di media sosial yang sering kali hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan.
Dampak FOMO:
- Merasa hidup orang lain lebih baik.
- Sering membandingkan diri sendiri secara negatif.
- Menurunnya rasa puas terhadap kehidupan.
- Dorongan untuk membeli atau melakukan sesuatu yang tidak perlu.
Peran Rasa Syukur dalam Mengatasi FOMO
Syukur adalah sikap mental dan emosional yang berfokus pada penghargaan terhadap apa yang sudah dimiliki. Dengan bersyukur, kita menggeser fokus dari kekurangan ke keberlimpahan yang telah ada dalam hidup kita.
Mengapa syukur efektif meredam FOMO?
- Membantu Fokus pada Diri Sendiri
Bersyukur membuat kita lebih fokus pada kebaikan yang sudah dimiliki dalam hidup sendiri, bukan membandingkan diri dengan orang lain. - Meningkatkan Rasa Bahagia dan Puas
Orang yang bersyukur cenderung lebih bahagia karena tidak terus-menerus mengejar validasi eksternal. - Menurunkan Kecemasan Sosial
Rasa syukur menciptakan ketenangan batin yang membuat kita tidak mudah terguncang oleh pencitraan orang lain. - Mendorong Keputusan Lebih Bijak
Ketika bersyukur, kita lebih rasional dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan impulsif akibat FOMO.
Cara Melatih Rasa Syukur untuk Menghindari FOMO
Berikut beberapa cara praktis untuk menumbuhkan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari:
1. Jurnal Syukur Harian
Luangkan waktu setiap hari untuk menuliskan 3 hal yang Anda syukuri, sekecil apa pun itu.
2. Kurangi Konsumsi Media Sosial
Batasi waktu melihat unggahan yang bisa memicu perasaan iri atau tidak cukup baik.
3. Hargai Proses Hidup Sendiri
Sadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup masing-masing dengan waktu dan tantangan yang berbeda.
4. Berbagi dengan Orang Lain
Berbuat baik dan membantu sesama justru membuat kita lebih bersyukur atas apa yang dimiliki.
5. Renungkan Pencapaian Pribadi
Ingatkan diri Anda tentang kemajuan yang telah dicapai, meski belum sempurna.
Kesimpulan
FOMO bisa melemahkan mental dan menciptakan tekanan sosial yang tidak perlu. Namun, rasa syukur adalah perisai alami yang mampu meredam efek negatif tersebut. Dengan membiasakan diri untuk bersyukur, kita bisa lebih bahagia, puas, dan fokus pada kehidupan sendiri tanpa terpengaruh oleh ilusi kesempurnaan di luar sana.
Tentang Penulis
Gusti Ayu Tita P
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.