Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 21 dibaca

Mengapa Workaholism Semakin Banyak Terjadi di Era Digital?

G

Gusti Ayu Tita P

15 Oktober 2026

Bagikan:
Mengapa Workaholism Semakin Banyak Terjadi di Era Digital?

Fenomena workaholism atau kecanduan bekerja semakin sering muncul di tengah masyarakat modern. Perkembangan era digital membuat batas antara waktu kerja dan waktu pribadi semakin kabur. Banyak pekerja merasa harus selalu terhubung dengan pekerjaan melalui perangkat digital. Hal ini secara tidak langsung memicu meningkatnya tekanan kerja dan mengurangi waktu istirahat. Akibatnya, keseimbangan kerja-hidup (work-life balance) menjadi semakin sulit dicapai.

KEMUDAHAN TEKNOLOGI DIGITAL YANG MEMPERPANJANG JAM KERJA

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara orang bekerja secara signifikan. Kini, pekerjaan tidak lagi terbatas pada kantor, karena dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Hal ini membuat banyak pekerja terus memeriksa email atau pesan kerja bahkan di luar jam kerja. Kondisi ini tanpa disadari mendorong munculnya workaholism karena pekerjaan terasa tidak pernah benar-benar selesai. Selain itu, kemudahan akses ini juga membuat perusahaan memiliki ekspektasi respons yang lebih cepat dari karyawan.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini membuat batas waktu istirahat menjadi hilang. Pekerja merasa harus selalu siap merespons pekerjaan meskipun sedang beristirahat. Akibatnya, tekanan mental meningkat dan kualitas hidup menurun. Jika tidak dikontrol, kondisi ini dapat mengganggu keseimbangan kerja-hidup (work-life balance) secara serius. Oleh karena itu, penggunaan teknologi harus tetap dibatasi secara bijak.

TUNTUTAN PRODUKTIVITAS DAN PERSAINGAN KERJA MODERN

Di era modern, persaingan kerja semakin ketat sehingga mendorong pekerja untuk terus meningkatkan produktivitas. Banyak perusahaan menuntut hasil yang cepat, efisien, dan konsisten. Hal ini membuat sebagian pekerja merasa harus bekerja lebih lama untuk memenuhi ekspektasi tersebut. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab meningkatnya workaholism di berbagai sektor pekerjaan.

Tekanan untuk selalu unggul juga membuat pekerja sulit untuk berhenti memikirkan pekerjaan. Bahkan di luar jam kerja, banyak orang masih memikirkan target dan deadline. Jika kondisi ini terus terjadi, maka risiko burnout kerja akan semakin tinggi. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik. Oleh karena itu, manajemen waktu yang baik sangat diperlukan.

BUDAYA KERJA REMOTE DAN KETERSEDIAAN KERJA 24 JAM

Sistem kerja remote yang semakin populer di era digital memberikan fleksibilitas tinggi bagi pekerja. Namun, fleksibilitas ini juga memiliki dampak negatif jika tidak diatur dengan baik. Banyak pekerja merasa harus selalu online karena pekerjaan dapat datang kapan saja. Hal ini menyebabkan batas waktu kerja menjadi tidak jelas dan meningkatkan risiko workaholism.

Selain itu, budaya kerja yang selalu terhubung menciptakan tekanan untuk selalu responsif. Pekerja sering merasa bersalah jika tidak segera membalas pesan kerja. Dalam kondisi seperti ini, keseimbangan kerja-hidup (work-life balance) menjadi terganggu. Jika dibiarkan, hal ini dapat menyebabkan kelelahan mental yang serius. Oleh sebab itu, aturan jam kerja yang jelas tetap diperlukan meskipun bekerja secara remote.

PENGARUH MEDIA SOSIAL DAN NOTIFIKASI SMARTPHONE

Penggunaan smartphone yang terus meningkat juga menjadi faktor utama meningkatnya workaholism. Notifikasi dari aplikasi kerja membuat pekerja selalu terhubung dengan pekerjaan. Bahkan di luar jam kerja, banyak orang masih menerima pesan atau panggilan terkait pekerjaan. Hal ini membuat otak sulit benar-benar beristirahat.

Media sosial juga turut berperan dalam menciptakan tekanan tidak langsung. Banyak orang merasa harus terus produktif karena melihat aktivitas orang lain. Kondisi ini dapat memperburuk stres dan meningkatkan risiko burnout kerja. Jika tidak dikendalikan, kebiasaan ini akan merusak keseimbangan kerja-hidup (work-life balance). Oleh karena itu, pengaturan notifikasi menjadi hal yang sangat penting.

DAMPAK PSIKOLOGIS DAN RISIKO BURNOUT

Dampak dari workaholism tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga secara psikologis. Banyak pekerja mengalami stres berkepanjangan akibat tekanan kerja yang terus-menerus. Kondisi ini dapat berkembang menjadi burnout kerja yang ditandai dengan kelelahan ekstrem dan hilangnya motivasi. Jika tidak segera ditangani, hal ini dapat menurunkan kualitas hidup seseorang.

Selain itu, kesehatan mental juga dapat terganggu karena kurangnya waktu istirahat. Pekerja yang tidak memiliki keseimbangan kerja-hidup (work-life balance) cenderung lebih mudah mengalami kecemasan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi hubungan sosial dan keluarga. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda kelelahan sejak dini. Kesadaran ini dapat membantu mencegah dampak yang lebih serius.

PENUTUP

Meningkatnya workaholism di era digital merupakan dampak dari kemajuan teknologi digital, tekanan produktivitas, serta perubahan budaya kerja modern. Jika tidak diimbangi dengan pengelolaan waktu yang baik, kondisi ini dapat merusak keseimbangan kerja-hidup (work-life balance). Selain itu, risiko burnout kerja juga semakin tinggi akibat kurangnya batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Oleh karena itu, penting bagi setiap pekerja untuk mulai mengatur waktu kerja secara lebih sehat. Dengan demikian, produktivitas tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan mental dan fisik.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya