Logo Universitas STEKOM
MENU
Language
ID | EN | language
Quiet Quitting dan Pengaruhnya terhadap Budaya Kerja Perusahaan
Informasi 33 dibaca

Quiet Quitting dan Pengaruhnya terhadap Budaya Kerja Perusahaan

G

Gusti Ayu Tita P

Informasi

Diterbitkan

calendar_today 14 Juni 2026

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah Quiet Quitting semakin sering dibahas di dunia kerja. Fenomena ini bukan berarti karyawan benar-benar mengundurkan diri dari pekerjaannya, melainkan memilih untuk bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang tercantum dalam pekerjaannya tanpa memberikan usaha tambahan yang berlebihan. Kondisi ini muncul sebagai respons terhadap berbagai faktor, seperti beban kerja yang tinggi, kurangnya apresiasi, hingga ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Fenomena Quiet Quitting menjadi perhatian banyak perusahaan karena dapat memengaruhi produktivitas, kolaborasi tim, serta budaya kerja secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan dan karyawan untuk memahami penyebab, dampak, serta cara menghadapinya agar tercipta lingkungan kerja yang sehat dan berkelanjutan.

APA ITU QUIET QUITTING?

Quiet Quitting adalah kondisi ketika karyawan tetap menjalankan pekerjaannya dengan baik, tetapi tidak lagi memberikan kontribusi di luar tugas utama yang menjadi tanggung jawabnya. Mereka tidak bersedia mengambil pekerjaan tambahan, lembur secara berlebihan, atau terlibat dalam aktivitas yang dianggap tidak memberikan manfaat yang sepadan bagi dirinya.

Fenomena ini sering disalahartikan sebagai kemalasan. Padahal, banyak karyawan yang melakukan Quiet Quitting karena ingin menjaga keseimbangan hidup dan menghindari kelelahan kerja atau burnout. Dalam banyak kasus, tindakan ini merupakan bentuk respons terhadap lingkungan kerja yang kurang mendukung atau tidak memberikan penghargaan yang memadai.

PENYEBAB TERJADINYA QUIET QUITTING

Salah satu penyebab utama Quiet Quitting adalah kurangnya apresiasi terhadap kinerja karyawan. Ketika usaha dan pencapaian tidak dihargai secara layak, motivasi kerja cenderung menurun. Akibatnya, karyawan hanya fokus menyelesaikan tugas yang menjadi kewajibannya.

Selain itu, beban kerja berlebihan, kurangnya peluang pengembangan karier, serta komunikasi yang buruk antara manajemen dan karyawan juga menjadi faktor pemicu. Ketidakseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan membuat banyak pekerja memilih untuk membatasi keterlibatan mereka agar kesehatan fisik dan mental tetap terjaga.

PENGARUH QUIET QUITTING TERHADAP BUDAYA KERJA PERUSAHAAN

Dampak Quiet Quitting terhadap budaya kerja dapat terlihat dari menurunnya semangat kolaborasi antaranggota tim. Ketika banyak karyawan hanya berfokus pada tugas masing-masing, kerja sama dan inisiatif untuk membantu rekan kerja menjadi berkurang. Hal ini dapat memperlambat penyelesaian proyek dan mengurangi efektivitas tim.

Di sisi lain, fenomena ini juga menjadi sinyal bagi perusahaan untuk mengevaluasi budaya kerjanya. Jika banyak karyawan melakukan Quiet Quitting, kemungkinan terdapat masalah yang belum terselesaikan, seperti rendahnya tingkat keterlibatan karyawan, kepemimpinan yang kurang efektif, atau sistem penghargaan yang tidak memadai.

DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF QUIET QUITTING

Dari sisi positif, Quiet Quitting dapat membantu karyawan menjaga keseimbangan hidup dan mengurangi risiko stres berlebihan. Dengan batasan kerja yang lebih jelas, mereka memiliki waktu yang cukup untuk keluarga, kesehatan, dan pengembangan diri.

Namun, dampak negatifnya juga tidak dapat diabaikan. Perusahaan dapat mengalami penurunan produktivitas, berkurangnya inovasi, serta melemahnya budaya kerja yang kolaboratif. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi pencapaian target bisnis dan daya saing perusahaan di pasar.

STRATEGI PERUSAHAAN MENGATASI QUIET QUITTING

Perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dan memberikan penghargaan yang adil kepada karyawan. Bentuk apresiasi tidak selalu berupa kenaikan gaji, tetapi juga dapat berupa pengakuan atas pencapaian, peluang pengembangan karier, serta fleksibilitas kerja yang lebih baik.

Selain itu, penting bagi manajemen untuk membangun komunikasi yang terbuka dan transparan. Dengan mendengarkan kebutuhan serta aspirasi karyawan, perusahaan dapat meningkatkan tingkat keterlibatan mereka. Karyawan yang merasa dihargai cenderung lebih termotivasi untuk memberikan kontribusi terbaik bagi organisasi.

PERAN KARYAWAN DALAM MENGHADAPI QUIET QUITTING

Karyawan juga memiliki peran penting dalam menghadapi fenomena ini. Mereka perlu memahami batas kemampuan diri dan mengelola ekspektasi kerja secara realistis. Menjaga komunikasi yang baik dengan atasan dapat membantu menemukan solusi ketika menghadapi tekanan kerja yang berlebihan.

Selain itu, karyawan perlu terus mengembangkan keterampilan dan menjaga profesionalisme dalam bekerja. Dengan begitu, mereka tetap dapat mencapai keseimbangan hidup tanpa mengurangi kualitas pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.

KESIMPULAN

Quiet Quitting merupakan fenomena yang mencerminkan perubahan cara pandang karyawan terhadap pekerjaan dan keseimbangan hidup. Meskipun dapat membantu mengurangi risiko kelelahan kerja, kondisi ini juga berpotensi memengaruhi produktivitas serta budaya kerja perusahaan apabila tidak dikelola dengan baik.

Perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang sehat, adil, dan suportif agar karyawan merasa dihargai dan termotivasi. Sementara itu, karyawan perlu menjaga profesionalisme serta komunikasi yang baik untuk menciptakan hubungan kerja yang saling menguntungkan. Dengan langkah yang tepat, Quiet Quitting dapat menjadi momentum bagi perusahaan untuk membangun budaya kerja yang lebih positif dan berkelanjutan.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.