Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 55 dibaca

Quiet Quitting di Dunia Pendidikan dan Pengaruhnya bagi Generasi Muda

G

Gusti Ayu Tita P

10 Agustus 2026

Bagikan:
Quiet Quitting di Dunia Pendidikan dan Pengaruhnya bagi Generasi Muda

Quiet quitting merupakan istilah yang awalnya populer dalam dunia kerja untuk menggambarkan seseorang yang menjalankan tanggung jawab sesuai batas utama tanpa memberikan usaha tambahan. Dalam dunia pendidikan, istilah ini dapat digunakan secara informal untuk menggambarkan menurunnya keterlibatan dan usaha peserta didik dalam proses belajar. Kondisi tersebut dapat terlihat ketika seseorang hanya memenuhi kewajiban akademik dasar tanpa berusaha mengembangkan kemampuan lebih jauh.

Fenomena ini perlu dipahami secara hati-hati karena tidak semua mahasiswa atau pelajar yang membatasi aktivitas akademik sedang mengalami quiet quitting. Setiap orang memiliki kebutuhan, kemampuan, prioritas, dan kondisi yang berbeda. Yang perlu diperhatikan adalah perubahan keterlibatan yang berlangsung secara konsisten dan mulai memengaruhi proses pendidikan.

MEMAHAMI QUIET QUITTING PENDIDIKAN

Quiet quitting dalam pendidikan bukan istilah akademik resmi dan bukan diagnosis tertentu. Istilah tersebut lebih tepat dipahami sebagai gambaran terhadap perubahan tingkat keterlibatan dalam kegiatan belajar. Contohnya dapat berupa berkurangnya partisipasi dalam diskusi, menurunnya usaha mengerjakan tugas, atau hilangnya minat untuk mempelajari materi secara lebih mendalam.

Fenomena tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk. Seorang mahasiswa mungkin tetap menghadiri kuliah dan mengumpulkan tugas, tetapi tidak lagi aktif bertanya atau mengikuti kegiatan pengembangan diri. Karena itu, penting untuk membedakan antara menetapkan batas yang sehat dengan penurunan keterlibatan yang terjadi karena kehilangan motivasi atau menghadapi kesulitan tertentu.

PENYEBAB PADA GENERASI MUDA

Salah satu faktor yang dapat memengaruhi penurunan keterlibatan adalah beban akademik yang tinggi. Jadwal kuliah, tugas, ujian, organisasi, pekerjaan, dan tanggung jawab lainnya dapat membuat sebagian mahasiswa kesulitan membagi waktu. Dalam kondisi tertentu, mereka memilih menyelesaikan kewajiban utama dan mengurangi aktivitas tambahan.

Faktor lain adalah kurangnya motivasi dan tujuan pendidikan yang jelas. Generasi muda dapat mengalami kesulitan melihat hubungan antara kegiatan akademik dengan tujuan masa depan mereka. Lingkungan belajar, pengalaman pendidikan, tekanan sosial, dan cara pembelajaran juga dapat memengaruhi tingkat keterlibatan seseorang.

DAMPAK TERHADAP PROSES BELAJAR

Jika penurunan keterlibatan berlangsung dalam waktu lama, proses belajar dapat menjadi kurang optimal. Mahasiswa yang hanya berfokus pada pemenuhan kewajiban minimum mungkin memiliki lebih sedikit kesempatan untuk mengeksplorasi materi, mengembangkan keterampilan, dan mengikuti pengalaman akademik tambahan. Hal ini dapat membatasi proses pembelajaran yang seharusnya lebih luas daripada sekadar memperoleh nilai.

Dampaknya tidak selalu sama pada setiap individu. Namun, keterlibatan yang rendah secara konsisten dapat membuat perkembangan kemampuan akademik dan profesional menjadi lebih terbatas. Karena itu, lembaga pendidikan perlu memahami penyebabnya daripada hanya menilai mahasiswa berdasarkan hasil akhir.

PENGARUH TERHADAP GENERASI MUDA

Generasi muda membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang dapat membantu mereka menghadapi perubahan dunia kerja dan kehidupan sosial. Jika keterlibatan dalam pendidikan terus menurun, kesempatan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama, berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah dapat ikut berkurang.

Namun, membatasi aktivitas akademik tidak selalu berarti seseorang kehilangan peluang untuk berkembang. Mahasiswa dapat memilih fokus pada bidang tertentu, pekerjaan, atau pengalaman praktis. Yang penting adalah tetap memiliki tujuan yang jelas dan tanggung jawab terhadap pendidikan, sehingga keputusan untuk mengurangi aktivitas bukan sekadar akibat kehilangan motivasi.

CARA MENGHADAPI FENOMENA INI

Menghadapi quiet quitting di dunia pendidikan membutuhkan pendekatan yang tidak sekadar menyalahkan mahasiswa. Langkah awal dapat dilakukan dengan mencari penyebab penurunan keterlibatan melalui komunikasi terbuka antara mahasiswa, dosen, dan pihak kampus. Dengan memahami masalah yang dihadapi, dukungan dapat diberikan secara lebih tepat.

Mahasiswa juga dapat membangun kembali keterlibatan melalui target belajar yang realistis, pengaturan waktu, dan aktivitas akademik yang sesuai dengan minat. Kampus dapat membantu dengan menyediakan lingkungan belajar yang mendukung, informasi akademik yang jelas, serta akses terhadap layanan pendampingan. Pendekatan yang seimbang dapat membantu generasi muda tetap berkembang tanpa merasa harus memenuhi tuntutan yang tidak realistis.

KESIMPULAN

Quiet quitting di dunia pendidikan menggambarkan menurunnya usaha dan keterlibatan dalam proses belajar yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Beban akademik, kurangnya motivasi, tujuan yang belum jelas, dan banyaknya tanggung jawab dapat menjadi beberapa penyebabnya. Jika berlangsung lama, kondisi tersebut dapat memengaruhi kesempatan generasi muda untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan. Karena itu, diperlukan komunikasi, pengelolaan beban, tujuan pendidikan yang jelas, dan dukungan lingkungan agar mahasiswa tetap dapat berkembang secara seimbang.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya