Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 32 dibaca

Risiko Pernikahan Dini bagi Kesehatan Ibu dan Anak

G

Gusti Ayu Tita P

16 Oktober 2026

Bagikan:
Risiko Pernikahan Dini bagi Kesehatan Ibu dan Anak

Pernikahan dini masih menjadi salah satu permasalahan yang banyak terjadi di berbagai daerah. Tidak sedikit remaja yang menikah pada usia di bawah 19 tahun tanpa memahami risiko kesehatan yang dapat muncul, terutama saat kehamilan dan persalinan. Padahal, tubuh remaja belum sepenuhnya matang untuk menjalani proses reproduksi sehingga berpotensi mengalami berbagai komplikasi.

Selain berdampak pada kesehatan ibu, pernikahan dini juga dapat memengaruhi tumbuh kembang anak yang dilahirkan. Risiko bayi lahir prematur, berat badan lahir rendah, hingga gangguan perkembangan menjadi lebih tinggi dibandingkan kehamilan pada usia yang ideal. Oleh karena itu, memahami risiko pernikahan dini menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perencanaan keluarga yang matang.

MENGAPA PERNIKAHAN DINI BERISIKO BAGI KESEHATAN?

Pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan ketika salah satu atau kedua pasangan masih berada pada usia remaja. Pada usia tersebut, organ reproduksi perempuan umumnya belum berkembang secara optimal sehingga belum siap menghadapi proses kehamilan maupun persalinan. Kondisi ini membuat risiko komplikasi kesehatan menjadi lebih tinggi dibandingkan perempuan yang hamil pada usia dewasa.

Selain faktor fisik, kematangan mental dan emosional juga belum berkembang sepenuhnya. Remaja cenderung belum memiliki kesiapan dalam menghadapi perubahan selama kehamilan, merawat bayi, maupun mengambil keputusan terkait kesehatan. Kombinasi antara kesiapan fisik dan psikologis yang belum optimal dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan bagi ibu maupun anak.

RISIKO KESEHATAN PADA IBU AKIBAT PERNIKAHAN DINI

Kehamilan pada usia remaja memiliki kemungkinan lebih besar menyebabkan berbagai komplikasi. Salah satunya adalah anemia karena kebutuhan zat besi meningkat selama kehamilan, sementara kondisi tubuh remaja masih membutuhkan nutrisi untuk proses pertumbuhannya sendiri. Selain itu, risiko tekanan darah tinggi saat kehamilan dan preeklamsia juga lebih tinggi.

Persalinan pada usia muda juga berpotensi mengalami hambatan karena ukuran panggul belum berkembang sempurna. Akibatnya, ibu lebih berisiko menjalani persalinan dengan tindakan medis atau operasi sesar. Dalam kondisi tertentu, komplikasi persalinan dapat meningkatkan risiko perdarahan, infeksi, hingga membahayakan keselamatan ibu apabila tidak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

DAMPAK PERNIKAHAN DINI TERHADAP KESEHATAN ANAK

Anak yang lahir dari ibu berusia remaja memiliki peluang lebih besar mengalami berat badan lahir rendah. Bayi dengan kondisi tersebut lebih rentan mengalami gangguan pernapasan, infeksi, serta masalah kesehatan lainnya pada masa awal kehidupan. Risiko kelahiran prematur juga meningkat sehingga bayi memerlukan perawatan khusus setelah lahir.

Selain kondisi fisik, pertumbuhan dan perkembangan anak juga dapat terpengaruh apabila kebutuhan gizi selama kehamilan tidak tercukupi. Anak berisiko mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan yang berdampak pada perkembangan otak, kemampuan belajar, dan kesehatan jangka panjang. Oleh sebab itu, usia kehamilan yang ideal berperan penting dalam mendukung kesehatan generasi berikutnya.

DAMPAK PSIKOLOGIS DAN SOSIAL BAGI IBU MUDA

Menikah dan menjadi orang tua pada usia remaja sering kali menimbulkan tekanan psikologis yang cukup besar. Tanggung jawab mengurus rumah tangga, kehamilan, serta pengasuhan anak dapat memicu stres, kecemasan, bahkan depresi apabila tidak didukung oleh keluarga maupun lingkungan sekitar. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas hidup ibu dan hubungan dalam keluarga.

Di sisi lain, pernikahan dini juga dapat menghambat pendidikan dan kesempatan kerja. Banyak remaja yang harus berhenti sekolah sehingga peluang memperoleh pekerjaan yang layak menjadi lebih kecil. Dampaknya, kondisi ekonomi keluarga dapat terganggu dan secara tidak langsung memengaruhi kesehatan ibu maupun anak akibat keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dan gizi.

CARA MENCEGAH RISIKO PERNIKAHAN DINI

Pencegahan pernikahan dini memerlukan peran aktif keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Edukasi mengenai kesehatan reproduksi sejak remaja dapat membantu mereka memahami pentingnya menjaga kesehatan serta merencanakan masa depan dengan lebih baik. Informasi yang benar juga mampu mengurangi berbagai mitos yang masih berkembang di masyarakat.

Selain pendidikan, dukungan orang tua dalam memberikan pendampingan dan komunikasi yang terbuka sangat penting. Remaja yang mendapatkan bimbingan cenderung lebih siap mengambil keputusan mengenai pendidikan, karier, maupun kehidupan berkeluarga. Dengan demikian, mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk menikah pada usia yang lebih matang sehingga kesehatan ibu dan anak dapat terjaga.

KESIMPULAN

Risiko pernikahan dini bagi kesehatan ibu dan anak tidak dapat dianggap sepele. Kehamilan pada usia remaja dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi pada ibu, seperti anemia, preeklamsia, dan persalinan yang sulit, serta berdampak pada kesehatan bayi melalui risiko kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan stunting. Selain itu, pernikahan dini juga membawa dampak psikologis, sosial, dan ekonomi yang dapat memengaruhi kualitas hidup keluarga dalam jangka panjang. Oleh karena itu, edukasi, dukungan keluarga, serta perencanaan kehidupan yang matang menjadi langkah penting untuk mencegah pernikahan dini dan mewujudkan generasi yang lebih sehat.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya