sumber img: Pinterest
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026. Mata uang Garuda ditutup di level Rp16.949 per dolar AS, melemah 24 poin atau sekitar 0,14 persen dibandingkan penutupan Jumat pekan lalu di Rp16.925 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah sempat menyentuh level terendah di kisaran Rp17.019 sebelum akhirnya sedikit pulih menjelang penutupan.
Pemicu Utama Pelemahan
Pelemahan rupiah kali ini terutama dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia yang melonjak tajam akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan harga minyak mentah yang signifikan memicu sentimen risk-off di pasar global. Investor pun beralih ke aset aman seperti dolar AS, sehingga indeks dolar menguat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Mayoritas mata uang Asia juga mengalami tekanan serupa terhadap dolar AS. Dari sisi domestik, kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia yang dinilai menurun oleh beberapa lembaga rating turut memperburuk posisi rupiah. Lonjakan harga minyak berpotensi memperbesar beban subsidi energi dan mendorong inflasi, sehingga menambah tekanan fiskal.
BACA JUGA: KPK Gelar OTT terhadap Bupati Rejang Lebong Bengkulu
Perkembangan Perdagangan Hari Ini
Pada pembukaan perdagangan, rupiah langsung dibuka lebih lemah di kisaran Rp17.000-an. Sepanjang sesi, nilai tukar bergerak fluktuatif sebelum akhirnya ditutup di Rp16.949 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS menguat sekitar 0,27 persen ke level 99,24 pada hari yang sama. Tren pelemahan rupiah ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal Maret 2026. Dalam beberapa hari terakhir, rupiah kerap bergerak di rentang Rp16.900 hingga Rp17.000, bahkan sempat mendekati zona psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Dampak Ekonomi dan Proyeksi
Pelemahan rupiah berpotensi menambah beban impor, terutama untuk barang-barang berbasis dolar seperti bahan bakar dan bahan baku industri. Jika harga minyak tetap tinggi dalam waktu lama, defisit fiskal APBN bisa membengkak akibat subsidi energi yang melonjak. Pelaku pasar kini mencermati perkembangan geopolitik global serta langkah kebijakan moneter dari Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Rupiah ditutup melemah ke Rp16.949 per dolar AS pada 9 Maret 2026, tertekan kuat oleh lonjakan harga minyak dunia dan penguatan dolar AS. Kondisi ini mencerminkan tantangan stabilitas ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global. Otoritas moneter diharapkan terus waspada dan siap melakukan intervensi jika volatilitas semakin memburuk. Pantau terus perkembangan kurs terkini karena pergerakan pasar masih sangat dinamis dan dipengaruhi berbagai faktor eksternal.
Tentang Penulis
Wizdan Ulum
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.