Apa Hubungan FOMO dengan Penggunaan Media Sosial Berlebihan?
Gusti Ayu Tita P
12 September 2026
Media sosial telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai informasi, hiburan, tren, dan aktivitas orang lain dapat dilihat hanya dalam beberapa detik melalui layar ponsel. Namun, penggunaan media sosial yang terlalu sering dapat dipengaruhi oleh kondisi psikologis tertentu, salah satunya adalah FOMO atau Fear of Missing Out. Kondisi ini membuat seseorang merasa khawatir tertinggal dari pengalaman, informasi, atau aktivitas yang sedang dilakukan orang lain.
Hubungan antara FOMO dan penggunaan media sosial berlebihan cukup erat karena media sosial menyediakan aliran informasi yang terus berjalan. Seseorang yang takut tertinggal dapat terdorong untuk berulang kali memeriksa media sosial agar tetap mengetahui perkembangan terbaru. Jika kebiasaan tersebut tidak dikendalikan, waktu penggunaan media sosial dapat meningkat dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
MEMAHAMI APA ITU FOMO
FOMO adalah perasaan takut tertinggal dari pengalaman atau informasi yang dianggap penting dan sedang dinikmati orang lain. Seseorang yang mengalami FOMO dapat merasa tidak nyaman ketika melihat teman atau orang lain melakukan aktivitas menarik tanpa dirinya. Perasaan tersebut tidak selalu berarti seseorang benar-benar kehilangan sesuatu, tetapi lebih berkaitan dengan persepsi bahwa orang lain sedang menjalani kehidupan yang lebih menarik. Media sosial dapat memperkuat perasaan ini karena pengguna terus melihat berbagai unggahan tentang kehidupan orang lain.
FOMO juga dapat membuat seseorang merasa harus selalu mengetahui apa yang sedang terjadi. Notifikasi, unggahan baru, komentar, dan tren yang berubah cepat dapat menjadi pemicu untuk membuka media sosial secara berulang. Akibatnya, seseorang mungkin merasa perlu terus terhubung meskipun sebenarnya tidak memiliki kebutuhan penting untuk menggunakan media sosial.
MENGAPA FOMO DAPAT MEMICU PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL BERLEBIHAN?
Media sosial dirancang untuk memberikan pembaruan informasi secara cepat dan berkelanjutan. Ketika seseorang memiliki FOMO, muncul dorongan untuk terus memeriksa platform agar tidak melewatkan sesuatu. Misalnya, seseorang dapat membuka media sosial berkali-kali hanya untuk memastikan tidak ada berita, percakapan, atau tren baru yang terlewat. Kebiasaan ini dapat berkembang menjadi pola penggunaan yang sulit dikendalikan.
Rasa takut tertinggal menciptakan dorongan untuk selalu terhubung. Ketika seseorang menemukan sesuatu yang menarik, rasa penasaran dapat membuatnya terus menggulir layar untuk mencari informasi lain. Sistem rekomendasi media sosial juga dapat membuat pengguna menemukan konten baru tanpa harus mencarinya secara aktif. Kombinasi antara FOMO dan aliran konten yang tidak berhenti dapat meningkatkan durasi penggunaan media sosial.
TANDA FOMO BERKAITAN DENGAN MEDIA SOSIAL
Salah satu tanda yang sering muncul adalah keinginan untuk memeriksa media sosial secara terus-menerus. Seseorang mungkin merasa gelisah ketika tidak dapat mengakses ponsel atau ketika terlalu lama tidak mengetahui perkembangan terbaru. Tanda lainnya adalah kebiasaan membuka media sosial meskipun sedang belajar, bekerja, makan, atau melakukan kegiatan penting lainnya. Fokus akhirnya dapat terbagi karena perhatian terus tertarik pada notifikasi dan pembaruan.
FOMO juga dapat terlihat dari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Melihat pencapaian, perjalanan, hubungan, atau gaya hidup orang lain dapat menimbulkan perasaan bahwa diri sendiri tertinggal. Perbandingan sosial yang berlebihan dapat membuat penggunaan media sosial semakin intens karena seseorang terus mencari informasi untuk mengetahui kehidupan orang lain. Padahal, unggahan di media sosial biasanya hanya menampilkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang dan belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya secara lengkap.
DAMPAK PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL BERLEBIHAN
Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat mengurangi waktu yang tersedia untuk aktivitas lain. Seseorang mungkin menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menggulir konten sehingga pekerjaan, belajar, olahraga, atau interaksi langsung menjadi kurang diperhatikan. Jika terjadi secara terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat mengganggu produktivitas dan keseimbangan aktivitas harian. Masalah utamanya bukan sekadar jumlah waktu di media sosial, tetapi dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
FOMO juga dapat berkaitan dengan stres, rasa tidak puas, dan kecemasan sosial pada sebagian orang. Ketika terus melihat kehidupan orang lain, seseorang dapat memiliki standar yang tidak realistis mengenai kesuksesan atau kebahagiaan. Selain itu, penggunaan media sosial menjelang waktu tidur dapat membuat seseorang sulit berhenti menggunakan perangkat dan mengurangi waktu istirahat. Dampaknya dapat terasa pada konsentrasi, suasana hati, dan kemampuan menjalankan aktivitas pada hari berikutnya.
FOMO DAN PERBANDINGAN SOSIAL DI MEDIA SOSIAL
Media sosial memungkinkan seseorang melihat pencapaian orang lain dalam jumlah yang sangat besar. Foto liburan, keberhasilan akademik, pekerjaan baru, gaya hidup, atau kegiatan bersama teman dapat terlihat seperti gambaran kehidupan yang sempurna. Kondisi tersebut dapat memicu perbandingan sosial, terutama ketika seseorang menilai kehidupannya berdasarkan apa yang ditampilkan orang lain. FOMO kemudian dapat muncul karena pengguna merasa dirinya tidak mengalami hal yang sama.
Penting untuk memahami bahwa media sosial tidak selalu menunjukkan realitas secara utuh. Pengguna biasanya memilih konten yang ingin ditampilkan dan dapat menyembunyikan kesulitan atau kegagalan yang sedang dialami. Karena itu, membandingkan kehidupan nyata dengan unggahan orang lain dapat menghasilkan penilaian yang tidak seimbang. Kesadaran terhadap hal tersebut dapat membantu seseorang menggunakan media sosial secara lebih sehat dan realistis.
CARA MENGURANGI FOMO DAN PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL BERLEBIHAN
Langkah pertama adalah mengenali alasan seseorang membuka media sosial. Jika media sosial dibuka karena bosan, cemas, atau takut tertinggal, cobalah berhenti sejenak dan menentukan apakah membuka aplikasi tersebut benar-benar diperlukan. Mematikan notifikasi yang tidak penting juga dapat mengurangi dorongan untuk memeriksa ponsel secara berulang. Dengan begitu, pengguna dapat menentukan kapan ingin mengakses media sosial tanpa selalu mengikuti rangsangan dari aplikasi.
Membuat batas waktu juga dapat membantu membangun kebiasaan yang lebih sehat. Waktu tertentu dapat digunakan untuk belajar, bekerja, berolahraga, beristirahat, atau berinteraksi secara langsung tanpa gangguan media sosial. Selain itu, mengikuti akun yang memberikan informasi bermanfaat dan mengurangi paparan terhadap konten yang memicu perbandingan dapat membantu. Tujuan pengelolaan media sosial bukan harus berhenti sepenuhnya, tetapi menciptakan penggunaan yang lebih sadar dan seimbang.
BANGUN KEBIASAAN DIGITAL YANG LEBIH SEHAT
Penggunaan media sosial yang sehat membutuhkan kesadaran terhadap pola kebiasaan sendiri. Cobalah memperhatikan kapan dan mengapa keinginan membuka media sosial muncul. Jika seseorang menyadari bahwa dirinya sering menggunakan media sosial ketika merasa bosan atau cemas, aktivitas alternatif seperti membaca, berjalan kaki, berbicara dengan orang terdekat, atau melakukan hobi dapat menjadi pilihan. Kebiasaan sederhana tersebut dapat mengurangi ketergantungan pada media sosial sebagai sumber hiburan atau validasi.
Selain membatasi durasi, penting untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi. Gunakan media sosial untuk tujuan yang jelas, seperti mencari informasi, berkomunikasi, atau mendapatkan hiburan dalam batas wajar. Hindari menjadikan jumlah suka, komentar, pengikut, atau kehidupan orang lain sebagai ukuran nilai diri. Jika penggunaan media sosial mulai mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, tidur, atau kesejahteraan secara signifikan, mencari bantuan dari tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.
KESIMPULAN
FOMO memiliki hubungan erat dengan penggunaan media sosial berlebihan karena rasa takut tertinggal dapat mendorong seseorang untuk terus memeriksa informasi dan aktivitas orang lain. Semakin sering seseorang merasa harus selalu terhubung, semakin besar peluang media sosial mengambil porsi waktu dan perhatian yang berlebihan. Kondisi ini juga dapat diperkuat oleh notifikasi, aliran konten tanpa henti, serta kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Mengurangi FOMO tidak berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Penggunaan yang sadar, pembatasan waktu, pengelolaan notifikasi, dan kemampuan membedakan dunia digital dengan kehidupan nyata dapat membantu menciptakan kebiasaan yang lebih seimbang. Dengan memahami pemicu FOMO dan mengatur pola penggunaan media sosial, seseorang dapat tetap memperoleh manfaat teknologi tanpa membiarkannya mengendalikan kehidupan sehari-hari.
About the Author
Gusti Ayu Tita P
Author — STEKOM University
An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.