University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 46 views

Apa Itu Kepribadian Ganda Dan Apa Penyebabnya?

G

Gusti Ayu Tita P

24 September 2026

Bagikan:
Apa Itu Kepribadian Ganda Dan Apa Penyebabnya?

Istilah kepribadian ganda cukup sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk menggambarkan seseorang yang terlihat memiliki perubahan identitas atau perilaku. Namun, dalam dunia kesehatan mental, istilah yang digunakan saat ini adalah Dissociative Identity Disorder (DID) atau gangguan identitas disosiatif. Kondisi ini termasuk dalam kelompok gangguan disosiatif yang berkaitan dengan gangguan pada identitas, ingatan, emosi, persepsi, perilaku, dan rasa terhadap diri sendiri.

DID bukan sekadar perubahan suasana hati atau seseorang yang memiliki sifat berbeda dalam situasi tertentu. Kondisi ini melibatkan adanya gangguan pada rasa identitas yang disertai perubahan tertentu dalam pengalaman diri dan adanya kesenjangan ingatan yang berulang. Gejalanya juga dapat menimbulkan gangguan dalam kehidupan sosial, pendidikan, pekerjaan, atau aktivitas sehari-hari.

Pembahasan mengenai penyebab kepribadian ganda juga perlu dilakukan dengan hati-hati. DID sering dikaitkan dengan pengalaman trauma yang berat dan berulang, terutama pada masa kanak-kanak, tetapi diagnosis tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu pengalaman atau satu gejala. Penilaian perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan mental yang terlatih.

APA ITU KEPRIBADIAN GANDA?

Kepribadian ganda adalah istilah populer yang sebelumnya digunakan untuk menyebut kondisi yang sekarang dikenal sebagai Dissociative Identity Disorder. Dalam DID, seseorang dapat mengalami dua atau lebih keadaan identitas yang berbeda, disertai perubahan dalam cara berpikir, perilaku, ingatan, atau cara memandang dirinya sendiri.

Perubahan tersebut bukan berarti seseorang benar-benar memiliki beberapa orang yang hidup di dalam satu tubuh. American Psychiatric Association menjelaskan DID sebagai gangguan pada keterhubungan antara identitas, ingatan, dan kesadaran. Karena itu, istilah gangguan identitas disosiatif lebih tepat digunakan daripada menganggapnya sebagai “kepribadian yang terpecah” secara harfiah.

Kondisi ini juga berbeda dengan sekadar memiliki karakter atau sifat yang berbeda. Setiap orang dapat bersikap berbeda ketika berada di rumah, sekolah, bersama teman, atau dalam situasi formal. Perubahan perilaku seperti itu merupakan bagian normal dari kehidupan dan tidak otomatis menunjukkan DID.

APA ITU DISSOCIATION ATAU DISOSIASI?

Untuk memahami DID, penting untuk mengenal istilah disosiasi. Disosiasi merupakan kondisi ketika terdapat keterputusan atau jarak antara beberapa aspek pengalaman seseorang, seperti pikiran, ingatan, perasaan, tindakan, atau rasa terhadap diri sendiri. Pengalaman disosiasi dalam tingkat tertentu sebenarnya dapat terjadi pada banyak orang.

Contoh pengalaman disosiasi yang ringan dapat berupa seseorang yang sangat tenggelam dalam membaca buku atau menonton film sampai kurang menyadari keadaan di sekitarnya. Namun, pada gangguan disosiatif, pengalaman tersebut dapat menjadi lebih berat dan mengganggu fungsi sehari-hari.

Pada DID, disosiasi dapat berkaitan dengan perubahan identitas dan kesenjangan ingatan. Karena itu, memahami disosiasi membantu menjelaskan mengapa DID tidak hanya berkaitan dengan perubahan perilaku, tetapi juga dengan hubungan seseorang terhadap ingatan dan identitas dirinya.

APA SAJA CIRI DAN GEJALA DID?

Salah satu ciri utama DID adalah adanya dua atau lebih keadaan identitas yang berbeda. Perubahan keadaan identitas tersebut dapat disertai perubahan dalam perilaku, cara berpikir, ingatan, atau pengalaman diri. Perubahan tersebut dapat terlihat oleh orang lain atau dirasakan dan dilaporkan oleh orang yang mengalaminya.

Ciri penting lainnya adalah kesenjangan ingatan yang berulang. Seseorang dapat mengalami kesulitan mengingat kejadian sehari-hari, informasi pribadi, atau pengalaman tertentu. Kesenjangan tersebut bukan sekadar lupa biasa dan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.

Gejala DID juga dapat muncul bersama masalah kesehatan mental lainnya. Karena gejalanya dapat berbeda antara satu orang dan orang lain, diagnosis tidak sebaiknya dilakukan berdasarkan daftar gejala dari internet saja.

APA PENYEBAB KEPRIBADIAN GANDA?

Salah satu faktor yang paling sering dikaitkan dengan DID adalah pengalaman trauma berat dan berulang, terutama yang terjadi pada masa kanak-kanak. American Psychiatric Association menyebut DID berkaitan dengan pengalaman yang sangat berat, peristiwa traumatis, dan/atau kekerasan yang terjadi pada masa kanak-kanak.

NHS juga menjelaskan bahwa banyak orang dengan gangguan disosiatif memiliki pengalaman traumatis pada masa kanak-kanak. Pengalaman tersebut dapat mencakup kekerasan fisik, seksual, atau emosional. Trauma lain juga dapat berhubungan dengan munculnya gejala disosiatif, sehingga penyebabnya tidak dapat disederhanakan menjadi satu jenis pengalaman saja.

Disosiasi dapat menjadi cara pikiran untuk menghadapi pengalaman yang sangat sulit atau membuat seseorang merasa kewalahan. Dalam konteks trauma, keterputusan dari pengalaman atau ingatan tertentu dapat berfungsi sebagai respons terhadap situasi yang terasa terlalu berat. Namun, hubungan antara trauma dan DID tetap merupakan persoalan klinis yang kompleks dan perlu dinilai secara profesional.

MENGAPA TRAUMA DAPAT BERHUBUNGAN DENGAN DISOSIASI?

Ketika seseorang mengalami pengalaman yang sangat menekan, pikiran dapat memberikan respons yang berbeda-beda. Salah satunya adalah disosiasi, yaitu keterputusan tertentu dari pikiran, perasaan, ingatan, atau pengalaman yang sedang terjadi.

Pada sebagian orang, respons tersebut dapat berkaitan dengan cara menghadapi pengalaman yang sangat sulit. Jika masalah atau pengalaman traumatis terjadi berulang kali, pola disosiasi dapat menjadi bagian dari cara seseorang menghadapi tekanan.

Namun, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa setiap orang yang mengalami trauma akan mengalami DID. Trauma merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan DID, bukan bukti bahwa seseorang pasti mengalami gangguan tersebut. Banyak orang yang mengalami pengalaman traumatis tidak mengalami DID.

APAKAH SEMUA PERUBAHAN KEPRIBADIAN BERARTI DID?

Tidak. Setiap manusia dapat menunjukkan sisi perilaku yang berbeda dalam situasi tertentu. Seseorang mungkin lebih serius ketika belajar, lebih santai ketika bersama teman, atau lebih pendiam ketika berada di lingkungan baru. Perubahan seperti itu merupakan bagian dari variasi perilaku manusia.

DID memiliki karakteristik klinis yang lebih spesifik, termasuk gangguan identitas dan kesenjangan ingatan yang berulang serta dampak yang bermakna terhadap kehidupan seseorang. Karena itu, perubahan suasana hati atau kebiasaan saja tidak cukup untuk menyatakan bahwa seseorang mengalami DID.

Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak mudah memberikan label kepada orang lain. Diagnosis gangguan identitas disosiatif harus dilakukan oleh tenaga profesional, bukan berdasarkan penilaian teman, keluarga, media sosial, atau hasil pencarian internet. APA menekankan bahwa kriteria diagnostik DSM digunakan oleh tenaga profesional dengan penilaian klinis.

APAKAH DID SAMA DENGAN SKIZOFRENIA?

DID dan skizofrenia merupakan kondisi yang berbeda. Kesalahpahaman dapat muncul karena beberapa orang dengan DID dapat mengalami pengalaman seperti mendengar suara atau merasa memiliki identitas berbeda. Namun, karakteristik utama kedua kondisi tersebut tidak sama.

DID terutama berkaitan dengan gangguan identitas, ingatan, dan disosiasi. Sementara itu, skizofrenia merupakan gangguan lain dengan karakteristik klinis yang berbeda. Karena terdapat gejala yang dapat tampak mirip dalam situasi tertentu, pemeriksaan profesional penting untuk membedakan kondisi yang mungkin terjadi.

Menyamakan DID dengan skizofrenia dapat menimbulkan stigma dan membuat pemahaman masyarakat mengenai keduanya menjadi kurang tepat. Oleh karena itu, informasi mengenai kesehatan mental sebaiknya menggunakan istilah dan sumber yang dapat dipercaya.

BAGAIMANA DID DIDIAGNOSIS?

Diagnosis DID tidak dapat dilakukan hanya dengan melihat satu tanda. Tenaga kesehatan mental akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengalaman, gejala, riwayat, fungsi sehari-hari, serta kemungkinan kondisi lain yang dapat menyebabkan gejala serupa.

DSM-5-TR merupakan salah satu rujukan diagnostik yang digunakan tenaga kesehatan mental. APA menjelaskan bahwa kriteria dalam DSM ditujukan untuk digunakan oleh profesional terlatih dengan pertimbangan klinis, bukan sebagai alat diagnosis mandiri.

Proses evaluasi penting karena masalah ingatan, perubahan perilaku, kecemasan, gangguan tidur, atau pengalaman disosiatif dapat muncul dalam berbagai kondisi. Pemeriksaan yang tepat membantu profesional memahami penyebab dan kondisi yang sebenarnya dialami seseorang.

BAGAIMANA DID DAPAT MEMENGARUHI KEHIDUPAN SEHARI-HARI?

DID dapat memengaruhi berbagai bagian kehidupan seseorang. Kesenjangan ingatan atau perubahan keadaan identitas dapat membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih sulit, terutama ketika seseorang perlu mengingat informasi, menyelesaikan tugas, menjaga hubungan sosial, atau menjalankan tanggung jawab tertentu.

Dampaknya dapat berbeda-beda antara satu orang dan orang lainnya. American Psychiatric Association menyebut bahwa tingkat gangguan fungsi pada DID dapat bervariasi, mulai dari dampak yang relatif kecil hingga dampak yang lebih signifikan.

Karena itu, penting untuk tidak menganggap semua orang dengan DID memiliki pengalaman yang sama. Kondisi setiap individu dapat berbeda dan membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

BAGAIMANA PENANGANAN DID DILAKUKAN?

Penanganan gangguan disosiatif umumnya melibatkan dukungan dan psikoterapi atau terapi berbicara. NHS menjelaskan bahwa terapi dapat membantu seseorang memahami dan menghadapi penyebab yang mendasari gejala serta mempelajari cara mengelola periode ketika merasa terputus dari diri sendiri atau lingkungan.

Pendekatan penanganan ditentukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan individu. Karena DID berkaitan dengan pengalaman dan gejala yang kompleks, penanganannya perlu dilakukan bersama tenaga profesional yang memahami gangguan disosiatif.

Dukungan dari lingkungan juga dapat menjadi bagian penting. Sikap tidak menghakimi, menghormati privasi, dan mendorong seseorang mendapatkan bantuan profesional dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman dan suportif.

HAL PENTING YANG PERLU DIPAHAMI TENTANG KEPRIBADIAN GANDA

Beberapa poin utama yang perlu diketahui adalah:

  • Kepribadian ganda merupakan istilah populer, sedangkan istilah medis yang digunakan adalah Dissociative Identity Disorder atau DID.
  • DID berkaitan dengan gangguan pada identitas, ingatan, dan disosiasi.
  • Trauma berat dan berulang, terutama pada masa kanak-kanak, merupakan faktor yang sering dikaitkan dengan DID.
  • Tidak semua orang yang mengalami trauma akan mengalami DID, dan perubahan suasana hati biasa tidak berarti seseorang memiliki DID.
  • Diagnosis perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan mental yang terlatih, bukan berdasarkan penilaian sendiri.

KESIMPULAN

Kepribadian ganda atau Dissociative Identity Disorder (DID) merupakan gangguan disosiatif yang melibatkan gangguan pada identitas dan ingatan. Kondisi ini dapat ditandai dengan adanya dua atau lebih keadaan identitas yang berbeda serta kesenjangan ingatan yang berulang dan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.

Penyebab DID berkaitan dengan berbagai faktor dan sering dikaitkan dengan pengalaman trauma berat dan berulang, terutama pada masa kanak-kanak. Meski demikian, trauma tidak berarti seseorang pasti mengalami DID. Setiap kondisi perlu dipahami berdasarkan gejala, riwayat, dan evaluasi profesional.

Pemahaman yang tepat mengenai DID penting untuk menghindari stigma dan kesalahpahaman. Jika seseorang mengalami gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari, mendapatkan evaluasi dari tenaga kesehatan mental merupakan langkah yang tepat agar kondisi dapat dipahami dan ditangani secara sesuai.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.