University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 55 views

Apa Penyebab Quiet Quitting Terjadi di Lingkungan Kerja dan Bagaimana Mengatasinya?

G

Gusti Ayu Tita P

25 September 2026

Bagikan:
Apa Penyebab Quiet Quitting Terjadi di Lingkungan Kerja dan Bagaimana Mengatasinya?

Quiet quitting menjadi istilah yang semakin sering digunakan ketika membahas perubahan perilaku karyawan di dunia kerja. Istilah ini umumnya menggambarkan kondisi ketika seseorang tetap bekerja sesuai tanggung jawab formalnya, tetapi tidak lagi memberikan usaha tambahan di luar pekerjaan yang diwajibkan. Kondisi tersebut berbeda dengan mengundurkan diri karena karyawan masih menjalankan pekerjaannya dan tetap berada di perusahaan.

Fenomena quiet quitting di tempat kerja dapat muncul karena berbagai faktor, mulai dari beban kerja, kurangnya penghargaan, komunikasi yang tidak efektif, hingga ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Karena itu, perusahaan perlu memahami penyebabnya sebelum menentukan solusi. Dengan pendekatan yang tepat, hubungan antara karyawan dan perusahaan dapat diperbaiki sehingga produktivitas serta keterlibatan kerja dapat meningkat.

MEMAHAMI APA ITU QUIET QUITTING DI LINGKUNGAN KERJA

Quiet quitting bukan berarti seseorang benar-benar berhenti bekerja. Istilah ini lebih banyak digunakan untuk menggambarkan perubahan tingkat keterlibatan karyawan terhadap pekerjaannya. Karyawan mungkin tetap menyelesaikan tugas sesuai deskripsi pekerjaan, tetapi mulai mengurangi kesediaan untuk bekerja di luar jam kerja, mengambil tanggung jawab tambahan, atau melakukan pekerjaan yang dianggap tidak wajib.

Dalam kondisi tertentu, menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sebenarnya merupakan hal yang sehat. Namun, quiet quitting dapat menjadi perhatian ketika perubahan tersebut disertai penurunan motivasi, keterlibatan, komunikasi, atau kualitas pekerjaan. Oleh sebab itu, perusahaan sebaiknya tidak langsung menganggap karyawan yang menolak pekerjaan tambahan sebagai karyawan yang tidak produktif.

BEBAN KERJA DAN TEKANAN YANG TERLALU TINGGI

Salah satu penyebab quiet quitting adalah beban kerja yang tidak seimbang dengan kapasitas karyawan. Ketika seseorang terus mendapatkan tugas tambahan tanpa dukungan sumber daya, waktu, atau tenaga yang memadai, kelelahan dapat meningkat. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membuat karyawan memilih untuk hanya menyelesaikan tugas yang benar-benar menjadi tanggung jawabnya.

Tekanan kerja yang berlangsung terus-menerus juga dapat mengurangi motivasi untuk memberikan usaha tambahan. Karyawan mungkin merasa bahwa bekerja lebih keras tidak menghasilkan perubahan yang berarti terhadap penghargaan, perkembangan karier, atau kondisi pekerjaan. Karena itu, perusahaan perlu melakukan evaluasi terhadap pembagian tugas, target kerja, tenggat waktu, dan kapasitas setiap anggota tim.

KURANGNYA APRESIASI DAN PELUANG PENGEMBANGAN KARIER

Karyawan umumnya ingin merasa bahwa kontribusi mereka memiliki nilai bagi organisasi. Ketika hasil kerja jarang mendapatkan apresiasi atau kontribusi tambahan tidak pernah diperhatikan, motivasi untuk melakukan lebih dari tugas utama dapat berkurang. Kurangnya penghargaan terhadap kinerja dapat membuat karyawan merasa bahwa usaha ekstra tidak memberikan manfaat yang sepadan.

Selain apresiasi, peluang pengembangan karier juga berpengaruh terhadap keterlibatan karyawan. Jika seseorang tidak melihat kesempatan untuk belajar, mendapatkan tanggung jawab baru, atau berkembang dalam karier, pekerjaan dapat terasa monoton. Perusahaan dapat mengatasinya dengan menyediakan pelatihan, mentoring, evaluasi karier, dan jalur pengembangan yang lebih jelas sesuai kebutuhan karyawan.

KOMUNIKASI DAN KEPEMIMPINAN YANG KURANG EFEKTIF

Komunikasi antara atasan dan karyawan memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Ketika tujuan pekerjaan tidak dijelaskan dengan baik, umpan balik jarang diberikan, atau masalah karyawan tidak didengarkan, hubungan kerja dapat menjadi kurang nyaman. Kondisi tersebut dapat membuat karyawan memilih untuk bekerja sebatas memenuhi kewajiban.

Gaya kepemimpinan juga dapat memengaruhi keterlibatan karyawan. Pemimpin yang terlalu mengontrol, jarang memberikan apresiasi, atau tidak terbuka terhadap masukan dapat membuat anggota tim kehilangan rasa memiliki terhadap pekerjaan. Karena itu, pemimpin perlu membangun komunikasi dua arah, memberikan arahan yang jelas, serta menyediakan ruang bagi karyawan untuk menyampaikan kendala dan gagasan.

WORK LIFE BALANCE YANG TIDAK SEIMBANG

Ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi juga dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong quiet quitting. Karyawan yang terus menerima pekerjaan di luar jam kerja atau merasa harus selalu tersedia dapat mengalami kelelahan. Dalam kondisi tersebut, membatasi pekerjaan sesuai jam dan tanggung jawab formal dapat menjadi cara seseorang menjaga batas kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Work life balance bukan berarti karyawan tidak memiliki komitmen terhadap perusahaan. Sebaliknya, keseimbangan yang baik dapat membantu seseorang mempertahankan energi dan fokus dalam menjalankan pekerjaannya. Perusahaan dapat mendukungnya melalui pengaturan beban kerja yang realistis, jam kerja yang jelas, fleksibilitas yang sesuai, dan budaya kerja yang menghargai waktu pribadi.

BAGAIMANA PERUSAHAAN MENGATASI QUIET QUITTING?

Mengatasi quiet quitting sebaiknya tidak dilakukan dengan memberikan tekanan tambahan kepada karyawan. Perusahaan perlu mencari tahu terlebih dahulu alasan di balik perubahan perilaku tersebut. Survei karyawan, diskusi empat mata, evaluasi beban kerja, dan komunikasi rutin dapat membantu perusahaan memahami masalah yang sebenarnya terjadi.

Setelah penyebab ditemukan, perusahaan dapat melakukan perbaikan secara bertahap. Misalnya, memperjelas pembagian tugas, memberikan apresiasi yang sesuai, menyediakan peluang pengembangan, memperbaiki komunikasi antara atasan dan bawahan, serta mengevaluasi target kerja. Pendekatan tersebut dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan meningkatkan employee engagement tanpa mengharuskan karyawan terus-menerus bekerja di luar batas yang wajar.

PERAN KARYAWAN DALAM MENCEGAH QUIET QUITTING

Upaya mengatasi quiet quitting bukan hanya menjadi tanggung jawab perusahaan. Karyawan juga dapat berperan dengan menyampaikan masalah secara terbuka, mengomunikasikan kapasitas kerja, dan meminta arahan ketika menghadapi beban tugas yang tidak realistis. Komunikasi yang jelas dapat membantu mencegah masalah berkembang menjadi ketidakpuasan yang lebih besar.

Karyawan juga dapat melakukan evaluasi terhadap tujuan dan kondisi pekerjaannya. Jika merasa kehilangan motivasi, penting untuk mencari tahu apakah penyebabnya berasal dari beban kerja, hubungan dengan atasan, kurangnya perkembangan, atau faktor lainnya. Dengan komunikasi profesional dan evaluasi diri, karyawan dapat mencari solusi bersama perusahaan sebelum masalah berdampak lebih jauh terhadap kinerja dan hubungan kerja.

KESIMPULAN

Quiet quitting dapat terjadi ketika karyawan mulai membatasi keterlibatan dalam pekerjaan karena berbagai faktor, seperti beban kerja berlebihan, kurangnya apresiasi, minimnya peluang karier, komunikasi yang buruk, serta work life balance yang tidak sehat. Fenomena ini perlu dipahami secara objektif karena tidak setiap penolakan terhadap pekerjaan tambahan berarti karyawan kehilangan motivasi.

Perusahaan dapat mengatasinya dengan memperbaiki komunikasi, mengevaluasi beban kerja, memberikan apresiasi, menyediakan peluang pengembangan, dan menciptakan budaya kerja yang lebih sehat. Sementara itu, karyawan dapat membantu dengan menyampaikan kebutuhan dan kendala secara profesional. Pemahaman terhadap penyebab quiet quitting menjadi langkah penting untuk membangun hubungan kerja yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.