University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 85 views

Apa Penyebab Seseorang Menjadi Workaholic di Tempat Kerja?

G

Gusti Ayu Tita P

24 September 2026

Bagikan:
Apa Penyebab Seseorang Menjadi Workaholic di Tempat Kerja?

Bekerja dengan tekun merupakan bagian penting dalam mencapai target dan menyelesaikan tanggung jawab. Namun, ketika seseorang merasa harus terus bekerja tanpa memberikan waktu yang cukup untuk beristirahat, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi workaholic. Kondisi ini tidak selalu muncul karena satu alasan tertentu, tetapi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor dari dalam diri maupun lingkungan kerja. Tuntutan pekerjaan, tekanan untuk mencapai target, hingga kebiasaan pribadi dapat membuat seseorang semakin sulit melepaskan diri dari pekerjaan. Memahami penyebab seseorang menjadi workaholic dapat membantu mengenali pola kerja yang kurang sehat sejak awal.

TUNTUTAN PEKERJAAN YANG TINGGI

Salah satu faktor yang dapat mendorong seseorang bekerja secara berlebihan adalah tuntutan pekerjaan yang tinggi. Target yang banyak, tenggat waktu yang ketat, dan tanggung jawab besar dapat membuat seseorang merasa harus bekerja lebih lama. Dalam situasi tertentu, tambahan waktu kerja memang mungkin diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan. Namun, jika kondisi tersebut menjadi kebiasaan setiap hari, batas antara waktu kerja dan waktu pribadi dapat semakin kabur. Seseorang akhirnya terbiasa menganggap bekerja lebih lama sebagai bagian normal dari rutinitas.

Tuntutan yang terus menerus juga dapat membuat seseorang merasa tidak memiliki pilihan selain terus bekerja. Ketika daftar pekerjaan tidak kunjung berkurang, waktu istirahat dapat dianggap sebagai kesempatan yang harus dikorbankan. Beban kerja yang tidak seimbang dapat membuat seseorang kesulitan mengatur energi dan waktu. Jika tidak diikuti dengan pengelolaan pekerjaan yang baik, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kelelahan. Karena itu, beban dan prioritas pekerjaan perlu dikelola secara realistis.

TEKANAN UNTUK SELALU BERPRESTASI

Keinginan untuk mencapai hasil yang baik dapat menjadi motivasi positif. Namun, ketika seseorang merasa harus selalu memberikan hasil sempurna, pekerjaan dapat menjadi sumber tekanan yang terus menerus. Kesalahan kecil mungkin dianggap sebagai kegagalan sehingga seseorang terus memperbaiki pekerjaan meskipun hasilnya sebenarnya sudah memadai. Dorongan untuk mencapai standar yang sangat tinggi dapat membuat waktu kerja semakin panjang. Pada akhirnya, seseorang dapat merasa bahwa dirinya hanya cukup baik ketika terus bekerja.

Tekanan untuk berprestasi juga dapat muncul ketika pencapaian kerja sangat sering dijadikan ukuran keberhasilan pribadi. Seseorang mungkin merasa harus terus menunjukkan kemampuan agar mendapatkan pengakuan atau mempertahankan reputasi profesional. Kebutuhan akan pencapaian yang terlalu dominan dapat membuat waktu istirahat terasa kurang penting. Jika tidak dikendalikan, pekerjaan dapat mengambil porsi yang terlalu besar dalam kehidupan. Penting untuk memahami bahwa nilai diri seseorang tidak hanya ditentukan oleh jumlah pekerjaan yang berhasil diselesaikan.

LINGKUNGAN KERJA YANG TERLALU MENUNTUT

Lingkungan kerja juga dapat memengaruhi kebiasaan seseorang dalam bekerja. Jika bekerja hingga larut malam dianggap sebagai hal biasa, seseorang mungkin merasa perlu mengikuti kebiasaan tersebut agar tidak dianggap kurang berdedikasi. Budaya yang terlalu menekankan kesibukan dapat membuat jam kerja panjang terlihat seperti sesuatu yang harus dibanggakan. Dalam kondisi seperti itu, batas waktu kerja dapat menjadi semakin sulit diterapkan. Kebiasaan bekerja berlebihan akhirnya dapat berkembang karena pengaruh lingkungan sekitar.

Komunikasi pekerjaan yang berlangsung sepanjang waktu juga dapat memperpanjang aktivitas kerja. Pesan, email, atau permintaan tugas yang muncul di luar jam kerja dapat membuat seseorang merasa harus selalu tersedia. Batas kerja yang tidak jelas dapat menyebabkan waktu pribadi terus bercampur dengan urusan pekerjaan. Lingkungan kerja yang sehat sebaiknya memiliki komunikasi dan pembagian tanggung jawab yang jelas. Dengan batas tersebut, karyawan dapat memahami kapan harus bekerja dan kapan memiliki waktu untuk beristirahat.

KEBIASAAN SULIT MENOLAK PEKERJAAN

Seseorang juga dapat menjadi workaholic karena sulit mengatakan tidak ketika mendapatkan tugas tambahan. Keinginan untuk membantu rekan kerja atau menunjukkan kemampuan sebenarnya merupakan hal positif. Namun, jika seseorang terus menerima pekerjaan meskipun kapasitasnya sudah penuh, beban kerja dapat meningkat secara berlebihan. Akibatnya, waktu istirahat sering dikorbankan agar semua tugas dapat diselesaikan. Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang terbiasa mengambil tanggung jawab lebih banyak daripada yang mampu ditangani.

Kesulitan menolak juga dapat berkaitan dengan kekhawatiran mengecewakan orang lain. Seseorang mungkin merasa harus selalu tersedia ketika diminta bantuan. Kemampuan menetapkan batas menjadi penting agar pekerjaan tambahan tidak mengganggu tanggung jawab utama. Sebelum menerima tugas baru, pertimbangkan tingkat urgensi, waktu yang tersedia, dan pekerjaan yang sedang dikerjakan. Dengan komunikasi yang baik, seseorang dapat tetap membantu tanpa harus mengorbankan seluruh waktu pribadi.

KEINGINAN MENDAPATKAN PENGAKUAN

Pengakuan dari atasan atau rekan kerja dapat menjadi motivasi dalam bekerja. Namun, jika seseorang mulai merasa harus terus bekerja agar mendapatkan apresiasi dan pengakuan, pola tersebut dapat menjadi kurang sehat. Pujian atau pencapaian tertentu dapat membuat seseorang terdorong untuk mempertahankan performa dengan cara bekerja semakin lama. Ketika pekerjaan menjadi sumber utama rasa berhasil, waktu istirahat mungkin mulai dianggap tidak penting. Kondisi ini dapat membuat seseorang sulit merasa puas meskipun sudah mencapai banyak hal.

Keinginan mendapatkan pengakuan juga dapat muncul karena seseorang ingin menunjukkan bahwa dirinya dapat diandalkan. Sikap bertanggung jawab memang penting, tetapi tetap perlu disertai batas yang jelas. Prestasi kerja sebaiknya tidak menjadi satu satunya sumber penghargaan terhadap diri sendiri. Seseorang tetap membutuhkan waktu untuk kehidupan pribadi dan pemulihan. Dengan keseimbangan tersebut, motivasi bekerja dapat tetap terjaga tanpa harus berubah menjadi dorongan untuk terus bekerja.

KURANGNYA KEMAMPUAN MENGELOLA WAKTU

Manajemen waktu yang kurang baik dapat membuat pekerjaan menumpuk dan akhirnya mendorong seseorang bekerja lebih lama. Ketika tugas tidak memiliki prioritas yang jelas, banyak waktu dapat habis untuk pekerjaan yang sebenarnya kurang mendesak. Pekerjaan penting kemudian harus diselesaikan dalam waktu yang lebih sempit. Situasi tersebut membuat seseorang merasa perlu menambah jam kerja agar semua tugas dapat selesai. Jika terus berulang, pola tersebut dapat menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.

Manajemen waktu yang baik dapat membantu mengurangi kebutuhan untuk bekerja secara berlebihan. Buat daftar pekerjaan, tentukan prioritas, dan berikan batas waktu yang realistis untuk setiap tugas. Sisakan ruang untuk istirahat agar jadwal tidak terlalu padat. Evaluasi pekerjaan secara berkala untuk mengetahui aktivitas mana yang menghabiskan waktu paling banyak. Dengan perencanaan yang lebih teratur, pekerjaan dapat diselesaikan secara efisien tanpa harus mengorbankan seluruh waktu pribadi.

KESIMPULAN

Penyebab seseorang menjadi workaholic di tempat kerja dapat berasal dari berbagai faktor, seperti tuntutan pekerjaan yang tinggi, tekanan untuk berprestasi, lingkungan kerja yang terlalu menuntut, sulit menolak pekerjaan, keinginan mendapatkan pengakuan, dan kurangnya kemampuan mengatur waktu. Tidak semua orang yang bekerja lama otomatis merupakan workaholic karena situasi pekerjaan tertentu memang dapat membutuhkan waktu tambahan. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika bekerja secara berlebihan menjadi pola yang terus berulang dan sulit dikendalikan. Dengan mengenali faktor penyebabnya, seseorang dapat mulai menetapkan batas kerja yang lebih sehat. Pengelolaan waktu, komunikasi yang jelas, dan keseimbangan kehidupan dapat membantu menjaga produktivitas tanpa mengorbankan kesehatan.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.