University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 13 views

Apa Peran Guru dalam Membangun Budaya Sekolah Adiwiyata?

G

Gusti Ayu Tita P

15 September 2026

Bagikan:
Apa Peran Guru dalam Membangun Budaya Sekolah Adiwiyata?

Guru memiliki peran penting dalam membangun budaya Sekolah Adiwiyata karena guru berinteraksi langsung dengan siswa dalam kegiatan pendidikan sehari-hari. Guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga dapat menjadi contoh dalam menerapkan perilaku peduli lingkungan. Melalui arahan dan pembiasaan yang konsisten, siswa dapat memahami pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Karena itu, keberhasilan program Sekolah Adiwiyata membutuhkan keterlibatan guru bersama seluruh warga sekolah.

MEMBERIKAN CONTOH PERILAKU PEDULI LINGKUNGAN

Guru dapat menjadi teladan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari. Misalnya, guru dapat membuang sampah pada tempatnya, menggunakan air secukupnya, mematikan perangkat listrik ketika tidak digunakan, dan menjaga fasilitas sekolah. Siswa cenderung lebih mudah memahami suatu kebiasaan ketika melihat contoh yang dilakukan secara langsung. Keteladanan guru dapat membantu membangun perilaku peduli lingkungan secara alami.

Guru juga dapat menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya dilakukan ketika ada kegiatan khusus. Kebiasaan tersebut perlu diterapkan dalam aktivitas sekolah sehari-hari agar siswa melihatnya sebagai bagian dari kehidupan. Guru dapat mengajak siswa menjaga kebersihan kelas sebelum dan sesudah pembelajaran. Dengan cara tersebut, budaya peduli lingkungan dapat tumbuh melalui contoh yang dilakukan secara konsisten.

MENGINTEGRASIKAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN DALAM PEMBELAJARAN

Guru dapat menghubungkan materi pelajaran dengan isu dan kegiatan lingkungan yang sesuai. Misalnya, pelajaran sains dapat membahas ekosistem dan pengelolaan sampah, sedangkan pelajaran bahasa dapat digunakan untuk membuat poster atau tulisan bertema lingkungan. Pendekatan tersebut membuat siswa memahami bahwa pendidikan lingkungan dapat diterapkan dalam berbagai bidang pembelajaran. Materi menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Pembelajaran juga dapat dilakukan melalui kegiatan praktik dan pengamatan langsung. Siswa dapat mengamati kondisi taman sekolah, menghitung jumlah sampah, membuat laporan sederhana, atau mencari solusi terhadap masalah lingkungan yang ditemukan. Guru berperan memberikan arahan agar kegiatan tetap sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dengan demikian, siswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga memperoleh pengalaman nyata dalam menjaga lingkungan.

MENGAJAK SISWA AKTIF DALAM KEGIATAN LINGKUNGAN

Guru dapat mendorong siswa untuk terlibat dalam berbagai kegiatan Sekolah Adiwiyata. Kegiatan tersebut dapat berupa kerja bakti, penghijauan, pemilahan sampah, pengomposan, kampanye lingkungan, atau perawatan taman sekolah. Guru dapat membagi tugas sesuai kemampuan dan minat siswa agar setiap peserta memiliki peran. Keterlibatan langsung dapat membuat siswa merasa memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan sekolah.

Guru juga dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan ide dan membuat kegiatan sederhana. Misalnya, siswa dapat mengusulkan kampanye pengurangan plastik atau membuat pengingat untuk menghemat listrik. Guru berperan sebagai pendamping yang membantu mengarahkan ide tersebut agar dapat dilaksanakan dengan baik. Partisipasi aktif siswa dapat membuat program lingkungan lebih menarik dan tidak terasa sebagai kewajiban semata.

MEMBANGUN KEBIASAAN MENJAGA KEBERSIHAN

Kebersihan merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman. Guru dapat membiasakan siswa menjaga kebersihan ruang kelas, membuang sampah dengan benar, dan merawat fasilitas yang digunakan bersama. Pengingat dapat diberikan ketika diperlukan tanpa menjadikan kebersihan sebagai bentuk hukuman. Pembiasaan yang dilakukan secara rutin dapat membantu siswa membentuk perilaku yang lebih bertanggung jawab.

Guru juga dapat mengajak siswa mengevaluasi kondisi kebersihan kelas secara sederhana. Misalnya, siswa dapat mengamati apakah tempat sampah sudah digunakan dengan benar atau apakah terdapat area yang perlu dibersihkan. Kegiatan tersebut dapat membuat siswa lebih peka terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat mendukung terbentuknya lingkungan sekolah yang bersih dan sehat.

MEMBERIKAN EDUKASI TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH

Guru dapat membantu siswa memahami bahwa sampah perlu dikelola dengan cara yang tepat. Siswa dapat diberikan penjelasan mengenai perbedaan sampah organik dan anorganik serta pentingnya mengurangi sampah sejak dari sumbernya. Guru juga dapat mengajarkan kebiasaan menggunakan kembali barang yang masih layak dan memilah material yang dapat dikelola lebih lanjut. Edukasi pengelolaan sampah dapat membuat siswa memahami alasan di balik aturan kebersihan sekolah.

Selain memberikan penjelasan, guru dapat mengajak siswa melakukan praktik sederhana. Contohnya adalah memilah sampah yang dihasilkan di kelas atau membuat kegiatan pemanfaatan barang bekas yang aman. Jika sekolah memiliki program bank sampah atau pengomposan, guru dapat mendukung keterlibatan siswa sesuai sistem yang diterapkan. Dengan begitu, siswa dapat belajar bahwa pengelolaan sampah membutuhkan kebiasaan dan kerja sama.

MENDORONG PENGHEMATAN AIR DAN ENERGI

Guru juga dapat membantu membangun kebiasaan menggunakan sumber daya secara bijak. Siswa dapat diingatkan untuk menutup keran setelah digunakan dan menggunakan air sesuai kebutuhan. Guru juga dapat mengajak siswa mematikan lampu, kipas, komputer, atau peralatan lain ketika tidak diperlukan dan sesuai kondisi ruangan. Penghematan air dan energi merupakan kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan setiap hari.

Kebiasaan tersebut akan lebih mudah diterapkan apabila guru memberikan contoh secara langsung. Guru dapat menjelaskan bahwa penghematan bukan berarti mengurangi kebutuhan yang penting, tetapi menghindari penggunaan sumber daya secara berlebihan. Siswa juga dapat diajak melaporkan fasilitas yang mengalami kerusakan, seperti keran yang bocor atau lampu yang bermasalah. Langkah tersebut dapat membantu membangun kesadaran menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab.

BEKERJA SAMA DENGAN SELURUH WARGA SEKOLAH

Guru tidak dapat menjalankan program lingkungan seorang diri. Dibutuhkan kerja sama dengan kepala sekolah, tenaga kependidikan, siswa, pengelola kantin, petugas kebersihan, serta pihak lain yang terlibat dalam kegiatan sekolah. Guru dapat membantu mengoordinasikan kegiatan dan memastikan pesan tentang kepedulian lingkungan terus diterapkan. Kerja sama seluruh warga sekolah membuat program Adiwiyata dapat berjalan lebih terarah.

Koordinasi juga diperlukan agar kegiatan lingkungan tidak berhenti setelah satu kegiatan selesai. Sekolah perlu mengevaluasi kegiatan dan memperbaiki bagian yang masih kurang. Guru dapat memberikan masukan berdasarkan pengamatan selama proses pembelajaran dan kegiatan sekolah. Dengan kolaborasi yang baik, budaya Sekolah Adiwiyata dapat berkembang menjadi kebiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan.

KESIMPULAN

Guru memiliki peran besar dalam membangun budaya Sekolah Adiwiyata melalui keteladanan, pembelajaran, pembiasaan, dan pendampingan kegiatan lingkungan. Guru dapat mengajarkan pengelolaan sampah, mendorong penghijauan, mengajak siswa menjaga kebersihan, serta membiasakan penghematan air dan energi. Peran tersebut akan semakin efektif jika dilakukan melalui kerja sama seluruh warga sekolah. Dengan keterlibatan yang konsisten, guru dapat membantu membentuk siswa yang tidak hanya memiliki pengetahuan tentang lingkungan, tetapi juga mampu menerapkan perilaku peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.

Continue Reading

More Articles