University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 20 views

Apa Saja Dampak FOMO dalam Kehidupan Sosial?

G

Gusti Ayu Tita P

12 September 2026

Bagikan:
Apa Saja Dampak FOMO dalam Kehidupan Sosial?

FOMO atau Fear of Missing Out adalah perasaan takut tertinggal dari pengalaman, informasi, aktivitas, atau tren yang sedang diikuti orang lain. Kondisi ini semakin sering muncul karena penggunaan media sosial membuat seseorang dapat melihat berbagai aktivitas orang lain secara terus-menerus. Ketika melihat teman sedang berkumpul, bepergian, mengikuti tren, atau mencapai sesuatu, seseorang dapat merasa dirinya tidak ikut mendapatkan pengalaman yang sama. Jika tidak dikendalikan, FOMO dapat memengaruhi cara seseorang berinteraksi dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam batas tertentu, keinginan untuk tetap terhubung dengan lingkungan sosial merupakan hal yang wajar. Namun, FOMO yang berlebihan dapat membuat seseorang terlalu memikirkan kehidupan orang lain dan mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri. Perasaan tersebut juga dapat memicu tekanan sosial, kecemasan, hingga perubahan perilaku dalam hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, memahami dampak FOMO penting agar seseorang dapat menggunakan media sosial dan menjalani kehidupan sosial secara lebih sehat.

FOMO DAPAT MEMICU KECEMASAN SOSIAL

Salah satu dampak FOMO yang cukup umum adalah meningkatnya kecemasan dalam kehidupan sosial. Seseorang mungkin merasa khawatir ketika tidak mengetahui kegiatan yang dilakukan teman atau lingkungan sekitarnya. Ketika melihat unggahan orang lain, muncul pikiran bahwa dirinya sedang melewatkan sesuatu yang penting. Perasaan tersebut dapat membuat seseorang terus memeriksa media sosial untuk memastikan dirinya tidak tertinggal informasi. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat membuat pikiran sulit beristirahat.

FOMO juga dapat membuat seseorang terlalu memperhatikan bagaimana dirinya dipandang oleh orang lain. Ia mungkin merasa harus selalu hadir dalam kegiatan tertentu agar tetap dianggap sebagai bagian dari kelompok. Padahal, tidak semua kegiatan harus diikuti dan tidak semua informasi perlu diketahui secara langsung. Kemampuan untuk merasa nyaman ketika tidak ikut dalam suatu aktivitas menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kehidupan sosial.

HUBUNGAN SOSIAL DAPAT MENJADI KURANG SEHAT

FOMO dapat memengaruhi hubungan sosial ketika seseorang mulai membandingkan dirinya dengan teman atau orang lain. Melihat orang lain memiliki banyak teman, sering bepergian, atau mengikuti berbagai kegiatan dapat menimbulkan perasaan kurang percaya diri. Seseorang kemudian dapat menganggap kehidupan sosial orang lain lebih menarik daripada kehidupannya sendiri. Perbandingan sosial yang berlebihan dapat membuat hubungan dengan orang lain terasa seperti sebuah persaingan.

Dalam kondisi tertentu, FOMO juga dapat menimbulkan rasa iri atau kecewa ketika seseorang tidak dilibatkan dalam sebuah kegiatan. Perasaan tersebut dapat memengaruhi cara seseorang berkomunikasi dengan teman, keluarga, maupun rekan kerja. Jika tidak dikelola dengan baik, masalah kecil dapat berkembang menjadi konflik atau kesalahpahaman. Karena itu, hubungan sosial sebaiknya dibangun berdasarkan komunikasi, kepercayaan, dan kenyamanan, bukan sekadar keinginan untuk selalu mengikuti aktivitas orang lain.

MUNCULNYA KEBIASAAN TERLALU SERING MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL

FOMO memiliki hubungan yang erat dengan kebiasaan memeriksa media sosial secara berulang. Seseorang dapat membuka aplikasi berkali-kali karena takut melewatkan pesan, unggahan, berita, atau aktivitas terbaru. Kebiasaan ini dapat membuat perhatian terbagi ketika sedang belajar, bekerja, makan, atau berbicara dengan orang lain. Dalam jangka panjang, penggunaan media sosial yang tidak terkendali dapat mengurangi kualitas interaksi secara langsung.

Masalahnya bukan hanya pada lamanya waktu menggunakan media sosial, tetapi juga pada dorongan untuk terus mendapatkan informasi terbaru. Notifikasi, unggahan baru, dan aktivitas teman dapat membuat seseorang merasa harus selalu terhubung. Akibatnya, waktu untuk beristirahat atau melakukan kegiatan yang lebih bermakna dapat berkurang. Membatasi notifikasi dan menentukan waktu khusus untuk membuka media sosial dapat membantu mengurangi dorongan akibat FOMO.

FOMO DAPAT MENDORONG KEPUTUSAN YANG TIDAK SESUAI KEBUTUHAN

Perasaan takut tertinggal juga dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, seseorang membeli barang yang sedang populer karena melihat banyak orang menggunakannya, meskipun barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan. Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang mengikuti acara, tren, atau aktivitas tertentu hanya karena takut dianggap ketinggalan. Keputusan yang didasarkan pada tekanan sosial berisiko membuat seseorang menyesal setelah mengambil tindakan.

Dampaknya dapat menjadi lebih besar ketika FOMO berkaitan dengan pengeluaran uang. Keinginan untuk mengikuti gaya hidup lingkungan dapat membuat seseorang membeli produk, bepergian, atau mengikuti berbagai kegiatan di luar kemampuan finansialnya. Karena itu, penting untuk membedakan antara kebutuhan pribadi dan keinginan untuk mengikuti orang lain. Sebelum mengambil keputusan, seseorang dapat bertanya apakah pilihan tersebut memang sesuai dengan tujuan, kemampuan, dan prioritas hidupnya.

FOMO DAPAT MEMENGARUHI KESEHATAN MENTAL DAN EMOSI

FOMO yang terus terjadi dapat membuat seseorang lebih mudah merasa cemas, tidak puas, kecewa, atau rendah diri. Kehidupan orang lain yang terlihat menarik di media sosial sering kali hanya menunjukkan sebagian kecil dari kenyataan. Ketika seseorang membandingkan kehidupan nyata dengan gambaran terbaik yang ditampilkan orang lain, standar yang dibuat dapat menjadi tidak realistis. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa hidupnya kurang menarik meskipun sebenarnya berjalan dengan baik.

Selain itu, keinginan untuk selalu mengikuti perkembangan lingkungan dapat membuat pikiran sulit tenang. Seseorang mungkin merasa bersalah ketika memilih beristirahat atau tidak mengikuti kegiatan tertentu. Padahal, tidak mengikuti semua aktivitas bukan berarti seseorang tertinggal dalam kehidupan. Menentukan prioritas, menerima keterbatasan diri, dan menghargai kehidupan yang sedang dijalani dapat membantu mengurangi tekanan emosional akibat FOMO.

CARA MENGURANGI DAMPAK FOMO DALAM KEHIDUPAN SOSIAL

Mengurangi FOMO dapat dimulai dengan menyadari bahwa media sosial tidak menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang. Apa yang terlihat dalam unggahan biasanya merupakan momen yang dipilih untuk dibagikan, bukan seluruh pengalaman seseorang. Membatasi waktu penggunaan media sosial dan mematikan notifikasi yang tidak penting juga dapat membantu mengurangi kebiasaan memeriksa aplikasi secara berulang. Dengan begitu, perhatian dapat kembali diarahkan pada aktivitas yang sedang dijalani.

Selain mengatur penggunaan media sosial, penting untuk membangun kehidupan sosial yang sesuai dengan nilai dan kebutuhan pribadi. Seseorang tidak harus mengikuti semua tren atau menghadiri setiap kegiatan agar memiliki hubungan sosial yang baik. Fokus pada hubungan yang berkualitas dapat memberikan manfaat yang lebih besar daripada sekadar memiliki banyak aktivitas sosial. Jika perasaan cemas atau tekanan akibat FOMO terasa sangat kuat dan mengganggu kehidupan sehari-hari, berbicara dengan orang yang dipercaya atau tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.

KESIMPULAN

FOMO dapat memberikan dampak nyata terhadap kehidupan sosial apabila muncul secara berlebihan. Kondisi ini dapat meningkatkan kecemasan sosial, memicu perbandingan dengan orang lain, membuat penggunaan media sosial semakin sulit dikendalikan, serta memengaruhi keputusan dalam kehidupan sehari-hari. FOMO juga dapat membuat seseorang merasa tidak puas dengan kehidupannya sendiri karena terlalu berfokus pada pengalaman orang lain. Oleh sebab itu, penting untuk memahami bahwa setiap orang memiliki kebutuhan, kemampuan, prioritas, dan perjalanan hidup yang berbeda.

Mengelola FOMO bukan berarti harus meninggalkan media sosial atau berhenti mengikuti perkembangan lingkungan. Hal yang lebih penting adalah menggunakan media sosial secara sadar dan seimbang, serta tidak menjadikannya sebagai ukuran utama kebahagiaan atau keberhasilan. Dengan menetapkan batasan, memperkuat hubungan yang sehat, dan belajar menikmati kehidupan saat ini, seseorang dapat menjalani kehidupan sosial dengan lebih tenang dan percaya diri.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.

Continue Reading

More Articles