University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 65 views

Apa Saja Tanda Seseorang Sedang Mengalami Trust Issues?

G

Gusti Ayu Tita P

24 September 2026

Bagikan:
Apa Saja Tanda Seseorang Sedang Mengalami Trust Issues?

Kepercayaan merupakan bagian penting dalam hubungan dengan orang lain. Ketika seseorang dapat memberikan kepercayaan dengan sehat, ia biasanya lebih mudah berkomunikasi, bekerja sama, dan membangun kedekatan emosional. Namun, pengalaman buruk seperti kebohongan, pengkhianatan, penolakan, atau hubungan yang tidak sehat dapat membuat seseorang menjadi lebih berhati-hati terhadap orang lain.

Trust issues adalah istilah umum untuk menggambarkan kesulitan mempercayai orang lain, bukan sebuah diagnosis medis. Kondisi ini dapat muncul dalam hubungan percintaan, pertemanan, keluarga, maupun lingkungan pekerjaan. Mengenali tanda-tandanya dapat membantu seseorang memahami pola perilakunya dan mengetahui kapan masalah kepercayaan mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari.

APA ITU TRUST ISSUES?

Trust issues menggambarkan kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan memberikan kepercayaan kepada orang lain atau terus merasa ragu terhadap niat dan perilaku orang di sekitarnya. Keraguan tersebut dapat berasal dari pengalaman masa lalu maupun kekhawatiran terhadap kemungkinan disakiti.

Seseorang dengan masalah kepercayaan tidak selalu menolak semua bentuk hubungan. Ia mungkin tetap ingin dekat dengan orang lain, tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa aman. Dalam situasi tertentu, rasa takut tersebut dapat membuat seseorang lebih sering mencari kepastian atau mengantisipasi kemungkinan buruk.

Penting dipahami bahwa berhati-hati tidak otomatis berarti mengalami trust issues. Kepercayaan memang sebaiknya dibangun secara bertahap. Masalah dapat muncul ketika rasa curiga, takut, atau kewaspadaan menjadi berlebihan hingga mengganggu hubungan dan aktivitas sehari-hari.

SERING MERASA CURIGA TERHADAP ORANG LAIN

Salah satu tanda yang dapat muncul adalah sering mencurigai perkataan atau tindakan orang lain tanpa bukti yang cukup. Seseorang mungkin merasa bahwa orang lain sedang menyembunyikan sesuatu meskipun belum terdapat informasi yang mendukung dugaan tersebut.

Dalam hubungan percintaan, misalnya, pasangan yang terlambat membalas pesan dapat langsung dianggap sedang berbohong atau melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Padahal, terdapat banyak kemungkinan lain seperti sedang bekerja, belajar, beristirahat, atau tidak dapat menggunakan ponsel.

Jika rasa curiga muncul secara terus-menerus, seseorang dapat mengalami kesulitan membedakan antara fakta dan asumsi. Kecurigaan yang berlebihan dapat membuat hubungan menjadi penuh ketegangan, terutama jika setiap dugaan langsung berubah menjadi tuduhan.

SULIT MEMBUKA DIRI KEPADA ORANG LAIN

Tanda lainnya adalah kesulitan untuk terbuka secara emosional. Seseorang mungkin merasa takut menceritakan pengalaman, perasaan, atau masalah pribadi karena khawatir informasi tersebut akan digunakan untuk menyakitinya.

Sulit membuka diri dapat menjadi cara seseorang melindungi diri dari kemungkinan terluka. Menjaga privasi tentu merupakan hal yang wajar, tetapi jika seseorang sama sekali tidak dapat mempercayai orang lain meskipun hubungan sudah berjalan cukup lama, hal tersebut dapat menjadi tanda adanya masalah kepercayaan.

Akibatnya, hubungan dapat terasa kurang dekat. Orang lain mungkin merasa sulit memahami apa yang sebenarnya dirasakan karena komunikasi emosional tidak berkembang secara terbuka.

TERLALU SERING MEMBUTUHKAN KEPASTIAN

Orang yang mengalami masalah kepercayaan dapat sering membutuhkan reassurance atau kepastian dari orang lain. Dalam hubungan percintaan, misalnya, seseorang mungkin berkali-kali bertanya apakah pasangannya masih mencintai atau tetap ingin mempertahankan hubungan.

Kepastian dari pasangan dapat membuat seseorang merasa tenang untuk sementara. Namun, jika rasa aman hanya bergantung pada jawaban orang lain, kebutuhan tersebut dapat muncul kembali ketika menghadapi situasi yang dianggap mengancam.

Membutuhkan kepastian sesekali merupakan hal yang wajar, terutama ketika seseorang sedang menghadapi situasi sulit. Namun, jika kebutuhan tersebut muncul terus-menerus dan sulit dikendalikan, pola tersebut dapat memengaruhi keseimbangan hubungan.

TAKUT DIKHIANATI ATAU DITINGGALKAN

Pengalaman buruk dapat membuat seseorang terus mengantisipasi kemungkinan mengalami kejadian yang sama. Takut dikhianati atau ditinggalkan dapat menjadi salah satu tanda yang berkaitan dengan masalah kepercayaan.

Seseorang mungkin selalu berpikir bahwa orang yang dekat dengannya pada akhirnya akan pergi, berbohong, atau memilih orang lain. Bahkan ketika hubungan sedang berjalan dengan baik, kekhawatiran tersebut tetap dapat muncul.

Ketakutan ini dapat membuat seseorang sulit menikmati hubungan yang sedang dijalani. Perhatian lebih banyak tertuju pada kemungkinan kehilangan daripada pengalaman positif yang sedang terjadi.

SERING OVERTHINKING TERHADAP PERILAKU ORANG LAIN

Overthinking dapat menjadi tanda yang sering muncul ketika seseorang merasa tidak aman dalam hubungan. Perubahan kecil dalam komunikasi dapat dianalisis secara berlebihan dan dianggap memiliki makna tertentu.

Contohnya, seseorang mungkin memikirkan mengapa temannya menggunakan kata tertentu dalam pesan, mengapa pasangan membutuhkan waktu lebih lama untuk membalas, atau mengapa seseorang terlihat berbeda dari biasanya.

Masalahnya, pikiran yang terus berkembang dapat menciptakan berbagai skenario yang belum tentu sesuai dengan kenyataan. Tidak semua pikiran merupakan fakta, sehingga penting memeriksa informasi sebelum menarik kesimpulan.

SULIT MEMERCAYAI PERKATAAN MESKIPUN SUDAH DIJELASKAN

Tanda lainnya adalah sulit menerima penjelasan orang lain. Seseorang mungkin tetap merasa ada sesuatu yang disembunyikan meskipun orang lain sudah memberikan penjelasan yang masuk akal.

Kondisi ini dapat membuat percakapan menjadi berulang. Orang yang dicurigai merasa harus terus membuktikan dirinya, sedangkan orang yang memiliki masalah kepercayaan tetap merasa belum mendapatkan jawaban yang cukup.

Kepercayaan tidak hanya bergantung pada penjelasan orang lain, tetapi juga pada kemampuan seseorang mengelola rasa takut dan menilai bukti secara objektif. Karena itu, penting untuk melihat pola perilaku secara keseluruhan, bukan hanya satu kejadian.

CENDERUNG MENJAGA JARAK DARI ORANG LAIN

Tidak semua orang dengan trust issues menunjukkan rasa curiga secara terbuka. Sebagian justru menjaga jarak secara emosional agar tidak terlalu dekat dengan orang lain.

Menjaga jarak dapat membuat seseorang merasa lebih aman karena risiko terluka dianggap lebih kecil. Namun, jika dilakukan terus-menerus, pola tersebut dapat membuat seseorang kesulitan membangun hubungan yang dekat dan saling mendukung.

Seseorang mungkin ingin memiliki hubungan yang baik, tetapi secara tidak sadar menolak kedekatan ketika hubungan mulai menjadi lebih serius. Kondisi tersebut dapat membuat orang lain bingung terhadap perubahan sikap yang terjadi.

SULIT MENERIMA BANTUAN DARI ORANG LAIN

Seseorang yang memiliki masalah kepercayaan dapat merasa bahwa hanya dirinya sendiri yang dapat diandalkan. Akibatnya, ia mungkin menolak bantuan bahkan ketika bantuan tersebut diberikan dengan tulus.

Sikap mandiri pada dasarnya merupakan hal positif. Namun, terlalu sulit menerima bantuan dapat membuat seseorang memikul semua masalah sendirian dan kehilangan kesempatan untuk membangun hubungan yang saling mendukung.

Penting membedakan antara kemandirian dan ketidakmampuan mempercayai orang lain. Menerima bantuan bukan berarti kehilangan kendali, selama seseorang tetap memiliki batasan dan dapat menentukan bantuan seperti apa yang dibutuhkan.

SERING MENGUJI ORANG LAIN

Tanda lain yang mungkin muncul adalah menguji kesetiaan atau kepedulian orang lain. Seseorang dapat sengaja melakukan atau mengatakan sesuatu untuk melihat bagaimana orang lain bereaksi.

Dalam hubungan percintaan, misalnya, seseorang mungkin sengaja membuat pasangan cemburu untuk mengetahui apakah pasangan masih peduli. Ada juga yang sengaja tidak menghubungi seseorang untuk melihat apakah orang tersebut akan mencarinya.

Cara seperti ini dapat menciptakan masalah karena hubungan menjadi bergantung pada permainan atau pengujian, bukan komunikasi langsung. Kepercayaan lebih sehat dibangun melalui komunikasi dan konsistensi daripada melalui tes tersembunyi.

SULIT MEMAAFKAN KESALAHAN MASA LALU

Seseorang yang pernah mengalami pengkhianatan mungkin terus mengingat kesalahan tersebut meskipun masalah sudah dibicarakan. Pengalaman itu dapat menjadi dasar untuk menilai setiap tindakan baru yang dilakukan orang lain.

Kesalahan masa lalu memang dapat memengaruhi kepercayaan, terutama jika dampaknya besar. Namun, jika setiap kejadian baru selalu dikaitkan dengan kesalahan sebelumnya, hubungan dapat sulit berkembang.

Memaafkan juga tidak berarti mengabaikan batasan atau menerima perilaku buruk berulang kali. Yang penting adalah mampu membedakan antara pengalaman yang sudah selesai dan masalah yang memang masih berlangsung.

MENGALAMI KECEMASAN KETIKA TIDAK MENDAPAT KABAR

Tidak mendapatkan kabar dari seseorang dapat memicu kekhawatiran pada orang yang mengalami masalah kepercayaan. Ketidakpastian kecil dapat terasa seperti tanda bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Misalnya, pasangan atau teman tidak memberikan kabar selama beberapa jam. Seseorang mungkin langsung membayangkan bahwa dirinya sedang diabaikan, dibohongi, atau ditinggalkan.

Padahal, tidak adanya kabar belum tentu menunjukkan masalah dalam hubungan. Belajar menunggu informasi dan membedakan fakta dari asumsi dapat membantu seseorang merespons situasi dengan lebih tenang.

APA YANG HARUS DILAKUKAN JIKA MENGENALI TANDA TRUST ISSUES?

Mengenali beberapa tanda di atas tidak berarti seseorang pasti memiliki masalah psikologis tertentu. Trust issues bukan diagnosis medis, sehingga tanda-tanda tersebut perlu dilihat berdasarkan konteks, frekuensi, intensitas, dan dampaknya terhadap kehidupan.

Langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi pemicu. Perhatikan situasi apa yang membuat rasa curiga atau takut muncul, kemudian tanyakan apakah reaksi tersebut berdasarkan fakta atau pengalaman masa lalu.

Komunikasi juga penting. Seseorang dapat menjelaskan perasaannya kepada orang yang dipercaya tanpa langsung menyalahkan. Jika masalah kepercayaan sudah menyebabkan tekanan berat, konflik berulang, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat menjadi pilihan.

KESIMPULAN

Tanda seseorang mengalami trust issues dapat terlihat dari rasa curiga berlebihan, sulit membuka diri, membutuhkan kepastian terus-menerus, takut dikhianati, overthinking, sulit menerima penjelasan, dan cenderung menjaga jarak dari orang lain. Namun, tanda tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan tertentu karena setiap orang dapat memiliki alasan dan pengalaman yang berbeda.

Masalah kepercayaan sering berkaitan dengan pengalaman yang membuat seseorang merasa tidak aman. Karena itu, proses mengatasinya membutuhkan pemahaman terhadap pemicu, kemampuan membedakan fakta dan asumsi, serta komunikasi yang sehat.

Kepercayaan dapat dibangun secara bertahap melalui pengalaman positif, konsistensi, kejujuran, dan batasan yang sehat. Jika trust issues mulai mengganggu hubungan atau kehidupan sehari-hari secara signifikan, mendapatkan dukungan profesional dapat membantu seseorang memahami pola yang dialaminya dan menemukan cara mengelolanya dengan lebih baik.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.