Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 111 dibaca

Apa Saja Kesalahan Yang Sering Dilakukan Mahasiswa Rantau?

G

Gusti Ayu Tita P

29 September 2026

Bagikan:
Apa Saja Kesalahan Yang Sering Dilakukan Mahasiswa Rantau?

Menjadi mahasiswa rantau merupakan pengalaman yang memberikan banyak kesempatan untuk belajar hidup mandiri. Tinggal jauh dari keluarga membuat mahasiswa harus mengatur berbagai hal sendiri, mulai dari waktu, keuangan, makanan, perkuliahan, hingga hubungan sosial. Kebebasan tersebut tentu menyenangkan, tetapi juga dapat menjadi tantangan jika tidak disertai tanggung jawab. Mahasiswa rantau perlu beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus membangun kebiasaan yang mendukung kehidupan kuliah.

Sayangnya, dalam proses beradaptasi, masih banyak mahasiswa rantau yang melakukan kesalahan tertentu. Kesalahan tersebut terkadang terlihat sederhana, tetapi jika terus dilakukan dapat mengganggu keuangan, kesehatan, prestasi akademik, dan kehidupan sosial. Oleh karena itu, memahami kesalahan yang umum terjadi dapat membantu mahasiswa rantau menjalani kehidupan perkuliahan dengan lebih teratur.

TIDAK MENGATUR KEUANGAN DENGAN BAIK

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan mahasiswa rantau adalah tidak membuat pengaturan keuangan yang jelas. Ketika mendapatkan uang bulanan dari orang tua atau memiliki penghasilan sendiri, sebagian mahasiswa langsung menggunakannya tanpa membedakan kebutuhan dan keinginan. Pengeluaran untuk makanan, transportasi, nongkrong, belanja, dan hiburan dapat menumpuk tanpa disadari. Akibatnya, uang bisa habis sebelum waktu yang telah direncanakan.

Mahasiswa rantau sebaiknya membuat anggaran bulanan sederhana yang mencakup kebutuhan utama, seperti tempat tinggal, makanan, transportasi, pulsa, kebutuhan kuliah, dan dana darurat. Membatasi pengeluaran yang tidak terlalu penting juga dapat membantu menjaga kondisi keuangan. Dengan kebiasaan tersebut, mahasiswa dapat belajar bertanggung jawab terhadap uang yang dimiliki.

MENGABAIKAN KESEHATAN

Kesibukan kuliah terkadang membuat mahasiswa rantau mengabaikan kesehatan. Jadwal yang padat dapat menyebabkan pola tidur berantakan, jarang berolahraga, atau terlalu sering mengonsumsi makanan yang kurang bergizi. Ada pula mahasiswa yang menunda makan karena sibuk mengerjakan tugas. Jika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus, kondisi tubuh dan konsentrasi belajar dapat terganggu.

Menjaga kesehatan merupakan bagian penting dari kehidupan mahasiswa. Mahasiswa rantau perlu berusaha mendapatkan waktu tidur yang cukup, makan secara teratur, minum air yang cukup, dan melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan. Ketika mengalami keluhan kesehatan yang tidak membaik atau semakin mengganggu aktivitas, sebaiknya mencari bantuan dari tenaga kesehatan.

TERLALU BOROS UNTUK GAYA HIDUP

Tinggal jauh dari orang tua memberikan kebebasan dalam menentukan gaya hidup. Namun, kebebasan tersebut dapat menjadi masalah jika mahasiswa terlalu sering mengikuti tren atau menghabiskan uang untuk hal yang tidak diperlukan. Contohnya adalah terlalu sering membeli makanan mahal, berbelanja secara impulsif, atau mengikuti kegiatan hanya karena ingin terlihat mengikuti lingkungan pertemanan. Kebiasaan seperti ini dapat membuat pengeluaran jauh lebih besar daripada kebutuhan sebenarnya.

Mahasiswa tidak harus menghindari hiburan sepenuhnya. Yang lebih penting adalah menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan finansial. Sebelum membeli sesuatu, mahasiswa dapat mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya diinginkan. Kebiasaan membedakan kebutuhan dan keinginan akan sangat berguna dalam mengelola kehidupan mandiri.

TIDAK MENGATUR WAKTU KULIAH DAN KEHIDUPAN PRIBADI

Kesalahan berikutnya adalah tidak memiliki pengaturan waktu yang baik. Mahasiswa rantau harus membagi waktu antara kuliah, tugas, pekerjaan rumah, istirahat, organisasi, dan kehidupan sosial. Tanpa perencanaan, berbagai kegiatan tersebut dapat saling bertabrakan. Akibatnya, tugas terlambat, waktu tidur berkurang, atau kegiatan penting lainnya terabaikan.

Pengelolaan waktu tidak harus menggunakan metode yang rumit. Mahasiswa dapat membuat jadwal harian atau mingguan dan menentukan prioritas berdasarkan tingkat kepentingannya. Tugas dengan tenggat waktu paling dekat sebaiknya dikerjakan lebih dahulu. Dengan pengaturan sederhana, mahasiswa dapat menjalani kegiatan secara lebih teratur tanpa merasa terlalu kewalahan.

TERLALU SERING MENUNDA TUGAS

Menunda tugas merupakan kebiasaan yang cukup umum di kalangan mahasiswa. Tugas yang sebenarnya dapat dikerjakan lebih awal sering ditunda karena merasa masih memiliki banyak waktu. Ketika tenggat waktu semakin dekat, mahasiswa akhirnya harus mengerjakan tugas dalam waktu singkat. Kondisi tersebut dapat membuat proses pengerjaan menjadi kurang maksimal.

Untuk menghindari kebiasaan tersebut, mahasiswa dapat memecah tugas besar menjadi beberapa bagian kecil. Misalnya, hari pertama digunakan untuk mencari informasi, hari berikutnya membuat kerangka, lalu dilanjutkan dengan menulis dan melakukan pemeriksaan. Cara ini membuat tugas terasa lebih ringan dan memberikan waktu untuk memperbaiki kesalahan sebelum dikumpulkan.

TIDAK MENJAGA KEBERSIHAN TEMPAT TINGGAL

Ketika tinggal sendiri, mahasiswa bertanggung jawab menjaga kebersihan tempat tinggalnya. Kesalahan yang sering terjadi adalah membiarkan kamar berantakan, menumpuk pakaian kotor, atau menunda mencuci peralatan makan. Lingkungan yang tidak terawat dapat membuat tempat tinggal menjadi kurang nyaman. Kebersihan yang buruk juga dapat meningkatkan risiko munculnya masalah kesehatan tertentu.

Mahasiswa dapat menjaga kebersihan dengan membuat rutinitas sederhana, seperti merapikan tempat tidur, membuang sampah secara teratur, mencuci peralatan makan setelah digunakan, dan membersihkan kamar secara berkala. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten biasanya lebih mudah dipertahankan daripada membersihkan semuanya sekaligus ketika sudah sangat berantakan.

SULIT BERADAPTASI DENGAN LINGKUNGAN BARU

Beradaptasi dengan lingkungan baru membutuhkan waktu. Mahasiswa rantau mungkin merasa canggung ketika bertemu teman baru atau berada di lingkungan dengan kebiasaan yang berbeda. Sebagian mahasiswa kemudian memilih terlalu menutup diri sehingga sulit membangun hubungan sosial. Padahal, lingkungan pertemanan yang sehat dapat membantu mahasiswa merasa lebih nyaman selama tinggal jauh dari keluarga.

Adaptasi tidak berarti harus memaksakan diri mengikuti semua kebiasaan orang lain. Mahasiswa dapat memulainya dengan menyapa teman, mengikuti kegiatan kampus yang sesuai minat, atau berkomunikasi dengan tetangga secara sopan. Tetap menjaga batas pribadi juga penting agar hubungan sosial tetap sehat dan nyaman.

JARANG BERKOMUNIKASI DENGAN KELUARGA

Tinggal jauh dari rumah terkadang membuat mahasiswa terlalu sibuk dengan kegiatan kampus. Akibatnya, komunikasi dengan keluarga menjadi semakin jarang. Padahal, komunikasi sederhana dapat membantu menjaga hubungan dengan keluarga meskipun berada di tempat yang berbeda. Keluarga juga dapat menjadi tempat berbagi cerita mengenai pengalaman selama menjalani kehidupan perkuliahan.

Mahasiswa tidak harus melakukan komunikasi dalam waktu yang lama setiap hari. Menyempatkan diri mengirim pesan atau melakukan panggilan secara berkala sudah dapat membantu menjaga kedekatan. Selain bercerita tentang masalah, mahasiswa juga dapat membagikan pengalaman positif selama berada di perantauan.

TIDAK MEMILIKI DANA DARURAT

Sebagian mahasiswa hanya memikirkan kebutuhan rutin tanpa menyiapkan dana untuk keadaan tidak terduga. Padahal, kehidupan di perantauan dapat menghadirkan berbagai pengeluaran tambahan, seperti kebutuhan kesehatan, perbaikan barang penting, atau perjalanan mendadak. Jika tidak memiliki cadangan dana, mahasiswa mungkin harus meminta bantuan secara mendadak kepada keluarga atau mencari sumber dana lain.

Karena itu, mahasiswa sebaiknya mulai membangun dana darurat sesuai kemampuan. Jumlahnya tidak harus besar pada awalnya. Menyisihkan sebagian uang secara rutin dapat menjadi langkah awal yang baik. Dana tersebut sebaiknya digunakan untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak dan bukan untuk pengeluaran sehari-hari.

TERLALU TAKUT MEMINTA BANTUAN

Hidup mandiri bukan berarti harus menyelesaikan semua masalah sendirian. Ada mahasiswa yang merasa meminta bantuan merupakan tanda tidak mampu mengurus diri sendiri. Akibatnya, mereka menyimpan masalah terlalu lama hingga menjadi semakin sulit diselesaikan. Padahal, meminta bantuan kepada orang yang tepat merupakan bagian dari proses belajar mandiri.

Mahasiswa dapat mencari bantuan dari teman yang dipercaya, keluarga, dosen, pembimbing akademik, atau layanan kampus sesuai dengan jenis masalah yang dihadapi. Bantuan yang diberikan tidak selalu berupa penyelesaian masalah secara langsung. Terkadang, mendapatkan informasi, saran, atau seseorang yang mau mendengarkan sudah cukup membantu mahasiswa menentukan langkah berikutnya.

KESIMPULAN

Menjadi mahasiswa rantau memberikan kesempatan untuk belajar mandiri dan bertanggung jawab. Namun, proses tersebut juga dapat diwarnai berbagai kesalahan, seperti boros, tidak mengatur waktu, mengabaikan kesehatan, menunda tugas, serta kurang menjaga komunikasi dengan keluarga. Kesalahan tersebut bukan berarti mahasiswa gagal menjalani kehidupan di perantauan karena setiap orang membutuhkan proses adaptasi yang berbeda.

Hal yang paling penting adalah mau mengevaluasi kebiasaan dan melakukan perbaikan secara bertahap. Dengan mengatur keuangan, menjaga kesehatan, mengelola waktu, merawat tempat tinggal, membangun hubungan sosial, dan meminta bantuan ketika diperlukan, mahasiswa rantau dapat menjalani kehidupan kuliah dengan lebih teratur. Kemandirian juga tidak muncul secara instan, tetapi berkembang melalui pengalaman dan kebiasaan sehari-hari.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya