Bagaimana Cara Mengatasi Overthinking di Era Media Sosial bagi Mahasiswa?
Gusti Ayu Tita P
11 September 2026
Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa. Berbagai informasi, hiburan, tren, hingga pencapaian orang lain dapat dilihat hanya dalam beberapa detik. Namun, terlalu sering melihat kehidupan orang lain di media sosial dapat memicu overthinking, terutama ketika seseorang mulai membandingkan dirinya dengan orang lain.
Overthinking membuat pikiran terus memikirkan sesuatu secara berlebihan tanpa menghasilkan solusi yang jelas. Bagi mahasiswa, kondisi ini dapat muncul karena tugas kuliah, hubungan pertemanan, masa depan, prestasi akademik, hingga kekhawatiran mengenai karier. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mengetahui cara mengelola pikiran agar penggunaan media sosial tetap memberikan manfaat tanpa mengganggu kehidupan sehari-hari.
MEMAHAMI PENYEBAB OVERTHINKING DI ERA MEDIA SOSIAL
Salah satu penyebab overthinking pada mahasiswa adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial sering menampilkan pencapaian, perjalanan, pekerjaan, hubungan, atau gaya hidup seseorang dalam bentuk yang terlihat sangat positif. Ketika melihat hal tersebut secara terus-menerus, mahasiswa dapat merasa dirinya tertinggal atau kurang berhasil. Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan seluruh kehidupan seseorang.
Penyebab lainnya adalah terlalu banyak menerima informasi dalam waktu singkat. Berbagai berita, komentar, opini, dan konten dapat memenuhi pikiran sehingga seseorang kesulitan menentukan informasi mana yang benar-benar penting. Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut dapat membuat pikiran terus bekerja bahkan ketika tubuh sedang beristirahat. Mengenali pemicu overthinking menjadi langkah awal untuk mengurangi kebiasaan tersebut.
MEMBATASI WAKTU PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL
Mengatur waktu menggunakan media sosial merupakan salah satu cara sederhana untuk mengurangi overthinking. Mahasiswa dapat menentukan waktu tertentu untuk membuka media sosial dan menghindari penggunaan tanpa tujuan yang jelas. Batas waktu digital membantu seseorang tetap memiliki ruang untuk belajar, beristirahat, berinteraksi secara langsung, dan melakukan aktivitas lainnya.
Mahasiswa juga dapat mematikan notifikasi aplikasi yang tidak penting agar perhatian tidak terus teralihkan. Saat sedang belajar, mengerjakan tugas, atau beristirahat, ponsel dapat diletakkan lebih jauh dari jangkauan. Langkah kecil tersebut dapat membantu mengurangi dorongan untuk terus memeriksa layar. Dengan penggunaan yang lebih teratur, media sosial dapat menjadi alat hiburan dan komunikasi tanpa mengambil terlalu banyak waktu.
BERHENTI MEMBANDINGKAN DIRI DENGAN ORANG LAIN
Media sosial dapat membuat seseorang melihat keberhasilan orang lain setiap hari. Mahasiswa mungkin melihat teman yang mendapatkan prestasi, mengikuti kegiatan menarik, memperoleh pekerjaan, atau memiliki kehidupan sosial yang terlihat menyenangkan. Jika dibandingkan secara terus-menerus, hal tersebut dapat menimbulkan perasaan tidak cukup baik. Padahal, setiap orang memiliki proses dan waktu perkembangan yang berbeda.
Daripada membandingkan pencapaian, mahasiswa sebaiknya menggunakan media sosial sebagai sumber inspirasi. Keberhasilan orang lain dapat dijadikan motivasi untuk menentukan tujuan pribadi, bukan sebagai ukuran nilai diri. Fokus pada perkembangan diri akan membuat perhatian berpindah dari pertanyaan tentang siapa yang lebih unggul menjadi bagaimana cara menjadi lebih baik dari sebelumnya. Pola pikir tersebut dapat membantu mengurangi tekanan yang berasal dari perbandingan sosial.
MENGARAHKAN PIKIRAN PADA HAL YANG BISA DIKENDALIKAN
Overthinking sering terjadi karena seseorang terlalu lama memikirkan sesuatu yang belum tentu dapat dikendalikan. Contohnya adalah memikirkan pendapat orang lain, kemungkinan buruk di masa depan, atau sesuatu yang sudah terjadi. Mahasiswa perlu belajar membedakan antara masalah yang dapat diselesaikan dan hal yang berada di luar kendali.
Ketika pikiran mulai berlebihan, mahasiswa dapat menuliskan masalah yang sedang dipikirkan. Setelah itu, tentukan tindakan sederhana yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Jika terdapat tugas yang belum selesai, misalnya, fokus dapat diarahkan pada langkah pertama untuk menyelesaikannya daripada terus memikirkan kemungkinan gagal. Cara ini membantu pikiran bergerak dari kekhawatiran menuju tindakan nyata.
MENGISI WAKTU DENGAN AKTIVITAS POSITIF
Mengurangi overthinking tidak hanya dilakukan dengan menjauh dari media sosial. Mahasiswa juga perlu memiliki aktivitas yang membuat pikiran lebih seimbang. Olahraga, membaca, mengikuti organisasi, belajar keterampilan baru, berkumpul dengan teman, dan melakukan hobi dapat menjadi pilihan kegiatan yang bermanfaat.
Interaksi langsung dengan orang lain juga dapat membantu mahasiswa mendapatkan perspektif yang berbeda. Jika sedang menghadapi masalah, berbicara dengan teman yang dipercaya dapat membuat pikiran terasa lebih ringan. Selain itu, tidur yang cukup dan pola hidup yang teratur juga penting untuk menjaga kondisi tubuh dan pikiran. Semakin seimbang aktivitas sehari-hari, semakin kecil kemungkinan media sosial menjadi satu-satunya sumber hiburan dan perhatian.
MEMBANGUN KEBIASAAN DIGITAL YANG LEBIH SEHAT
Mengatasi overthinking membutuhkan kebiasaan yang dilakukan secara konsisten. Mahasiswa tidak harus langsung meninggalkan media sosial sepenuhnya, tetapi perlu membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi. Pilih akun dan konten yang memberikan informasi, inspirasi, atau hiburan yang sesuai dengan kebutuhan. Jika suatu konten terus membuat seseorang merasa cemas, minder, atau tertekan, membatasi paparan terhadap konten tersebut merupakan pilihan yang wajar.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah salah satu bagian dari kehidupan, bukan ukuran keberhasilan seseorang. Mahasiswa perlu mengingat bahwa kehidupan nyata memiliki proses yang tidak selalu terlihat di layar. Dengan membatasi penggunaan media sosial, menghindari perbandingan berlebihan, mengelola pikiran, dan memperbanyak aktivitas positif, overthinking dapat dikendalikan dengan lebih baik.
KESIMPULAN
Overthinking di era media sosial dapat muncul ketika mahasiswa terlalu sering membandingkan diri, menerima terlalu banyak informasi, atau memikirkan sesuatu yang berada di luar kendali. Kondisi tersebut dapat dikurangi dengan mengatur waktu menggunakan media sosial, memilih konten secara bijak, dan mengarahkan perhatian pada hal-hal yang dapat dilakukan.
Mahasiswa juga perlu membangun kehidupan yang seimbang melalui belajar, beristirahat, berolahraga, bersosialisasi, dan menjalankan aktivitas yang disukai. Dengan kebiasaan digital yang sehat, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi dan pengembangan diri tanpa menjadi sumber tekanan yang berlebihan.
About the Author
Gusti Ayu Tita P
Author — STEKOM University
An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.