University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Tips dan Trik
Tips dan Trik 42 views

Bagaimana Cara Menghindari FOMO Saat Melihat Kehidupan Orang Lain?

G

Gusti Ayu Tita P

12 September 2026

Bagikan:
Bagaimana Cara Menghindari FOMO Saat Melihat Kehidupan Orang Lain?

Media sosial membuat seseorang dapat melihat berbagai pencapaian, aktivitas, dan gaya hidup orang lain hanya dalam hitungan detik. Foto liburan, keberhasilan karier, hubungan yang terlihat harmonis, hingga pencapaian finansial sering muncul di beranda. Kondisi tersebut terkadang menimbulkan FOMO atau Fear of Missing Out, yaitu perasaan takut tertinggal dari pengalaman atau pencapaian orang lain. Jika tidak dikelola dengan baik, FOMO dapat membuat seseorang merasa kurang puas dengan kehidupannya sendiri.

Padahal, apa yang terlihat di media sosial tidak selalu menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh. Banyak orang hanya membagikan momen terbaik, sementara kesulitan, kegagalan, dan masalah pribadi jarang ditampilkan. Karena itu, penting untuk membangun cara pandang yang lebih realistis agar tidak terus membandingkan diri dengan orang lain. Lalu, bagaimana cara menghindari FOMO saat melihat kehidupan orang lain?

PAHAMI BAHWA MEDIA SOSIAL BUKAN GAMBARAN KEHIDUPAN SEUTUHNYA

Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa media sosial biasanya menampilkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang. Seseorang mungkin mengunggah foto ketika mendapatkan promosi, berlibur, membeli barang baru, atau berkumpul dengan teman. Namun, unggahan tersebut tidak menunjukkan seluruh proses yang mereka jalani sebelum mencapai momen tersebut. Masalah, kegagalan, tekanan, dan kekhawatiran pribadi sering kali tidak terlihat oleh orang lain.

Karena itu, hindari menjadikan unggahan orang lain sebagai standar kehidupan yang harus dicapai. Kehidupan setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, kemampuan, dan perjalanan yang berbeda. Ketika menyadari hal tersebut, kita akan lebih mudah melihat media sosial sebagai sumber informasi dan hiburan, bukan sebagai alat untuk mengukur nilai diri.

KENALI PEMICU FOMO DALAM KEHIDUPAN SEHARI HARI

Setiap orang dapat memiliki pemicu FOMO yang berbeda. Ada yang merasa tertinggal ketika melihat teman mendapatkan pekerjaan baru, sementara orang lain merasa tidak cukup sukses setelah melihat gaya hidup seseorang di media sosial. Perasaan tersebut perlu dikenali agar kita mengetahui situasi apa yang membuat rasa cemas dan tidak puas muncul.

Cobalah memperhatikan perubahan perasaan setelah menggunakan media sosial. Jika melihat konten tertentu membuat diri merasa rendah diri, iri, atau terburu-buru mengambil keputusan, konten tersebut dapat menjadi salah satu pemicu FOMO. Dengan mengenali pemicunya, kita dapat mengambil langkah untuk mengurangi paparan terhadap konten yang berdampak negatif.

BATASI WAKTU MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL

Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat membuat seseorang semakin sering melihat kehidupan orang lain dan melakukan perbandingan. Tidak semua informasi yang muncul di layar perlu diperhatikan atau diikuti. Oleh sebab itu, membuat batas waktu penggunaan media sosial dapat membantu menjaga perhatian dan kondisi emosional.

Atur waktu tertentu untuk membuka media sosial dan hindari kebiasaan memeriksa aplikasi secara terus-menerus. Jika memungkinkan, matikan notifikasi yang tidak penting agar perhatian tidak selalu tertarik untuk membuka aplikasi. Waktu yang biasanya digunakan untuk scrolling juga dapat dialihkan ke aktivitas yang lebih bermanfaat, seperti berolahraga, belajar, membaca, atau berinteraksi secara langsung dengan orang terdekat.

BERHENTI MEMBANDINGKAN DIRI DENGAN ORANG LAIN

Membandingkan diri dengan orang lain merupakan salah satu penyebab FOMO yang cukup umum. Masalahnya, kita sering membandingkan proses kehidupan sendiri dengan hasil akhir orang lain. Perbandingan seperti ini cenderung tidak adil karena kita mengetahui perjuangan diri sendiri secara lengkap, tetapi hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan orang lain.

Daripada bertanya mengapa pencapaian kita belum seperti orang lain, lebih baik tanyakan apakah diri kita mengalami perkembangan dibandingkan sebelumnya. Fokus pada kemajuan pribadi dapat membuat proses mencapai tujuan terasa lebih realistis. Setiap orang memiliki waktu dan jalur yang berbeda, sehingga tidak ada alasan untuk memaksakan diri mengikuti pencapaian orang lain.

TENTUKAN PRIORITAS DAN TUJUAN PRIBADI

FOMO sering muncul ketika seseorang belum memiliki tujuan yang jelas. Tanpa prioritas, seseorang lebih mudah mengikuti apa yang sedang dilakukan orang lain meskipun sebenarnya tidak sesuai dengan kebutuhan dirinya. Oleh karena itu, tentukan terlebih dahulu apa yang benar benar penting dalam kehidupan pribadi.

Tujuan tersebut dapat berkaitan dengan pendidikan, pekerjaan, keuangan, kesehatan, keluarga, maupun pengembangan diri. Setelah memiliki prioritas, kita dapat lebih mudah membedakan antara sesuatu yang memang dibutuhkan dan sesuatu yang hanya ingin dilakukan karena melihat orang lain. Dengan begitu, keputusan yang diambil akan lebih sesuai dengan nilai dan kebutuhan pribadi.

BELAJAR MERASA CUKUP DAN MENGHARGAI PENCAPAIAN SENDIRI

Menghindari FOMO bukan berarti harus berhenti memiliki ambisi. Justru, seseorang tetap dapat memiliki target besar sambil belajar menghargai kondisi yang sudah dimiliki. Salah satu caranya adalah dengan mengingat kembali pencapaian dan perkembangan diri sendiri.

Buatlah catatan sederhana mengenai hal-hal yang berhasil dilakukan, termasuk pencapaian kecil yang sering dianggap sepele. Kebiasaan tersebut membantu kita menyadari bahwa perkembangan tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar atau terlihat oleh banyak orang. Rasa syukur dan penghargaan terhadap diri sendiri dapat membantu membangun kepuasan hidup yang lebih sehat.

JANGAN TERBURU BURU MENGIKUTI TREN

FOMO dapat mendorong seseorang mengambil keputusan secara terburu-buru karena takut dianggap ketinggalan. Misalnya, membeli barang yang sedang populer, mengikuti gaya hidup tertentu, atau mengambil keputusan finansial hanya karena melihat orang lain melakukannya. Padahal, sesuatu yang cocok bagi orang lain belum tentu cocok untuk kondisi kita.

Sebelum mengikuti tren, tanyakan apakah hal tersebut benar-benar dibutuhkan dan apakah sesuai dengan kemampuan. Berikan waktu untuk berpikir sebelum mengambil keputusan, terutama jika berkaitan dengan uang, pekerjaan, pendidikan, atau keputusan penting lainnya. Kebiasaan mempertimbangkan manfaat dan risikonya dapat membantu kita terhindar dari keputusan yang hanya didorong oleh tekanan sosial.

PILIH LINGKUNGAN DIGITAL YANG LEBIH SEHAT

Tidak semua akun media sosial memberikan dampak negatif. Banyak kreator, komunitas, dan sumber informasi yang justru dapat memberikan inspirasi serta pengetahuan. Karena itu, lakukan evaluasi terhadap akun yang diikuti dan pertimbangkan apakah kontennya memberikan nilai positif bagi kehidupan.

Jika suatu akun terus membuat diri merasa tidak cukup, tidak bahagia, atau tertekan, kita dapat mengurangi interaksi dengan konten tersebut. Sebaliknya, ikuti akun yang memberikan edukasi, motivasi realistis, hiburan sehat, atau informasi yang relevan. Lingkungan digital yang lebih positif dapat membantu menciptakan pengalaman menggunakan media sosial yang lebih sehat.

FOKUS PADA PROSES DAN PERKEMBANGAN DIRI

Kehidupan bukan perlombaan yang memiliki satu garis waktu untuk semua orang. Ada orang yang sukses lebih cepat dalam karier, sementara orang lain membutuhkan waktu lebih panjang untuk menemukan bidang yang sesuai. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari perjalanan hidup dan bukan bukti bahwa seseorang gagal.

Fokuslah pada langkah yang dapat dilakukan hari ini daripada terus memikirkan pencapaian orang lain. Kemajuan kecil yang konsisten tetap memiliki nilai jika membawa kita lebih dekat dengan tujuan. Ketika perhatian beralih dari membandingkan diri menjadi mengembangkan diri, rasa takut tertinggal biasanya menjadi lebih mudah dikendalikan.

KESIMPULAN

FOMO saat melihat kehidupan orang lain dapat muncul karena terlalu sering membandingkan diri, terlalu banyak mengonsumsi media sosial, atau merasa harus mengikuti pencapaian dan tren tertentu. Perasaan tersebut dapat dikurangi dengan memahami bahwa media sosial tidak menunjukkan kehidupan secara lengkap. Membatasi penggunaan media sosial, mengenali pemicu FOMO, menentukan prioritas, dan menghargai pencapaian pribadi merupakan beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Yang tidak kalah penting, setiap orang memiliki waktu dan perjalanan hidup yang berbeda. Tidak perlu memaksakan diri mengikuti kehidupan orang lain hanya karena terlihat menarik di media sosial. Gunakan media sosial sebagai sarana mendapatkan informasi dan inspirasi, bukan sebagai ukuran keberhasilan diri. Dengan pola pikir yang lebih realistis, kita dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang, fokus, dan sesuai dengan tujuan pribadi.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.

Continue Reading

More Articles