Bagaimana Cara Menjadi DevOps Engineer?
Gusti Ayu Tita P
17 September 2026
DevOps Engineer merupakan salah satu profesi di bidang teknologi yang berperan dalam menghubungkan proses pengembangan aplikasi dengan operasional sistem. Profesi ini membutuhkan pemahaman tentang software development, server, jaringan, otomatisasi, dan pengelolaan sistem. DevOps Engineer membantu membuat proses pengembangan dan penerapan aplikasi menjadi lebih cepat, stabil, dan teratur. Untuk memasuki bidang ini, seseorang perlu membangun kemampuan teknis secara bertahap. Pengalaman melalui proyek dan latihan langsung juga penting untuk memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam pekerjaan nyata.
PAHAMI DASAR PEMROGRAMAN DAN SISTEM
Langkah awal menjadi DevOps Engineer adalah memahami dasar pemrograman dan sistem komputer. Tidak harus langsung menguasai banyak bahasa pemrograman, tetapi memahami konsep seperti variabel, fungsi, kondisi, dan struktur program akan sangat membantu. Selain itu, pelajari cara kerja sistem operasi, terutama Linux yang banyak digunakan dalam lingkungan server. Pemahaman dasar sistem membantu calon DevOps Engineer mengerti bagaimana aplikasi berjalan di dalam sebuah lingkungan komputasi. Pengetahuan tentang jaringan seperti IP address, DNS, HTTP, dan port juga sebaiknya mulai dipelajari.
PELAJARI VERSION CONTROL DAN GIT
Git merupakan salah satu teknologi penting dalam alur kerja pengembangan perangkat lunak. Git digunakan untuk mencatat perubahan kode sehingga pengembang dapat mengelola berbagai versi proyek dengan lebih teratur. Calon DevOps Engineer perlu memahami perintah dasar seperti commit, branch, merge, pull, dan push. Kemampuan menggunakan Git membantu proses kolaborasi antara developer dan tim operasional. Setelah memahami Git, latihan dapat dilakukan dengan membuat proyek sederhana dan menyimpannya di platform repository untuk membiasakan diri dengan alur kerja pengembangan.
KUASAI CLOUD DAN CONTAINER
Teknologi cloud menjadi bagian penting dalam banyak lingkungan DevOps modern. Calon DevOps Engineer dapat mulai mempelajari konsep seperti virtual machine, storage, networking, database, dan layanan cloud. Selain cloud, teknologi container seperti Docker juga perlu dipahami karena dapat membantu menjalankan aplikasi secara konsisten di berbagai lingkungan. Pemahaman cloud dan container membantu seseorang mengerti bagaimana aplikasi dikembangkan, dijalankan, dan dipindahkan antarlingkungan. Setelah memahami dasar Docker, pembelajaran dapat dilanjutkan ke teknologi orkestrasi seperti Kubernetes.
PELAJARI CI CD DAN OTOMATISASI
CI/CD digunakan untuk membantu mengotomatisasi proses pengujian dan penerapan aplikasi. Calon DevOps Engineer perlu memahami bagaimana kode dapat melewati tahapan build, testing, hingga deployment secara otomatis. Berbagai tools dapat digunakan untuk mempraktikkan konsep tersebut, seperti GitHub Actions, GitLab CI/CD, atau Jenkins. Otomatisasi merupakan salah satu kemampuan penting karena DevOps berfokus pada proses yang lebih cepat, konsisten, dan dapat diulang. Selain CI/CD, pelajari scripting menggunakan bahasa seperti Bash atau Python untuk membantu mengotomatisasi pekerjaan administratif dan operasional.
BANGUN PROYEK DAN PORTOFOLIO
Setelah mempelajari berbagai teknologi dasar, langkah berikutnya adalah menerapkannya dalam proyek. Misalnya, buat aplikasi sederhana kemudian simpan menggunakan Git, jalankan dengan Docker, dan buat pipeline CI/CD untuk melakukan testing serta deployment. Proyek nyata dapat menunjukkan kemampuan teknis dengan lebih jelas dibandingkan hanya mengandalkan teori. Dokumentasikan setiap proyek dengan menjelaskan teknologi yang digunakan, masalah yang dihadapi, dan cara penyelesaiannya. Portofolio tersebut dapat digunakan untuk menunjukkan kemampuan ketika mencari pekerjaan, magang, atau kesempatan belajar di bidang DevOps.
KESIMPULAN
Menjadi DevOps Engineer membutuhkan proses belajar yang bertahap dan konsisten. Pemahaman Linux, jaringan, Git, cloud, container, CI/CD, scripting, serta pengalaman proyek merupakan kemampuan yang dapat dibangun secara bertahap. Tidak perlu mempelajari semua teknologi sekaligus karena setiap kemampuan dapat dipelajari dari dasar kemudian dikembangkan melalui praktik. Membuat proyek sendiri juga membantu memahami hubungan antara proses development dan operasional. Dengan terus berlatih dan mengikuti perkembangan teknologi, seseorang dapat membangun keterampilan yang relevan untuk berkarier sebagai DevOps Engineer.
About the Author
Gusti Ayu Tita P
Author — STEKOM University
An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.