University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 27 views

Bagaimana Toxic Positivity di Media Sosial Memengaruhi Kesehatan Mental?

G

Gusti Ayu Tita P

11 September 2026

Bagikan:
Bagaimana Toxic Positivity di Media Sosial Memengaruhi Kesehatan Mental?

Media sosial menjadi tempat bagi banyak orang untuk berbagi pengalaman, pencapaian, hingga berbagai pesan motivasi. Konten positif dapat memberikan semangat, tetapi jika disampaikan secara berlebihan dapat berkembang menjadi toxic positivity. Kondisi ini terjadi ketika seseorang merasa harus selalu bahagia, bersyukur, produktif, dan mampu menghadapi semua masalah tanpa menunjukkan emosi negatif. Paparan konten semacam itu secara terus menerus dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri dan kehidupannya.

Toxic positivity di media sosial sering kali tidak terlihat secara langsung. Unggahan yang menampilkan kehidupan sempurna, kesuksesan, dan kebahagiaan dapat membuat pengguna membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Padahal, media sosial umumnya hanya menampilkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang. Jika tidak disikapi dengan bijak, kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa tertinggal, kurang berhasil, atau tidak cukup bahagia.

MUNCULNYA KEBIASAAN MEMBANDINGKAN DIRI

Media sosial membuat seseorang dapat melihat pencapaian orang lain hanya dalam beberapa detik. Ketika terus melihat unggahan tentang kesuksesan, liburan, hubungan harmonis, atau gaya hidup tertentu, seseorang dapat merasa kehidupannya kurang menarik. Toxic positivity dapat memperkuat perasaan tersebut melalui anggapan bahwa setiap orang harus selalu berkembang dan menikmati hidup. Akibatnya, seseorang mungkin merasa bersalah ketika kehidupannya tidak sesuai dengan gambaran positif yang sering dilihat.

Padahal, setiap orang memiliki kondisi, kemampuan, kesempatan, dan masalah yang berbeda. Apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang. Membatasi perbandingan sosial dan memahami bahwa media sosial hanya menampilkan sebagian realitas dapat membantu menjaga kesehatan mental.

MEMBUAT EMOSI NEGATIF TERASA SALAH

Konten yang selalu menekankan kebahagiaan dapat membuat seseorang berpikir bahwa emosi seperti sedih, kecewa, takut, atau marah harus segera dihilangkan. Ketika mengalami masalah, seseorang mungkin merasa harus langsung kembali positif tanpa memberikan waktu untuk memahami perasaannya. Hal ini dapat membuat emosi negatif dianggap sebagai sesuatu yang tidak seharusnya muncul. Akibatnya, seseorang berpotensi menyembunyikan perasaan daripada menghadapinya secara sehat.

Padahal, emosi negatif merupakan bagian normal dari kehidupan. Merasa sedih setelah mengalami kegagalan bukan berarti seseorang tidak bersyukur atau tidak kuat. Memberikan ruang untuk merasakan dan memahami emosi justru dapat membantu seseorang menghadapi masalah dengan lebih realistis.

MENINGKATKAN TEKANAN UNTUK SELALU PRODUKTIF

Media sosial juga banyak menampilkan konten mengenai produktivitas, pencapaian, dan pengembangan diri. Pesan tersebut dapat bermanfaat jika digunakan sebagai motivasi, tetapi bisa menjadi tekanan ketika seseorang merasa harus terus bekerja tanpa istirahat. Toxic positivity dapat muncul melalui anggapan bahwa setiap waktu harus dimanfaatkan untuk menjadi lebih baik. Akibatnya, waktu istirahat bahkan dapat dianggap sebagai kemalasan atau kegagalan.

Padahal, istirahat merupakan bagian penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan. Produktivitas tidak harus berarti melakukan banyak hal setiap saat. Mengenali batas kemampuan dan memberikan waktu untuk memulihkan diri dapat membantu seseorang menjaga kondisi emosional dengan lebih baik.

MEMBUAT SESEORANG MENYEMBUNYIKAN MASALAH

Paparan konten positif secara berlebihan dapat membuat seseorang merasa perlu menunjukkan kehidupan yang baik di media sosial. Ketika sedang mengalami masalah, ia mungkin memilih tetap mengunggah konten bahagia agar tidak terlihat sedang mengalami kesulitan. Kebiasaan tersebut dapat membuat jarak antara kondisi nyata dan citra yang ditampilkan semakin besar. Jika terus berlangsung, seseorang dapat merasa semakin sulit untuk terbuka kepada orang lain.

Menyembunyikan masalah tidak selalu berarti seseorang sedang mengalami gangguan kesehatan mental. Namun, jika seseorang terus merasa harus berpura pura bahagia dan tidak memiliki ruang untuk mengungkapkan perasaannya, tekanan emosional dapat meningkat. Memiliki orang yang dipercaya untuk berbicara secara jujur dapat membantu mengurangi beban tersebut.

MENURUNKAN RASA PERCAYA DIRI

Toxic positivity di media sosial dapat memengaruhi kepercayaan diri ketika seseorang terus merasa tidak mampu mencapai standar yang ditampilkan orang lain. Unggahan mengenai kesuksesan dapat membuat pengguna lupa bahwa setiap pencapaian memiliki proses yang berbeda. Ketika membandingkan hasil kehidupan orang lain dengan proses kehidupannya sendiri, seseorang dapat merasa tertinggal. Perasaan tersebut dapat memunculkan keraguan terhadap kemampuan diri.

Untuk mengatasinya, penting memahami bahwa perkembangan pribadi tidak harus mengikuti standar media sosial. Fokus pada tujuan dan perkembangan diri sendiri dapat membantu membangun penilaian diri yang lebih realistis. Media sosial sebaiknya digunakan sebagai sumber informasi atau hiburan, bukan sebagai ukuran utama keberhasilan hidup.

CARA MENGHINDARI DAMPAK TOXIC POSITIVITY DI MEDIA SOSIAL

Menggunakan media sosial secara lebih sadar dapat membantu mengurangi dampak toxic positivity. Pilih akun dan konten yang memberikan informasi bermanfaat tanpa membuat diri merasa terus menerus dibandingkan atau ditekan. Jika terdapat konten yang membuat suasana hati memburuk, pengguna dapat berhenti mengikuti, membatasi paparan, atau mengambil jeda dari media sosial. Langkah sederhana tersebut dapat membantu menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat.

Selain itu, penting untuk menerima bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Tidak perlu memaksakan diri untuk selalu bahagia hanya karena melihat orang lain tampak bahagia di media sosial. Berikan ruang untuk merasakan emosi dan bicarakan masalah kepada orang yang dipercaya ketika diperlukan. Jika tekanan emosional terasa berat atau mulai mengganggu aktivitas sehari hari, mencari bantuan dari tenaga profesional dapat menjadi pilihan yang tepat.

KESIMPULAN

Toxic positivity di media sosial dapat memengaruhi kesehatan mental dengan mendorong seseorang membandingkan diri, menekan emosi negatif, merasa harus selalu produktif, dan menyembunyikan masalah. Konten positif sebenarnya dapat memberikan manfaat, tetapi penggunaannya perlu disertai kesadaran bahwa media sosial tidak selalu menggambarkan kehidupan secara utuh. Kesehatan mental lebih terjaga ketika seseorang mampu menerima berbagai emosi tanpa merasa harus selalu terlihat bahagia. Menggunakan media sosial secara bijak, membatasi perbandingan, dan mencari dukungan ketika membutuhkan dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan dunia digital.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.

Continue Reading

More Articles