Dampak Tren Flexing di Media Sosial terhadap Gaya Hidup Mahasiswa
Gusti Ayu Tita P
11 Agustus 2026
Media sosial membuat mahasiswa semakin mudah melihat dan membagikan berbagai bentuk pencapaian dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu fenomena yang sering muncul adalah flexing, yaitu perilaku menunjukkan kepemilikan, pencapaian, atau gaya hidup tertentu kepada orang lain. Konten seperti barang bermerek, tempat makan mahal, perjalanan, hingga pencapaian pribadi dapat menjadi bagian dari tren tersebut.
Flexing tidak selalu berarti seseorang ingin merugikan orang lain. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, tren ini dapat memengaruhi cara mahasiswa memandang kebutuhan, kesuksesan, dan gaya hidup. Paparan konten secara terus-menerus juga dapat mendorong perbandingan sosial dan keinginan untuk mengikuti standar yang terlihat di media sosial.
MENDORONG PERUBAHAN GAYA HIDUP
Paparan terhadap konten flexing dapat membuat sebagian mahasiswa tertarik mengikuti gaya hidup yang ditampilkan di media sosial. Mereka mungkin mulai menganggap tempat nongkrong tertentu, barang bermerek, atau aktivitas mahal sebagai bagian dari gaya hidup yang ideal. Keinginan tersebut dapat muncul meskipun sebelumnya hal-hal tersebut bukan kebutuhan utama.
Perubahan gaya hidup tidak selalu menjadi masalah jika masih sesuai dengan kemampuan masing-masing. Namun, ketika seseorang mengikuti tren tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan, pengeluaran dapat meningkat. Kebutuhan dan keinginan menjadi lebih sulit dibedakan, terutama ketika lingkungan pertemanan juga mengikuti tren yang sama.
MEMICU PERBANDINGAN SOSIAL
Media sosial memungkinkan mahasiswa melihat pencapaian dan gaya hidup orang lain setiap hari. Konten flexing dapat membuat seseorang membandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih menarik atau lebih sukses. Perbandingan tersebut sering kali tidak adil karena pengguna hanya melihat bagian kehidupan yang sengaja ditampilkan.
Jika dilakukan terus-menerus, perbandingan sosial dapat memengaruhi cara mahasiswa menilai dirinya sendiri. Seseorang mungkin merasa kurang berhasil hanya karena tidak memiliki barang atau pengalaman seperti yang dilihat di media sosial. Padahal, setiap mahasiswa memiliki kondisi ekonomi, tujuan, dan prioritas yang berbeda.
MENINGKATKAN TEKANAN UNTUK TAMPIL SUKSES
Tren flexing dapat menciptakan anggapan bahwa kesuksesan harus terlihat melalui barang, pengalaman, atau gaya hidup tertentu. Sebagian mahasiswa mungkin merasa perlu menunjukkan pencapaian agar mendapatkan pengakuan dari teman atau pengikut. Keinginan untuk terlihat berhasil dapat memengaruhi keputusan dalam menggunakan uang dan waktu.
Tekanan tersebut juga dapat membuat seseorang lebih memperhatikan penampilan di media sosial. Misalnya, seseorang memilih aktivitas atau tempat tertentu karena dianggap lebih menarik untuk dibagikan. Validasi dari lingkungan digital kemudian dapat menjadi salah satu alasan seseorang mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya tidak sesuai dengan kebutuhan. Kondisi ini perlu disadari agar keputusan tidak hanya didasarkan pada penilaian orang lain.
BERISIKO MENDORONG PERILAKU KONSUMTIF
Flexing dapat berhubungan dengan perilaku konsumtif, terutama ketika seseorang membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, tetapi karena ingin mengikuti tren atau mendapatkan pengakuan. Pengeluaran yang dilakukan berulang kali dapat mengurangi uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
Mahasiswa yang memiliki anggaran terbatas perlu lebih berhati-hati terhadap dorongan konsumsi. Jangan sampai keinginan mengikuti tren membuat seseorang mengambil keputusan finansial yang tidak sesuai dengan kemampuan. Membuat anggaran dan menentukan prioritas dapat membantu mahasiswa mengontrol pengeluaran. Gaya hidup sebaiknya disesuaikan dengan kondisi keuangan, bukan dengan standar yang terlihat di media sosial.
CARA MENYIKAPI TREN FLEXING
Mahasiswa dapat menyikapi tren flexing dengan meningkatkan kesadaran terhadap penggunaan media sosial. Tidak semua konten yang terlihat perlu dijadikan standar kehidupan. Penting untuk memahami bahwa unggahan seseorang biasanya hanya menunjukkan bagian tertentu dari kehidupannya. Dengan perspektif tersebut, mahasiswa dapat mengurangi dorongan untuk terus membandingkan diri.
Selain itu, mahasiswa perlu membangun kebiasaan menentukan keputusan berdasarkan kebutuhan, tujuan, dan kemampuan pribadi. Menggunakan media sosial untuk mencari informasi dan inspirasi dapat dilakukan tanpa harus meniru semua tren. Fokus pada pendidikan, pengembangan keterampilan, pengalaman, dan hubungan sosial yang sehat dapat memberikan manfaat yang lebih berkelanjutan.
KESIMPULAN
Tren flexing di media sosial dapat memengaruhi gaya hidup mahasiswa melalui perbandingan sosial, tekanan untuk terlihat sukses, dan peningkatan perilaku konsumtif. Paparan terhadap gaya hidup tertentu dapat membuat sebagian mahasiswa merasa perlu mengikuti tren meskipun tidak selalu sesuai dengan kebutuhan atau kondisi keuangan mereka.
Mahasiswa sebaiknya menggunakan media sosial secara lebih kritis dan tidak menjadikan konten flexing sebagai ukuran kesuksesan. Mengatur keuangan, menentukan prioritas, dan menghargai pencapaian pribadi dapat membantu mahasiswa menjalani gaya hidup yang lebih sehat. Kesuksesan tidak hanya terlihat dari apa yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan mengembangkan diri dan mencapai tujuan secara bertanggung jawab.
About the Author
Gusti Ayu Tita P
Author — STEKOM University
An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.