Dulu, Bandung Bondowoso rela membangun seribu candi dalam semalam demi cinta. Dia tahu, kalau mau dapat hati Roro Jonggrang, harus kerja keras—bukan sekadar kata-kata manis atau story penuh lagu galau.
Sekarang?
Ngasih kabar aja harus nunggu “mood bagus”. Bales chat bisa lebih lama dari proses bangun rumah KPR.
Lucu, ya? Zaman dulu cinta diuji pakai tantangan besar. Sekarang? Cinta diuji lewat “kamu gak bosen ya nanya itu-itu mulu?”
Roro Jonggrang Gak Mau Jadi Istri Kalau Gak Serius
Kisah Roro Jonggrang mungkin kelihatan kejam, tapi sebenarnya dia tahu apa yang dia mau. Dia gak mau asal pilih. Dia tahu, cinta tanpa komitmen itu cuma cerita pendek—bukan legenda.
Sekarang? Banyak yang gak tahu maunya apa. Dibilang sayang, tapi nyari orang lain. Dibilang serius, tapi ngilang pas diminta ketemu keluarga.
Standar kayak Roro Jonggrang itu bukan lebay—itu bentuk sayang sama diri sendiri.
Seribu Chat, Centang Biru, Hati Abu-Abu
Kalau kamu udah kirim seribu pesan dan gak ada satu pun yang dibalas dengan sepenuh hati, itu tanda. Kamu bukan dicintai, kamu dijadikan hiburan sementara.
Cinta itu komunikasi, bukan kompetisi siapa yang paling cuek.
Kalau kamu terus nunggu, berharap, mikir “mungkin dia sibuk” padahal dia aktif update story... kamu lagi nyusun candi buat orang yang gak niat tinggal di dalamnya.
Jangan Bangun Candi untuk Orang yang Gak Mau Tinggal di Dalamnya
Cinta yang sehat gak bikin kamu capek sendiri.
Gak perlu seribu bukti buat layak dicintai.
Dan gak harus nunggu dibalas dulu buat tahu kamu berarti.
Kalau dia serius, satu chat cukup buat memulai.
Kalau dia nggak serius, seribu chat pun cuma jadi arsip.
About the Author
Ambar Arum Putri Hapsari
Author — STEKOM University
An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.