University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 9 views

Hubungan Perfeksionisme dengan Kebiasaan Overthinking pada Mahasiswa

G

Gusti Ayu Tita P

4 September 2026

Bagikan:
Hubungan Perfeksionisme dengan Kebiasaan Overthinking pada Mahasiswa

Perfeksionisme merupakan kecenderungan untuk menetapkan standar yang sangat tinggi terhadap hasil maupun kemampuan diri sendiri. Dalam kehidupan akademik, kecenderungan ini dapat terlihat ketika mahasiswa ingin tugas, ujian, atau presentasinya berjalan tanpa kesalahan. Keinginan untuk memberikan hasil terbaik sebenarnya dapat menjadi dorongan positif, tetapi tekanan untuk selalu sempurna dapat membuat pikiran terus mengevaluasi berbagai kemungkinan. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan kebiasaan overthinking ketika mahasiswa terlalu lama memikirkan kesalahan atau kekurangan yang sudah terjadi. Memahami hubungan antara perfeksionisme dan overthinking dapat membantu mahasiswa membangun cara berpikir yang lebih realistis.

PERFEKSIONISME MEMBUAT MAHASISWA MENETAPKAN STANDAR TINGGI

Mahasiswa dengan kecenderungan perfeksionisme dapat memiliki harapan yang sangat tinggi terhadap hasil akademiknya. Mereka mungkin merasa bahwa tugas harus memiliki hasil terbaik atau presentasi harus berjalan tanpa kesalahan. Ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan standar tersebut, muncul rasa kecewa terhadap diri sendiri. Perhatian kemudian dapat lebih banyak tertuju pada kekurangan daripada pencapaian yang sudah berhasil dilakukan. Jika pola ini berlangsung berulang, standar yang terlalu tinggi dapat membuat proses belajar terasa semakin penuh tekanan.

KEINGINAN UNTUK SEMPURNA DAPAT MEMICU OVERTHINKING

Hubungan antara perfeksionisme dan overthinking dapat terlihat ketika mahasiswa terus memikirkan apa yang seharusnya dilakukan dengan lebih baik. Setelah menyelesaikan tugas atau presentasi, mahasiswa mungkin mengingat kembali bagian yang dianggap kurang sempurna. Pikiran seperti apakah jawabannya sudah benar atau apakah orang lain melihat kesalahannya dapat muncul berulang kali. Kebiasaan tersebut dapat membuat mahasiswa sulit merasa puas terhadap hasil yang sebenarnya sudah cukup baik. Akibatnya, proses evaluasi yang seharusnya membantu justru dapat berubah menjadi pikiran berlebihan.

TAKUT MELAKUKAN KESALAHAN DAPAT MENAMBAH TEKANAN

Perfeksionisme juga dapat membuat mahasiswa memiliki kekhawatiran yang lebih besar terhadap kesalahan. Kesalahan kecil dalam tugas atau presentasi dapat dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting karena tidak sesuai dengan standar pribadi. Rasa takut tersebut dapat membuat mahasiswa terus memeriksa pekerjaan atau memikirkan kemungkinan buruk sebelum mengambil keputusan. Dalam kondisi tertentu, overthinking mahasiswa dapat membuat aktivitas akademik terasa lebih berat karena pikiran terus mencari kekurangan. Memahami bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses belajar dapat membantu mengurangi tekanan untuk selalu tampil sempurna.

CARA MENGELOLA PERFEKSIONISME DAN OVERTHINKING

Mahasiswa dapat mulai mengelola perfeksionisme dengan menetapkan target yang realistis dan membedakan antara hasil yang baik dengan hasil yang harus sempurna. Evaluasi terhadap tugas tetap penting, tetapi sebaiknya dilakukan untuk mengetahui hal yang perlu diperbaiki, bukan untuk terus menyalahkan diri sendiri. Mahasiswa juga dapat memberikan perhatian pada kemajuan yang sudah dicapai daripada hanya melihat kekurangan. Jika overthinking mulai muncul, fokus dapat diarahkan pada hal yang benar-benar dapat dikendalikan. Dengan pola pikir yang lebih seimbang, mahasiswa dapat tetap memiliki motivasi untuk berkembang tanpa memberikan tekanan berlebihan kepada diri sendiri.

KESIMPULAN

Perfeksionisme dan overthinking dapat berkaitan ketika keinginan untuk menghasilkan sesuatu secara sempurna membuat mahasiswa terus memikirkan kesalahan dan kekurangan. Standar yang terlalu tinggi dapat membuat hasil yang sebenarnya sudah baik terasa belum cukup. Ketakutan terhadap kesalahan juga dapat memperkuat kebiasaan mengevaluasi diri secara berlebihan. Mahasiswa dapat mengelola kondisi tersebut dengan menetapkan target yang realistis dan menjadikan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar. Dengan cara berpikir yang lebih seimbang, mahasiswa tetap dapat berusaha mencapai hasil terbaik tanpa terjebak dalam pikiran berlebihan.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.

Continue Reading

More Articles