University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 99 views

Kenapa Banyak Mahasiswa Merasa Tertinggal di Era Persaingan yang Serba Cepat?

G

Gusti Ayu Tita P

11 Februari 2026

Bagikan:
Kenapa Banyak Mahasiswa Merasa Tertinggal di Era Persaingan yang Serba Cepat?

Dunia perkuliahan saat ini tidak hanya menuntut mahasiswa untuk mendapatkan nilai akademik yang baik. Mahasiswa juga dihadapkan pada persaingan yang semakin cepat, perkembangan teknologi, tuntutan keterampilan, serta perubahan kebutuhan dunia kerja. Kondisi tersebut membuat sebagian mahasiswa merasa harus terus berkembang agar tidak kalah dari orang lain. Ketika melihat teman yang sudah memiliki pengalaman kerja, organisasi, sertifikat, atau prestasi, muncul perasaan bahwa dirinya belum melakukan cukup banyak hal.

Perasaan tertinggal sebenarnya cukup wajar, terutama ketika mahasiswa terlalu sering membandingkan proses dirinya dengan pencapaian orang lain. Namun, merasa tertinggal bukan berarti benar benar tertinggal. Setiap mahasiswa mempunyai kondisi, kemampuan, kesempatan, dan kecepatan belajar yang berbeda. Hal terpenting adalah memahami penyebab perasaan tersebut dan menentukan langkah yang realistis untuk meningkatkan kemampuan diri.

TEKANAN PERSAINGAN MEMBUAT MAHASISWA MUDAH MEMBANDINGKAN DIRI

Salah satu alasan mahasiswa merasa tertinggal adalah tingginya tekanan persaingan. Saat ini, mahasiswa dapat melihat berbagai pencapaian orang lain melalui media sosial, lingkungan kampus, komunitas, hingga platform profesional. Informasi tentang mahasiswa yang memenangkan kompetisi, mendapatkan magang, mengikuti program pertukaran, atau membangun bisnis dapat muncul setiap hari. Jika tidak disikapi dengan baik, berbagai pencapaian tersebut dapat membuat seseorang merasa bahwa dirinya tidak cukup berhasil.

Padahal, apa yang terlihat dari orang lain biasanya hanya sebagian dari perjalanan mereka. Perbandingan yang tidak sehat dapat membuat mahasiswa mengabaikan perkembangan kecil yang sebenarnya sudah dicapai. Setiap orang mempunyai titik awal dan sumber daya yang berbeda. Karena itu, mahasiswa sebaiknya menjadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi untuk belajar, bukan sebagai ukuran mutlak untuk menilai dirinya sendiri.

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI MEMBUAT KEBUTUHAN KETERAMPILAN TERUS BERUBAH

Perubahan teknologi menjadi faktor lain yang membuat mahasiswa merasa harus bergerak lebih cepat. Munculnya kecerdasan buatan, otomatisasi, dan berbagai platform digital membuat kebutuhan keterampilan di dunia kerja ikut berkembang. Kemampuan yang sebelumnya dianggap cukup belum tentu menjadi satu satunya keunggulan ketika mahasiswa memasuki dunia profesional. Mahasiswa akhirnya perlu memahami keterampilan digital sekaligus kemampuan dasar seperti komunikasi, berpikir kritis, kerja sama, dan pemecahan masalah.

Namun, kondisi tersebut bukan berarti mahasiswa harus menguasai semua teknologi yang tersedia. Pengembangan keterampilan sebaiknya dilakukan secara bertahap berdasarkan kebutuhan jurusan, minat, dan rencana karier. Mahasiswa dapat memilih beberapa kemampuan yang paling relevan lalu mempelajarinya secara konsisten. Dengan cara tersebut, proses belajar menjadi lebih terarah dan tidak berubah menjadi tekanan untuk mengikuti setiap tren.

KURANGNYA PENGALAMAN DAPAT MEMBUAT MAHASISWA KURANG PERCAYA DIRI

Mahasiswa juga dapat merasa tertinggal karena belum memiliki banyak pengalaman di luar kegiatan akademik. Pengalaman seperti magang, organisasi, proyek, kepanitiaan, penelitian, atau pekerjaan paruh waktu sering dianggap sebagai modal penting untuk memasuki dunia kerja. Ketika melihat teman sudah memiliki pengalaman tersebut, mahasiswa yang belum pernah mengikutinya mungkin merasa memiliki kekurangan. Padahal, pengalaman tidak harus diperoleh dalam jumlah banyak sekaligus.

Mahasiswa dapat memulai dari kegiatan yang paling sesuai dengan kemampuan dan waktu yang tersedia. Mengikuti satu organisasi, mengerjakan proyek kecil, menjadi relawan, atau membuat portofolio sederhana dapat menjadi langkah awal yang bermanfaat. Kualitas pengalaman lebih penting daripada sekadar jumlah kegiatan yang tercantum dalam CV. Dari pengalaman tersebut, mahasiswa dapat belajar bertanggung jawab, bekerja sama, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah.

TARGET YANG TERLALU TINGGI BISA MENJADI SUMBER TEKANAN

Memiliki target merupakan hal yang baik, tetapi target yang tidak realistis dapat menimbulkan tekanan. Sebagian mahasiswa merasa harus mendapatkan IPK tinggi, aktif dalam organisasi, memiliki banyak sertifikat, menguasai bahasa asing, mengikuti magang, dan membangun portofolio dalam waktu bersamaan. Ketika semua target tidak tercapai, muncul anggapan bahwa dirinya gagal. Padahal, terlalu banyak target dalam waktu singkat dapat membuat fokus dan energi terbagi.

Target sebaiknya dibuat berdasarkan prioritas dan kemampuan yang benar benar dapat dikerjakan. Mahasiswa dapat menentukan satu atau dua tujuan utama untuk setiap periode, kemudian membaginya menjadi langkah kecil. Kemajuan yang konsisten biasanya lebih mudah dipertahankan daripada perubahan besar yang hanya dilakukan sesaat. Dengan target yang realistis, mahasiswa dapat melihat perkembangan dirinya dengan lebih objektif.

CARA MENGATASI PERASAAN TERTINGGAL DI MASA KULIAH

Langkah pertama adalah berhenti menjadikan pencapaian orang lain sebagai satu satunya standar keberhasilan. Mahasiswa perlu mengevaluasi kemampuan, pengalaman, kekurangan, dan tujuan pribadi secara jujur. Setelah itu, tentukan keterampilan yang paling penting untuk dikembangkan sesuai dengan jurusan dan rencana karier. Misalnya, mahasiswa yang ingin bekerja di bidang pemasaran dapat mulai mempelajari komunikasi, pemasaran digital, analisis data dasar, dan pembuatan portofolio.

Langkah berikutnya adalah membuat rencana pengembangan diri yang sederhana dan terukur. Setiap minggu dapat digunakan untuk mempelajari keterampilan tertentu, mengerjakan proyek, membaca sumber terpercaya, atau mengikuti kegiatan yang relevan. Mahasiswa juga dapat meminta masukan dari dosen, mentor, teman, atau orang yang memiliki pengalaman di bidang yang diminati. Fokus pada proses dan perkembangan diri akan membantu mengurangi tekanan sekaligus membuat persiapan karier menjadi lebih terarah.

PERKULIAHAN BUKAN PERLOMBAAN SIAPA YANG PALING CEPAT

Setiap mahasiswa memiliki perjalanan yang berbeda sehingga tidak semua pencapaian harus diperoleh pada waktu yang sama. Ada mahasiswa yang cepat menemukan bidang yang diminati, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih panjang untuk mengenali potensinya. Ada pula mahasiswa yang harus membagi waktu antara kuliah, keluarga, pekerjaan, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Karena itu, kecepatan seseorang tidak dapat menjadi ukuran tunggal keberhasilan mahasiswa lain.

Yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap pengalaman memberikan pembelajaran dan membawa diri menuju tujuan yang lebih jelas. Jika saat ini belum memiliki banyak prestasi, mahasiswa masih dapat mulai membangun kemampuan dari langkah sederhana. Kesalahan dan kegagalan juga dapat menjadi bagian dari proses belajar. Pada akhirnya, konsistensi, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar menjadi bekal penting dalam menghadapi persaingan yang terus berubah.

KESIMPULAN

Banyak mahasiswa merasa tertinggal karena menghadapi persaingan yang semakin cepat, perubahan teknologi, tuntutan keterampilan, tekanan sosial, dan kebiasaan membandingkan diri. Perasaan tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang benar benar tertinggal. Sering kali, masalahnya terletak pada standar keberhasilan yang terlalu dipengaruhi oleh pencapaian orang lain. Mahasiswa perlu memahami bahwa setiap orang mempunyai proses dan kondisi yang berbeda.

Daripada terus mengejar pencapaian orang lain, lebih baik membangun pengembangan diri yang terarah dan realistis. Tentukan tujuan, pilih keterampilan yang relevan, cari pengalaman secara bertahap, dan evaluasi perkembangan secara berkala. Dengan cara tersebut, mahasiswa dapat menghadapi persaingan secara lebih percaya diri tanpa kehilangan fokus pada prosesnya sendiri.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.