Kita Sudah Secanggih Ini, Tapi Mengapa Rasanya Semakin Sepi
Rangga Triatmaja
29 Agustus 2026
Coba lihat suasana di sekitar kita. Di meja makan, ruang tunggu, kendaraan umum, bahkan ketika sedang berkumpul bersama keluarga, layar ponsel sering kali menjadi pusat perhatian. Kita dapat melakukan panggilan video dengan seseorang yang berada ribuan kilometer jauhnya dalam hitungan detik, tetapi menyapa atau berbincang dengan orang yang duduk di sebelah terkadang justru terasa semakin canggung.
Situasi tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya mencerminkan perubahan besar dalam kehidupan manusia. Perkembangan teknologi telah membawa masyarakat memasuki fase baru yang ditandai dengan konektivitas, otomatisasi, kecerdasan buatan, dan pertukaran data secara masif. Perubahan tersebut sering dikaitkan dengan Industry 4.0 dan kemudian berkembang menuju gagasan Society 5.0.
Industry 4.0 membawa perubahan besar terhadap cara manusia bekerja dan menjalankan aktivitas ekonomi. Mesin, perangkat, sistem informasi, dan manusia dapat saling terhubung melalui jaringan digital. Data dapat dikumpulkan secara real time dan digunakan untuk membantu mengambil keputusan dengan lebih cepat. Cisco menjelaskan bahwa Industry 4.0 merupakan transformasi digital yang mengintegrasikan operasi dengan teknologi informasi dan proses bisnis untuk meningkatkan produktivitas, fleksibilitas, serta kecepatan pengambilan keputusan.
Kemajuan tersebut tentu membawa banyak manfaat. Namun, di balik efisiensi dan kemudahan yang ditawarkan teknologi, terdapat pertanyaan yang tidak kalah penting. Apakah semakin canggihnya teknologi selalu membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena kemajuan teknologi tidak hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi juga memengaruhi cara berkomunikasi, berinteraksi, belajar, dan membangun hubungan dengan orang lain.
Ketika Mesin Semakin Pintar, Apa yang Terjadi pada Manusia?
Industry 4.0 identik dengan konektivitas dan integrasi antara dunia fisik dengan dunia digital. Mesin dapat berkomunikasi satu sama lain, sensor mampu mengirimkan data secara terus-menerus, dan sistem dapat menganalisis informasi untuk mendukung proses produksi.
Fraunhofer menjelaskan bahwa Industry 4.0 ditandai dengan semakin terhubungnya manusia, benda kerja, dan mesin melalui teknologi informasi dan komunikasi. Informasi produksi dapat tersedia secara real time sehingga sistem dapat berkomunikasi, berkoordinasi, dan beradaptasi terhadap kebutuhan yang berubah.
Dari sisi industri, perkembangan tersebut tentu merupakan sebuah kemajuan. Proses menjadi lebih efisien, pekerjaan berulang dapat diotomatisasi, dan keputusan dapat didukung oleh data. Teknologi bahkan dapat membantu menciptakan sistem produksi yang lebih fleksibel dan berkelanjutan.
Namun, kehidupan manusia tidak hanya terdiri atas angka, data, dan efisiensi.
Ada hal-hal yang tidak selalu dapat diterjemahkan menjadi statistik, seperti rasa nyaman ketika berbicara dengan seseorang, empati ketika mendengarkan masalah orang lain, kehangatan dalam sebuah pertemuan, atau kepedulian yang muncul tanpa diminta.
Ketika hampir seluruh aktivitas dapat dilakukan melalui perangkat digital, manusia berpotensi terbiasa dengan hubungan yang cepat tetapi dangkal. Kita dapat mengirim pesan dalam hitungan detik, tetapi belum tentu benar-benar memahami perasaan orang yang menerima pesan tersebut.
Karena itu, persoalan teknologi seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa cepat, murah, atau efisien sebuah sistem bekerja. Kita juga perlu bertanya apakah teknologi tersebut membantu manusia menjadi lebih terhubung secara bermakna atau justru membuat manusia semakin terpisah secara emosional.
Society 5.0 dan Upaya Mengembalikan Manusia ke Pusat
Gagasan Society 5.0 menawarkan perspektif yang menarik terhadap perkembangan teknologi. Konsep ini pertama kali diperkenalkan dalam kebijakan sains dan teknologi Jepang sebagai gambaran masyarakat yang mengintegrasikan ruang siber dan ruang fisik dengan manusia sebagai pusatnya.
Cabinet Office Government of Japan menjelaskan Society 5.0 sebagai masyarakat yang berpusat pada manusia, di mana perkembangan ekonomi dan penyelesaian persoalan sosial dapat berjalan bersama melalui integrasi ruang siber dan ruang fisik. Konsep tersebut juga diarahkan pada masyarakat yang berkelanjutan, tangguh, aman, dan mampu memberikan kesejahteraan yang beragam bagi setiap individu.
Dengan demikian, Society 5.0 bukan sekadar kelanjutan dari digitalisasi. Ada perubahan orientasi yang penting. Teknologi tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk membantu manusia menyelesaikan berbagai persoalan.
Teknologi dapat digunakan untuk memperluas akses kesehatan, membantu pendidikan menjangkau masyarakat di berbagai wilayah, meningkatkan sistem transportasi, mengembangkan layanan publik, serta menciptakan lingkungan hidup yang lebih berkelanjutan.
Dalam konsep tersebut, manusia tetap menjadi pusat pengambilan keputusan. Teknologi seharusnya mengikuti kebutuhan manusia, bukan membuat manusia sepenuhnya menyesuaikan diri dengan teknologi.
Keidanren juga menggambarkan Society 5.0 sebagai masyarakat yang menggabungkan inovasi digital dengan imajinasi dan kreativitas manusia untuk menyelesaikan persoalan sosial dan menciptakan nilai baru. Artinya, teknologi dan kemampuan manusia tidak diposisikan sebagai dua hal yang harus saling menggantikan, tetapi sebagai kekuatan yang dapat bekerja bersama.
Indonesia dan Tantangan Menjadikan Teknologi Lebih Manusiawi
Konsep Society 5.0 memiliki relevansi besar bagi Indonesia. Sebagai negara dengan wilayah luas serta keragaman sosial, budaya, dan ekonomi, teknologi dapat menjadi alat untuk mengurangi berbagai kesenjangan.
Dalam pendidikan, misalnya, teknologi memungkinkan materi pembelajaran diakses oleh peserta didik yang berada jauh dari pusat kota. Dalam layanan kesehatan, teknologi dapat membantu memperluas akses konsultasi dan informasi medis. Sementara dalam pelayanan publik, sistem digital dapat mempersingkat proses administrasi dan membuat layanan menjadi lebih mudah diakses.
Namun, teknologi tidak secara otomatis menciptakan pemerataan.
Masih terdapat persoalan mengenai akses internet, kemampuan menggunakan teknologi, kualitas infrastruktur, keamanan data, serta kesenjangan kemampuan ekonomi masyarakat. Jika perkembangan teknologi hanya dapat dinikmati oleh kelompok tertentu, digitalisasi justru berpotensi menciptakan bentuk kesenjangan baru.
Karena itu, penerapan teknologi perlu dibangun di atas prinsip keadilan dan inklusivitas. Masyarakat tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga perlu memiliki kesempatan yang cukup untuk memahami cara kerja, manfaat, risiko, dan dampaknya.
Cabinet Office Jepang sendiri menempatkan keberagaman, keadilan, martabat individu, dan kesejahteraan sebagai nilai penting dalam Society 5.0. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi perlu berjalan bersama pertimbangan sosial dan kemanusiaan.
Yang Hilang di Balik Layar
Teknologi memang membuat manusia semakin mudah berkomunikasi. Tetapi mudah berkomunikasi tidak selalu berarti semakin dekat.
Seseorang dapat memiliki ratusan atau bahkan ribuan pengikut di media sosial, tetapi belum tentu memiliki banyak orang yang benar-benar mengetahui apa yang sedang ia rasakan. Pesan dapat dikirim kapan saja, tetapi belum tentu menciptakan percakapan yang bermakna.
Di sinilah muncul persoalan yang lebih dalam. Ketika interaksi manusia semakin banyak berlangsung melalui layar, kemampuan untuk memahami ekspresi, bahasa tubuh, intonasi, dan emosi orang lain dapat menjadi lebih terbatas.
Budaya digital juga mendorong kehidupan yang serba cepat. Informasi datang tanpa henti, notifikasi terus bermunculan, dan perhatian manusia berpindah dari satu hal ke hal lainnya dalam waktu singkat.
Akibatnya, manusia dapat mengalami paradoks konektivitas. Kita semakin terhubung secara teknologi, tetapi belum tentu semakin dekat secara emosional.
Persoalan ini tidak berarti teknologi harus ditolak. Justru teknologi perlu digunakan secara lebih sadar. Manusia perlu menentukan batas antara waktu untuk terkoneksi secara digital dan waktu untuk hadir sepenuhnya dalam kehidupan nyata.
Manusia Memiliki Sesuatu yang Tidak Mudah Digantikan Mesin
Kecerdasan buatan dapat mengolah data dalam jumlah besar. Mesin dapat bekerja dengan presisi. Sistem digital mampu melakukan perhitungan jauh lebih cepat daripada manusia.
Namun, manusia memiliki kemampuan lain yang tidak dapat direduksi menjadi sekadar kemampuan komputasi.
Manusia memiliki empati, intuisi, nilai moral, imajinasi, pengalaman emosional, dan kemampuan memahami makna di balik sebuah peristiwa. Manusia juga mampu menciptakan hubungan yang tidak selalu didasarkan pada keuntungan atau efisiensi.
Karena itu, perkembangan teknologi semestinya tidak membuat manusia berlomba menjadi seperti mesin. Sebaliknya, teknologi seharusnya memberi ruang agar manusia dapat semakin mengembangkan kemampuan yang membuatnya tetap manusia.
Keidanren menekankan bahwa Society 5.0 bukan hanya mengenai efisiensi dan kemudahan. Masyarakat masa depan membutuhkan perpaduan antara teknologi digital dengan kemampuan manusia untuk berimajinasi dan menciptakan sesuatu yang baru.
Dengan perspektif tersebut, kecerdasan buatan tidak harus dilihat sebagai ancaman yang selalu menggantikan manusia. AI dapat menjadi alat yang membantu manusia menyelesaikan pekerjaan, sementara manusia tetap menentukan tujuan, nilai, dan batas penggunaannya.
Teknologi yang Baik Adalah Teknologi yang Memanusiakan
Kemajuan teknologi sering kali diukur melalui kecepatan jaringan, kemampuan perangkat, kecanggihan AI, jumlah data yang dapat diproses, atau tingkat otomatisasi sebuah sistem.
Semua ukuran tersebut penting. Namun, ada ukuran lain yang tidak kalah penting, yaitu dampaknya terhadap kehidupan manusia.
Apakah teknologi membuat masyarakat lebih mudah mendapatkan pendidikan?
Apakah layanan kesehatan menjadi lebih inklusif?
Apakah masyarakat menjadi lebih aman?
Apakah pekerjaan manusia menjadi lebih bermakna?
Apakah hubungan antarmanusia menjadi lebih sehat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu menjadi bagian dari pembicaraan mengenai masa depan teknologi.
Dalam kerangka Society 5.0, teknologi harus digunakan untuk menyelesaikan persoalan sosial sekaligus menciptakan kesejahteraan. Pemerintah Jepang juga menekankan pentingnya keterlibatan ilmu pengetahuan sosial dan humaniora dalam menghadapi persoalan etika, hukum, dan sosial yang muncul dari penggunaan teknologi baru.
Artinya, masa depan tidak boleh hanya dirancang oleh para ahli teknologi. Para pendidik, pekerja sosial, ahli hukum, psikolog, budayawan, pemerintah, masyarakat, dan berbagai kelompok lainnya juga memiliki peran dalam menentukan seperti apa teknologi seharusnya digunakan.
Menjaga Keseimbangan antara Dunia Digital dan Dunia Nyata
Pada akhirnya, persoalan utama bukan apakah manusia harus memilih antara teknologi atau hubungan sosial. Keduanya dapat berjalan bersama.
Kita tetap dapat menggunakan teknologi untuk bekerja, belajar, berkomunikasi, dan mendapatkan informasi. Namun, pada saat yang sama, kita perlu menyediakan ruang untuk melakukan percakapan tanpa layar, mendengarkan orang lain secara langsung, berkumpul bersama keluarga, dan membangun hubungan yang tidak bergantung pada notifikasi.
Kebiasaan sederhana seperti meletakkan ponsel ketika sedang berbicara dengan seseorang dapat menjadi bentuk kecil dari penghargaan terhadap hubungan manusia. Begitu pula dengan memilih bertemu langsung ketika sebuah persoalan membutuhkan percakapan yang lebih mendalam.
Teknologi seharusnya memperluas kehidupan manusia, bukan mengambil alih seluruh ruang kehidupan tersebut.
Kesimpulan
Kita memang hidup di tengah perkembangan teknologi yang luar biasa. Industry 4.0 telah membawa konektivitas, otomatisasi, analisis data, dan kecerdasan digital ke berbagai bidang kehidupan. Sistem yang semakin terhubung membuat pekerjaan menjadi lebih efisien dan berbagai layanan menjadi lebih mudah diakses.
Namun, kecanggihan teknologi tidak otomatis membuat manusia semakin dekat satu sama lain. Kemudahan komunikasi dapat berjalan beriringan dengan munculnya kesepian, individualisme, dan berkurangnya kualitas interaksi apabila teknologi digunakan tanpa kesadaran.
Society 5.0 menawarkan cara pandang bahwa perkembangan teknologi seharusnya tetap menempatkan manusia sebagai pusat. Teknologi perlu digunakan untuk menyelesaikan persoalan sosial, meningkatkan kesejahteraan, memperluas kesempatan, serta menciptakan kehidupan yang lebih berkelanjutan dan manusiawi.
Karena itu, ukuran kemajuan sebuah peradaban tidak semestinya hanya dilihat dari seberapa canggih mesin yang berhasil diciptakannya. Kemajuan juga harus dilihat dari kemampuan manusia mempertahankan empati, kepedulian, kreativitas, moralitas, dan hubungan sosial di tengah perkembangan teknologi.
Sebab pada akhirnya, teknologi boleh semakin pintar, tetapi manusia tetap harus memastikan bahwa dirinya tidak kehilangan kemampuan untuk menjadi manusia.
Daftar Referensi
Cisco. What Is Industry 4.0? Cisco menjelaskan Industry 4.0 sebagai transformasi digital yang mengintegrasikan operasi, teknologi informasi, dan proses bisnis melalui teknologi seperti IoT, AI, jaringan industri, serta sistem siber-fisik.
Fraunhofer Institute for Manufacturing Engineering and Automation. Industry 4.0. Fraunhofer menjelaskan Industry 4.0 sebagai proses pengembangan produksi yang semakin terhubung, cerdas, fleksibel, dan mampu menyediakan informasi secara real time.
Fraunhofer Institute for Experimental Software Engineering. Industrie 4.0. Sumber ini membahas Industry 4.0 dari perspektif sistem dan rekayasa perangkat lunak, termasuk jaringan mesin, robot, fasilitas produksi, serta sistem perencanaan dan pengelolaan.
Cabinet Office, Government of Japan. Society 5.0. Sumber resmi pemerintah Jepang menjelaskan Society 5.0 sebagai masyarakat yang berpusat pada manusia dengan mengintegrasikan ruang siber dan ruang fisik untuk menyelesaikan persoalan sosial serta mendukung kesejahteraan.
Keidanren. Society 5.0, Co-Creating the Future. Keidanren menjelaskan Society 5.0 sebagai masyarakat yang menggabungkan transformasi digital dengan imajinasi dan kreativitas manusia untuk menyelesaikan persoalan sosial serta menciptakan nilai baru.
Cabinet Office, Government of Japan. Science, Technology and Innovation Basic Plan. Dokumen ini menjelaskan integrasi ruang siber dan fisik, nilai human-centered, penggunaan data, serta pentingnya sumber daya manusia dalam mewujudkan Society 5.0.
About the Author
Rangga Triatmaja
Author — STEKOM University
An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.