University of Science and Computer Technology
MENU
Langkah Menjadi DevOps Engineer Profesional dengan Skill yang Dibutuhkan Perusahaan
Tips Karir 17 views

Langkah Menjadi DevOps Engineer Profesional dengan Skill yang Dibutuhkan Perusahaan

G

Gusti Ayu Tita P

Tips Karir

Published

calendar_today 20 Juli 2026

Profesi DevOps Engineer menjadi salah satu karier teknologi yang paling banyak dicari perusahaan karena mampu menghubungkan tim pengembang dan tim operasional agar proses pengembangan aplikasi berjalan lebih cepat, stabil, dan efisien. Di era transformasi digital, perusahaan membutuhkan sistem yang dapat diperbarui secara otomatis tanpa mengganggu layanan pengguna. Karena itu, DevOps tidak hanya berfokus pada coding, tetapi juga pada otomatisasi, kolaborasi, dan pengelolaan infrastruktur. Artikel ini membahas langkah menjadi DevOps Engineer profesional beserta skill yang paling dibutuhkan perusahaan saat ini.

MEMAHAMI DASAR PEMROGRAMAN DAN SISTEM OPERASI

Langkah pertama adalah memahami dasar pemrograman seperti Python, Bash, atau JavaScript karena bahasa tersebut sering digunakan untuk otomatisasi dan scripting. DevOps Engineer tidak harus menjadi software engineer tingkat lanjut, tetapi harus mampu membaca, memodifikasi, dan membuat script sederhana untuk mempercepat pekerjaan. Kemampuan ini membantu dalam pembuatan deployment otomatis, monitoring, dan integrasi sistem. Tanpa dasar pemrograman, proses otomatisasi akan sulit dilakukan secara efektif.

Selain itu, penguasaan sistem operasi Linux sangat penting karena sebagian besar server perusahaan berjalan di lingkungan Linux. Pelajari perintah dasar, manajemen file, permission, proses, dan jaringan. Memahami cara kerja server akan memudahkan troubleshooting ketika terjadi masalah pada aplikasi atau infrastruktur. Banyak perusahaan menjadikan kemampuan Linux sebagai syarat utama untuk posisi DevOps.

MENGUASAI CLOUD COMPUTING DAN INFRASTRUKTUR

Perusahaan modern banyak menggunakan layanan cloud seperti AWS, Google Cloud, dan Microsoft Azure untuk menjalankan aplikasi mereka. Seorang DevOps Engineer harus memahami cara membuat server virtual, mengelola storage, mengatur jaringan, dan melakukan scaling aplikasi sesuai kebutuhan. Cloud computing memungkinkan perusahaan menghemat biaya dan meningkatkan fleksibilitas operasional. Karena itu, skill cloud menjadi salah satu kompetensi paling dicari di industri teknologi.

Selain cloud, pelajari konsep Infrastructure as Code menggunakan tools seperti Terraform atau Ansible. Dengan pendekatan ini, infrastruktur dapat dibuat dan dikelola melalui kode sehingga lebih konsisten dan mudah direproduksi. Perusahaan menyukai kandidat yang mampu mengotomatisasi konfigurasi server karena dapat mengurangi kesalahan manual dan mempercepat proses deployment.

MEMPELAJARI CI CD DAN CONTAINERIZATION

Salah satu inti DevOps adalah Continuous Integration dan Continuous Deployment (CI/CD). Konsep ini memungkinkan kode yang dibuat developer diuji dan dirilis secara otomatis. Tools populer yang sering digunakan antara lain Jenkins, GitHub Actions, GitLab CI, dan Azure DevOps. Dengan CI/CD, perusahaan dapat merilis fitur baru lebih cepat dan mengurangi risiko kesalahan saat deployment.

Containerization juga menjadi skill wajib, terutama dengan Docker dan Kubernetes. Docker membantu mengemas aplikasi beserta dependensinya agar dapat berjalan konsisten di berbagai lingkungan. Kubernetes digunakan untuk mengelola banyak container secara otomatis dalam skala besar. Penguasaan kedua teknologi ini sangat meningkatkan nilai kandidat di mata perusahaan karena hampir semua sistem modern menggunakan arsitektur berbasis container.

MEMBANGUN PORTOFOLIO DAN KEMAMPUAN KOLABORASI

Skill teknis saja belum cukup untuk menjadi DevOps Engineer profesional. Perusahaan juga mencari orang yang mampu berkolaborasi dengan developer, tester, dan tim operasional. DevOps sangat menekankan komunikasi, dokumentasi, dan kemampuan menyelesaikan masalah bersama. Karena itu, latih kemampuan menjelaskan solusi teknis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anggota tim lain.

Bangun portofolio nyata seperti proyek deployment aplikasi di cloud, pipeline CI/CD, monitoring server, atau cluster Kubernetes sederhana. Unggah proyek tersebut ke GitHub dan dokumentasikan langkah-langkahnya. Portofolio praktis sering kali lebih meyakinkan dibanding hanya mencantumkan sertifikat. Semakin banyak pengalaman nyata yang dapat ditunjukkan, semakin besar peluang diterima sebagai DevOps Engineer.

KESIMPULAN

Menjadi DevOps Engineer profesional membutuhkan kombinasi pemrograman, Linux, cloud computing, CI/CD, Docker, Kubernetes, dan kemampuan kolaborasi. Langkah terbaik adalah memulai dari dasar sistem operasi dan scripting, kemudian berkembang ke cloud dan otomatisasi infrastruktur. Industri teknologi sangat membutuhkan profesional yang mampu mempercepat proses pengembangan aplikasi sekaligus menjaga stabilitas sistem. Dengan belajar secara bertahap, membangun portofolio nyata, dan terus mengikuti perkembangan teknologi, peluang untuk berkarier sebagai DevOps Engineer profesional akan semakin besar.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.