University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 38 views

Mengapa Golden Child Bisa Mengalami Tekanan yang Tinggi?

G

Gusti Ayu Tita P

23 September 2026

Bagikan:
Mengapa Golden Child Bisa Mengalami Tekanan yang Tinggi?

Golden child adalah istilah yang menggambarkan anak yang sering dianggap paling unggul, paling membanggakan, atau paling mampu memenuhi harapan orang tua dalam keluarga. Anak seperti ini biasanya mendapatkan banyak pujian karena prestasi, perilaku, atau kemampuannya menjalankan tanggung jawab. Namun, perhatian dan penghargaan yang berlebihan dapat berubah menjadi tekanan apabila anak merasa harus terus mempertahankan citra tersebut. Ia dapat merasa tidak memiliki ruang untuk gagal, mengecewakan orang tua, atau menunjukkan kelemahan. Kondisi inilah yang dapat membuat seorang golden child mengalami tekanan yang tinggi.

HARUS SELALU MEMENUHI HARAPAN ORANG TUA

Salah satu alasan golden child dapat mengalami tekanan adalah adanya harapan yang tinggi dari orang tua. Anak mungkin terbiasa mendengar bahwa dirinya pintar, bertanggung jawab, atau menjadi contoh bagi saudara lainnya. Pujian tersebut sebenarnya dapat memberikan motivasi, tetapi dapat menjadi beban apabila anak merasa harus mempertahankan standar tersebut setiap saat. Ia akhirnya dapat menganggap memenuhi harapan keluarga sebagai kewajiban yang tidak boleh gagal.

Ketika harapan tersebut terlalu tinggi, anak dapat merasa bahwa pencapaian tertentu adalah ukuran keberhasilannya sebagai pribadi. Nilai sekolah, prestasi, pilihan pendidikan, hingga karier dapat terasa seperti sesuatu yang harus selalu dibanggakan. Akibatnya, anak mungkin kesulitan menentukan keinginannya sendiri karena terlalu fokus pada apa yang diharapkan keluarga.

TAKUT KEHILANGAN PENGAKUAN

Golden child sering mendapatkan perhatian dan pengakuan ketika berhasil melakukan sesuatu dengan baik. Kondisi tersebut dapat membuat anak menghubungkan keberhasilan dengan penerimaan dari orang tua. Ketika gagal, ia mungkin khawatir tidak lagi dianggap sebagai anak yang membanggakan. Ketakutan kehilangan pengakuan ini dapat membuat anak terus berusaha membuktikan dirinya.

Masalahnya, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dapat membuat anak sulit merasa puas dengan pencapaiannya. Setelah mendapatkan satu keberhasilan, ia mungkin langsung menetapkan target baru agar tetap dianggap unggul. Siklus tersebut dapat menyebabkan tekanan yang berlangsung terus menerus.

MERASA TIDAK BOLEH GAGAL

Anak yang terbiasa dipandang sebagai anak terbaik dapat mengembangkan anggapan bahwa dirinya tidak boleh melakukan kesalahan. Padahal, kegagalan merupakan bagian normal dari proses belajar dan perkembangan. Jika kesalahan selalu dianggap sebagai sesuatu yang memalukan, anak dapat menjadi takut mencoba hal baru. Ia mungkin memilih menghindari tantangan daripada menghadapi kemungkinan gagal.

Rasa takut gagal juga dapat membuat anak terlalu keras terhadap dirinya sendiri. Kesalahan kecil dapat dianggap sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup pintar atau tidak memenuhi harapan. Cara berpikir seperti ini dapat meningkatkan tekanan emosional, terutama ketika anak menghadapi situasi yang membutuhkan proses dan tidak langsung menghasilkan keberhasilan.

SERING DIJADIKAN CONTOH BAGI SAUDARA

Golden child terkadang ditempatkan sebagai contoh bagi saudara lainnya. Orang tua mungkin mengatakan bahwa saudara harus belajar dari perilaku atau prestasi anak tersebut. Meskipun terlihat sebagai bentuk penghargaan, posisi tersebut dapat membuat anak merasa bertanggung jawab terhadap keberhasilan keluarga. Ia mungkin merasa harus selalu menunjukkan perilaku yang dianggap benar.

Selain itu, perbandingan antar saudara dapat menciptakan tekanan bagi semua pihak. Golden child dapat merasa harus mempertahankan posisinya, sedangkan saudara lainnya dapat merasa dibandingkan atau kurang dihargai. Hubungan keluarga akhirnya dapat menjadi kurang nyaman apabila pencapaian satu anak terus digunakan sebagai standar bagi anak lainnya.

SULIT MENUNJUKKAN KELEMAHAN

Golden child dapat terbiasa dipandang sebagai anak yang kuat, pintar, dan mampu menyelesaikan berbagai masalah. Karena itu, ia mungkin merasa tidak nyaman ketika ingin mengatakan bahwa dirinya sedang kesulitan. Ada kemungkinan anak memilih menyimpan rasa sedih, takut, atau kecewa agar tidak dianggap lemah.

Kebiasaan menyembunyikan emosi dapat membuat anak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan dukungan ketika membutuhkannya. Padahal, meminta bantuan bukan tanda kegagalan. Anak tetap membutuhkan ruang untuk mengungkapkan perasaan tanpa takut kehilangan penghargaan atau kasih sayang dari keluarga.

HARGA DIRI TERKAIT DENGAN PRESTASI

Tekanan juga dapat muncul ketika harga diri anak terlalu bergantung pada pencapaian. Anak mungkin merasa berharga ketika mendapatkan nilai tinggi, memenangkan kompetisi, atau berhasil mencapai target. Sebaliknya, ketika hasilnya buruk, ia dapat merasa dirinya tidak cukup baik. Hal tersebut membuat setiap pencapaian terasa seperti sesuatu yang harus dipertahankan.

Harga diri yang sehat seharusnya tidak hanya bergantung pada prestasi. Anak perlu memahami bahwa dirinya tetap berharga ketika mengalami kegagalan, membutuhkan bantuan, atau belum berhasil mencapai suatu tujuan. Dukungan seperti ini dapat membantu anak memiliki pandangan yang lebih seimbang terhadap kemampuan dirinya.

TAKUT MENGECEWAKAN ORANG LAIN

Golden child dapat menjadi sangat sensitif terhadap kemungkinan mengecewakan orang tua atau orang lain yang memiliki ekspektasi tinggi terhadapnya. Ia mungkin memilih melakukan sesuatu bukan karena benar-benar menginginkannya, tetapi karena takut dianggap tidak bertanggung jawab. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat membuat anak kesulitan mengenali kebutuhan dan keinginannya sendiri.

Tekanan untuk selalu menyenangkan orang lain juga dapat terbawa hingga dewasa. Seseorang mungkin sulit mengatakan tidak, terlalu banyak mengambil tanggung jawab, atau merasa bersalah ketika memilih kepentingan pribadi. Karena itu, anak perlu belajar bahwa memenuhi harapan orang lain bukan satu-satunya tujuan dalam hidup.

TUNTUTAN UNTUK MEMPERTAHANKAN CITRA

Ketika seorang anak sudah dikenal sebagai anak yang berprestasi, orang-orang di sekitarnya mungkin memiliki ekspektasi tertentu terhadapnya. Anak kemudian dapat merasa harus mempertahankan citra tersebut di sekolah, lingkungan sosial, maupun keluarga. Ia mungkin takut jika orang lain mengetahui bahwa dirinya juga memiliki kekurangan dan pernah mengalami kegagalan.

Mempertahankan citra secara terus menerus dapat melelahkan secara emosional. Anak perlu mendapatkan pemahaman bahwa menjadi pintar atau berprestasi tidak berarti harus selalu sempurna. Memberikan ruang untuk melakukan kesalahan dapat membantu anak berkembang tanpa tekanan untuk mempertahankan citra tertentu.

KESIMPULAN

Golden child bisa mengalami tekanan yang tinggi karena terbiasa menghadapi harapan, pengakuan, dan tuntutan untuk mempertahankan posisi sebagai anak yang dianggap unggul. Tekanan dapat semakin kuat ketika anak merasa tidak boleh gagal, takut mengecewakan keluarga, atau menghubungkan harga dirinya dengan prestasi. Jika kondisi tersebut berlangsung terus menerus, anak dapat mengalami kelelahan emosional dan kesulitan menjadi dirinya sendiri. Karena itu, orang tua perlu memberikan apresiasi tanpa menjadikan pencapaian sebagai satu-satunya ukuran nilai seorang anak. Anak juga perlu mendapatkan ruang untuk gagal, meminta bantuan, mengungkapkan emosi, dan menentukan pilihan sesuai dengan kemampuannya.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.