University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 71 views

Mengapa Menjaga Lisan Sangat Penting di Bulan Ramadhan?

G

Gusti Ayu Tita P

20 Februari 2026

Bagikan:
Mengapa Menjaga Lisan Sangat Penting di Bulan Ramadhan?

Bulan Ramadhan merupakan waktu yang penuh dengan kesempatan untuk meningkatkan ibadah, ketakwaan, dan kualitas akhlak. Menjalankan puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih diri untuk mengendalikan ucapan serta perilaku. Perkataan yang tidak baik dapat merusak hubungan dengan orang lain dan mengurangi kualitas ibadah seseorang. Karena itu, menjaga lisan menjadi salah satu bentuk latihan pengendalian diri yang penting selama Ramadhan.

MAKNA MENJAGA LISAN SAAT RAMADHAN

Menjaga lisan berarti berusaha menghindari ucapan buruk, kebohongan, fitnah, penghinaan, pertengkaran, dan perkataan yang menyakiti orang lain. Selama Ramadhan, kebiasaan tersebut perlu lebih diperhatikan karena puasa juga bertujuan membentuk ketakwaan dan akhlak yang lebih baik. Seseorang dianjurkan untuk menggunakan lisannya dalam hal yang bermanfaat dan menghindari pembicaraan yang tidak perlu. Menahan diri dari ucapan buruk dapat menjadi latihan agar kebiasaan tersebut tidak terbawa setelah Ramadhan berakhir. Puasa yang baik seharusnya mendorong seseorang untuk memperbaiki sikap, bukan hanya menahan rasa lapar dan haus.

MENJAGA LISAN MEMBANTU MENJAGA KUALITAS PUASA

Puasa memiliki dimensi fisik sekaligus spiritual yang berkaitan dengan pengendalian diri dan ketakwaan. Karena itu, seseorang yang sedang berpuasa perlu menjaga perilaku, termasuk cara berbicara kepada orang lain. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa ketika seseorang diajak bertengkar saat berpuasa, ia hendaknya mengatakan bahwa dirinya sedang berpuasa. Pesan tersebut menunjukkan pentingnya mengendalikan respons ketika menghadapi provokasi. Menjaga ucapan membantu seseorang menjalani puasa dengan sikap yang lebih tenang dan terkendali.

MENGHINDARI GOSIP DAN PERKATAAN YANG MENYAKITI

Gosip atau membicarakan keburukan seseorang ketika orang tersebut tidak ada merupakan kebiasaan yang perlu dihindari. Dalam ajaran Islam, ghibah mendapat perhatian serius dan digambarkan sebagai perbuatan yang tercela. Ramadhan dapat menjadi momentum untuk mengurangi kebiasaan membicarakan kekurangan orang lain, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Sebelum membicarakan seseorang, pertimbangkan apakah pembicaraan tersebut benar-benar memiliki manfaat atau justru dapat menimbulkan masalah. Menahan diri dari gosip dapat membantu menjaga hubungan sekaligus melatih kebersihan hati dan ucapan.

MENGENDALIKAN EMOSI DAN AMARAH

Rasa lapar, lelah, atau situasi yang tidak menyenangkan terkadang dapat membuat seseorang lebih mudah tersulut emosi. Ramadhan menjadi kesempatan untuk melatih kesabaran dan pengendalian amarah ketika menghadapi keadaan tersebut. Daripada langsung membalas perkataan yang membuat kesal, seseorang dapat mengambil jeda, diam, atau mengalihkan perhatian kepada kegiatan yang lebih positif. Kemampuan mengendalikan emosi tidak berarti membiarkan masalah begitu saja, tetapi menyelesaikannya dengan cara yang lebih bijaksana. Menahan ucapan ketika marah dapat mencegah konflik yang sebenarnya bisa dihindari.

MENGISI LISAN DENGAN PERKATAAN YANG BERMANFAAT

Menjaga lisan bukan hanya berarti menghindari perkataan buruk, tetapi juga membiasakan diri mengucapkan hal yang baik dan bermanfaat. Selama Ramadhan, waktu dapat digunakan untuk memperbanyak doa, membaca Al-Qur'an, berdzikir, memberikan nasihat yang baik, dan berbicara dengan sopan. Ucapan sederhana seperti terima kasih, permintaan maaf, dan memberikan semangat juga dapat mempererat hubungan dengan orang lain. Namun, perkataan yang baik tetap perlu disampaikan dengan cara yang tepat dan tidak merendahkan pihak lain. Lisan yang digunakan untuk kebaikan dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki kualitas diri selama Ramadhan.

MENJAGA LISAN DI MEDIA SOSIAL

Tantangan menjaga lisan pada masa sekarang tidak hanya terjadi dalam percakapan langsung. Komentar, unggahan, pesan, dan perdebatan di media sosial juga perlu diperhatikan karena tulisan dapat memiliki dampak seperti ucapan. Selama Ramadhan, hindari menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, menghina orang lain, memancing perdebatan, atau memberikan komentar yang menyakitkan. Sebelum membagikan suatu informasi, periksa sumber dan kebenarannya terlebih dahulu. Menjaga etika digital menjadi bagian dari menjaga ucapan karena komunikasi tertulis juga dapat menimbulkan dampak bagi orang lain.

MENJADIKAN RAMADHAN SEBAGAI LATIHAN KARAKTER

Ramadhan dapat menjadi momentum untuk membangun kebiasaan baik yang berkelanjutan. Jika seseorang terbiasa berbicara dengan sopan, mengendalikan amarah, dan menghindari gosip selama satu bulan, kebiasaan tersebut dapat terus dipertahankan setelah Ramadhan. Perubahan karakter biasanya membutuhkan latihan yang konsisten, bukan hanya niat sesaat. Karena itu, setiap percakapan selama Ramadhan dapat dijadikan kesempatan untuk mengevaluasi cara berkomunikasi. Tujuan akhirnya bukan hanya menjadi lebih baik selama Ramadhan, tetapi membawa kebiasaan tersebut ke kehidupan sehari-hari.

CARA PRAKTIS MENJAGA LISAN SELAMA RAMADHAN

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk melatih kontrol ucapan selama berpuasa. Pertama, biasakan berpikir sebelum berbicara dan pertimbangkan dampak perkataan terhadap orang lain. Kedua, hindari percakapan yang berisi gosip, provokasi, atau perdebatan yang tidak memberikan manfaat. Ketiga, ketika sedang marah, ambil waktu untuk menenangkan diri sebelum memberikan respons. Keempat, gunakan waktu luang untuk membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, atau melakukan kegiatan yang bermanfaat. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membentuk kemampuan menjaga lisan.

KESIMPULAN

Menjaga lisan sangat penting di bulan Ramadhan karena puasa tidak hanya melatih seseorang menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan diri dan memperbaiki akhlak. Menghindari gosip, kebohongan, penghinaan, pertengkaran, serta perkataan yang menyakitkan dapat membantu menciptakan hubungan sosial yang lebih baik. Sebaliknya, menggunakan lisan untuk doa, nasihat, apresiasi, dan perkataan positif dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Ramadhan sebaiknya dijadikan kesempatan untuk membangun kebiasaan komunikasi yang baik agar dapat diterapkan sepanjang tahun. Menjaga lisan merupakan bagian dari proses menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan diri menuju pribadi yang lebih sabar, santun, dan bertakwa.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.