Pengaruh Media Sosial terhadap Munculnya Gaya Hidup Hedon
Gusti Ayu Tita P
8 September 2026
Media sosial telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Melalui berbagai platform digital, seseorang dapat melihat tren fashion, kuliner, perjalanan, hiburan, hingga barang mewah yang ditampilkan oleh pengguna lain. Kondisi tersebut membuat gaya hidup hedon semakin mudah dikenal dan diikuti. Keinginan untuk mendapatkan pengalaman yang menyenangkan sebenarnya merupakan hal yang wajar, tetapi dapat menjadi masalah ketika seseorang mulai mengutamakan kesenangan tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi finansial.
Media sosial juga mengubah cara seseorang melihat keberhasilan dan kebahagiaan. Kehidupan yang terlihat menarik sering kali dikaitkan dengan banyaknya pengalaman, barang yang dimiliki, atau tempat yang dikunjungi. Padahal, apa yang muncul di media sosial hanya sebagian dari kehidupan seseorang. Karena itu, penting memahami bagaimana media sosial dapat memengaruhi perilaku agar pengguna tidak mudah terjebak dalam perilaku konsumtif.
PERAN MEDIA SOSIAL DALAM MEMBENTUK GAYA HIDUP
Media sosial memungkinkan pengguna berbagi berbagai aktivitas kepada banyak orang dalam waktu singkat. Foto makanan, pakaian, kendaraan, liburan, konser, dan tempat populer dapat menjadi bagian dari konten sehari-hari. Ketika konten semacam itu terus dilihat, aktivitas konsumsi dapat terasa seperti sesuatu yang normal dan harus dilakukan. Paparan berulang terhadap gaya hidup tertentu dapat memengaruhi cara seseorang menentukan pilihan dalam kehidupan nyata.
Pengaruh tersebut semakin kuat karena media sosial bersifat interaktif. Pengguna tidak hanya melihat konten, tetapi juga dapat memberikan komentar, tanda suka, dan membagikan unggahan kepada orang lain. Respons tersebut dapat membuat suatu gaya hidup terlihat semakin populer. Dalam kondisi tertentu, seseorang mungkin mengikuti tren bukan karena benar-benar membutuhkan sesuatu, melainkan karena ingin mendapatkan pengakuan sosial atau merasa menjadi bagian dari lingkungan tertentu.
PERBANDINGAN SOSIAL DAN KEINGINAN MENGIKUTI TREN
Media sosial membuat proses membandingkan diri dengan orang lain menjadi lebih mudah. Seseorang dapat melihat pencapaian, penampilan, aktivitas, dan gaya hidup orang lain setiap hari. Jika tidak disikapi secara kritis, perbandingan tersebut dapat membuat seseorang merasa kehidupannya kurang menarik. Kemudian muncul keinginan untuk memiliki pengalaman atau barang yang serupa dengan orang yang dilihat di media sosial.
Perbandingan sosial juga dapat memunculkan FOMO atau fear of missing out. Seseorang merasa takut tertinggal ketika melihat banyak orang mengikuti tren tertentu. Perasaan tersebut dapat mendorong pembelian barang, kunjungan ke tempat populer, atau keikutsertaan dalam aktivitas tertentu meskipun sebenarnya tidak direncanakan. Jika berlangsung terus-menerus, FOMO dapat menjadi salah satu pemicu kebiasaan konsumtif.
PENGARUH INFLUENCER TERHADAP PERILAKU KONSUMSI
Influencer memiliki kemampuan untuk membentuk perhatian dan preferensi pengikut melalui konten yang mereka buat. Produk yang digunakan oleh influencer dapat terlihat lebih menarik karena ditampilkan bersama gaya hidup, pengalaman, atau citra tertentu. Ketika pengikut merasa memiliki kesamaan dengan influencer, rekomendasi yang diberikan dapat lebih mudah memengaruhi keputusan mereka. Hal tersebut menjadikan influencer sebagai salah satu bagian penting dalam ekosistem pemasaran digital.
Namun, pengguna perlu memahami bahwa sebagian konten dapat memiliki unsur promosi atau kerja sama komersial. Produk yang terlihat menarik belum tentu menjadi kebutuhan bagi setiap orang. Rekomendasi influencer sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai alasan untuk membeli. Konsumen tetap perlu mempertimbangkan kualitas produk, manfaat, harga, dan kemampuan finansial sebelum mengambil keputusan.
KEMUDAHAN BELANJA ONLINE MEMPERKUAT GAYA HIDUP HEDON
Media sosial dan platform perdagangan digital kini saling terhubung sehingga pengguna dapat berpindah dari melihat konten ke halaman pembelian dengan mudah. Produk yang muncul dalam konten dapat langsung dicari dan dibeli tanpa proses yang panjang. Berbagai metode pembayaran juga membuat transaksi menjadi semakin praktis. Kemudahan belanja online tersebut memberikan manfaat bagi konsumen, tetapi juga dapat meningkatkan risiko pembelian impulsif.
Promosi digital menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan. Diskon, voucher, cashback, gratis ongkir, dan penawaran terbatas dapat membuat seseorang merasa harus segera membeli. Padahal, suatu barang belum tentu diperlukan hanya karena harganya sedang lebih rendah. Jika pembelian dilakukan berulang kali tanpa perencanaan, pengeluaran bulanan dapat meningkat dan mengurangi kemampuan untuk menabung.
DAMPAK MEDIA SOSIAL TERHADAP KONDISI KEUANGAN
Pengaruh media sosial terhadap gaya hidup dapat berdampak pada kondisi finansial ketika seseorang mulai menghabiskan uang untuk mempertahankan citra atau mengikuti tren. Pengeluaran dapat mencakup pakaian, makanan, perjalanan, hiburan, perangkat teknologi, maupun berbagai produk yang sedang populer. Jika pendapatan terbatas, kebiasaan tersebut dapat membuat kebutuhan utama menjadi kurang diperhatikan. Pengeluaran konsumtif yang tidak terkendali juga dapat menghambat pencapaian tujuan keuangan.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membuat seseorang sulit membangun tabungan dan dana darurat. Bahkan, keinginan mempertahankan gaya hidup tertentu dapat mendorong penggunaan utang atau fasilitas kredit secara tidak bijak. Masalahnya bukan pada penggunaan media sosial atau pembelian barang itu sendiri, tetapi pada keputusan yang tidak disesuaikan dengan kemampuan. Oleh karena itu, perencanaan keuangan perlu menjadi bagian dari kebiasaan anak muda di tengah perkembangan teknologi.
DAMPAK TERHADAP POLA PIKIR DAN KEHIDUPAN SOSIAL
Media sosial tidak hanya memengaruhi keputusan membeli, tetapi juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ketika kehidupan orang lain terlihat lebih mewah atau menarik, seseorang dapat merasa kurang berhasil dibandingkan orang tersebut. Padahal, konten yang dibagikan biasanya hanya menunjukkan bagian tertentu dari kehidupan. Apa yang terlihat di media sosial tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya.
Tekanan untuk mengikuti lingkungan juga dapat memengaruhi hubungan sosial. Seseorang mungkin merasa perlu mengeluarkan uang agar dapat mengikuti kegiatan kelompok atau mempertahankan citra tertentu. Jika kemampuan finansial tidak mendukung, tekanan tersebut dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan masalah dalam pengelolaan uang. Karena itu, penting untuk memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh barang yang dimiliki atau gaya hidup yang ditampilkan.
MEMANFAATKAN MEDIA SOSIAL SECARA BIJAK
Media sosial sebenarnya tidak selalu membawa pengaruh negatif. Platform digital juga dapat digunakan untuk mendapatkan informasi, belajar keterampilan, membangun jaringan, mengembangkan bisnis, dan meningkatkan literasi keuangan. Pengguna dapat memilih konten yang memberikan manfaat dan mengurangi paparan terhadap konten yang mendorong konsumsi berlebihan. Dengan pilihan tersebut, media sosial dapat menjadi alat yang mendukung perkembangan diri.
Sebelum mengikuti tren atau membeli sesuatu yang muncul di media sosial, seseorang dapat mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan dan apakah pengeluarannya sesuai dengan anggaran. Membatasi pembelian spontan dan mencatat pengeluaran juga dapat membantu menjaga kondisi finansial. Kemampuan mengendalikan diri menjadi penting agar seseorang tidak mudah dipengaruhi oleh tren yang berubah dengan cepat. Dengan penggunaan media sosial yang lebih kritis, anak muda tetap dapat menikmati teknologi tanpa harus mengikuti gaya hidup hedon secara berlebihan.
KESIMPULAN
Media sosial memiliki pengaruh besar terhadap munculnya gaya hidup hedon karena mampu menyebarkan tren, membentuk perbandingan sosial, dan memudahkan proses konsumsi. Influencer, FOMO, promosi digital, perbandingan sosial, dan kemudahan belanja online dapat mendorong seseorang mengikuti gaya hidup tertentu tanpa mempertimbangkan kebutuhan. Dampaknya dapat terlihat dalam kondisi keuangan, pola pikir, serta kehidupan sosial apabila penggunaan media sosial tidak dikendalikan. Namun, media sosial bukan satu-satunya penyebab perilaku hedon karena keputusan seseorang juga dipengaruhi oleh lingkungan, kemampuan finansial, dan kebiasaan pribadi. Dengan literasi digital, literasi keuangan, kontrol diri, dan kemampuan menentukan prioritas, media sosial dapat digunakan secara lebih sehat tanpa membuat seseorang terjebak dalam perilaku konsumtif.
About the Author
Gusti Ayu Tita P
Author — STEKOM University
An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.