Seberapa Besar Pengaruh Media Sosial Terhadap Rasa Insecure Dan Perasaan Tertinggal?
Gusti Ayu Tita P
31 Agustus 2026
Media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi, mendapatkan informasi, dan melihat kehidupan orang lain. Berbagai pencapaian seperti kelulusan, pekerjaan, perjalanan, hubungan, hingga gaya hidup dapat terlihat dalam waktu singkat melalui layar. Kondisi tersebut dapat memberikan inspirasi, tetapi juga dapat memicu rasa insecure dan perasaan tertinggal ketika seseorang terlalu sering membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Pengaruhnya dapat berbeda pada setiap orang karena dipengaruhi oleh cara menggunakan media sosial dan kondisi pribadi masing-masing.
Masalahnya bukan sekadar jumlah waktu yang dihabiskan di media sosial, tetapi juga jenis konten yang dikonsumsi dan cara seseorang menafsirkannya. Jika media sosial digunakan tanpa kesadaran, pengguna dapat terjebak dalam siklus membandingkan diri. Sebaliknya, penggunaan yang lebih sehat dapat membantu seseorang memperoleh informasi dan membangun hubungan sosial tanpa mengurangi kepercayaan diri.
MEDIA SOSIAL MEMICU PERBANDINGAN SOSIAL
Media sosial menyediakan ruang yang membuat kehidupan banyak orang terlihat secara bersamaan. Pengguna dapat melihat seseorang mendapatkan pekerjaan, membeli barang, lulus kuliah, menjalankan bisnis, atau mencapai tujuan tertentu. Paparan tersebut dapat memunculkan perbandingan sosial, terutama ketika seseorang merasa kehidupannya belum berada pada tahap yang sama. Semakin sering membandingkan diri, semakin besar kemungkinan seseorang memperhatikan kekurangan dirinya.
Perbandingan sosial sebenarnya tidak selalu buruk. Melihat keberhasilan orang lain dapat memberikan inspirasi dan motivasi untuk belajar atau memperbaiki diri. Namun, perbandingan menjadi tidak sehat ketika pencapaian orang lain dijadikan ukuran nilai diri sendiri. Dalam kondisi tersebut, keberhasilan orang lain justru dapat membuat seseorang merasa tidak cukup.
KONTEN MEDIA SOSIAL SERING MENAMPILKAN SISI TERBAIK
Sebagian besar orang memilih membagikan momen yang dianggap menarik atau membahagiakan di media sosial. Foto perjalanan, pencapaian pekerjaan, perayaan, dan gaya hidup tertentu lebih sering ditampilkan dibandingkan kegagalan atau masalah pribadi. Hal ini dapat menciptakan gambaran kehidupan yang tidak lengkap. Pengguna yang melihatnya mungkin mengira bahwa orang lain selalu bahagia dan berhasil.
Padahal, kehidupan seseorang jauh lebih kompleks daripada apa yang terlihat di sebuah unggahan. Masalah pekerjaan, tekanan ekonomi, konflik hubungan, dan kegagalan tidak selalu dibagikan kepada publik. Karena itu, membandingkan kehidupan pribadi dengan unggahan media sosial dapat menghasilkan penilaian yang tidak adil. Apa yang terlihat di layar bukan gambaran keseluruhan kehidupan seseorang.
DAMPAK TERHADAP RASA INSECURE DAN KEPERCAYAAN DIRI
Paparan konten tertentu dapat membuat seseorang mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Misalnya, konten mengenai penampilan dapat memengaruhi cara seseorang melihat tubuh dan wajahnya, sedangkan konten mengenai karier dapat membuat seseorang merasa belum sukses. Jika berlangsung terus-menerus, hal tersebut dapat meningkatkan rasa insecure dan membuat seseorang lebih sering memikirkan kekurangannya. Kepercayaan diri pun dapat ikut terpengaruh.
Namun, media sosial bukan satu-satunya penyebab munculnya rasa insecure. Pengalaman pribadi, lingkungan sosial, pola pikir, dan kondisi kehidupan juga dapat berperan. Media sosial dapat menjadi faktor yang memperkuat perasaan tersebut, terutama jika seseorang sudah memiliki kecenderungan untuk membandingkan diri. Oleh karena itu, penting melihat dampaknya secara menyeluruh dan tidak menganggap semua pengguna akan mengalami pengaruh yang sama.
PERASAAN TERTINGGAL DAPAT MUNCUL DARI STANDAR YANG TIDAK REALISTIS
Media sosial dapat membuat pencapaian tertentu terlihat seperti standar umum. Ketika banyak orang terlihat sudah memiliki pekerjaan, rumah, pasangan, atau kehidupan yang dianggap ideal, seseorang mungkin merasa harus mencapai hal yang sama. Dari sinilah perasaan tertinggal dapat muncul. Seseorang merasa hidupnya berjalan terlalu lambat meskipun sebenarnya sedang berada dalam proses yang wajar.
Standar tersebut belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan kondisi setiap individu. Ada orang yang memprioritaskan pendidikan, ada yang fokus pada pekerjaan, dan ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk menentukan arah hidup. Kesuksesan tidak memiliki jadwal yang sama untuk semua orang. Memahami hal tersebut dapat membantu mengurangi tekanan akibat melihat pencapaian orang lain.
CARA MENGURANGI DAMPAK NEGATIF MEDIA SOSIAL
Penggunaan media sosial dapat dibuat lebih sehat dengan memperhatikan akun dan konten yang dikonsumsi. Jika sebuah akun terus membuat seseorang merasa rendah diri atau tidak cukup baik, pengguna dapat memilih untuk mute, unfollow, atau mengurangi interaksi dengan akun tersebut. Langkah ini bukan berarti membenci orang lain, tetapi menjaga kualitas lingkungan digital. Pilih konten yang memberikan informasi, inspirasi, dan manfaat nyata.
Selain mengatur konten, penting juga membatasi kebiasaan membuka media sosial tanpa tujuan. Waktu yang sebelumnya digunakan untuk scrolling dapat dialihkan pada aktivitas produktif, seperti belajar, berolahraga, membaca, mengembangkan keterampilan, atau berkumpul dengan orang terdekat. Dengan begitu, perhatian perlahan kembali kepada kehidupan nyata. Media sosial tetap dapat digunakan tanpa menjadi sumber utama dalam menentukan nilai diri.
MEMBANGUN POLA PIKIR YANG LEBIH SEHAT
Cara seseorang menafsirkan konten media sosial sangat memengaruhi dampaknya. Ketika melihat orang lain berhasil, cobalah menganggapnya sebagai informasi atau inspirasi, bukan bukti bahwa diri sendiri gagal. Fokus pada perkembangan pribadi dapat membantu mengurangi kebiasaan membandingkan diri. Kemajuan kecil yang dilakukan secara konsisten tetap memiliki arti meskipun tidak terlihat oleh banyak orang.
Evaluasi diri juga dapat dilakukan dengan membandingkan kondisi sekarang dengan diri sendiri di masa lalu. Tanyakan keterampilan apa yang sudah bertambah, tantangan apa yang berhasil dilewati, dan tujuan apa yang sedang diperjuangkan. Cara ini membantu seseorang menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Dengan pola pikir yang lebih realistis, media sosial dapat digunakan secara lebih bijak tanpa mengendalikan kepercayaan diri.
KESIMPULAN
Pengaruh media sosial terhadap rasa insecure dan perasaan tertinggal dapat cukup besar, terutama ketika seseorang terlalu sering membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain. Konten yang hanya menampilkan sisi terbaik dapat menciptakan standar yang tidak realistis dan membuat pencapaian pribadi terasa kurang berarti. Namun, dampak tersebut tidak sama pada setiap orang karena dipengaruhi oleh pola penggunaan media sosial dan kondisi masing-masing. Mengatur konten, membatasi scrolling, serta membangun pola pikir yang berfokus pada perkembangan diri dapat membantu mengurangi dampak negatifnya. Pada akhirnya, media sosial sebaiknya menjadi alat untuk mendapatkan informasi dan berkomunikasi, bukan ukuran utama untuk menentukan nilai dan keberhasilan diri.
About the Author
Gusti Ayu Tita P
Author — STEKOM University
An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.