Upaya Kementerian Kebudayaan Menjaga Tradisi Di Era Modern
Gusti Ayu Tita P
30 Juli 2026
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keragaman tradisi dan budaya yang sangat luas. Setiap daerah mempunyai bahasa, kesenian, upacara adat, pengetahuan tradisional, dan kebiasaan yang menjadi bagian dari identitas masyarakatnya. Perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup, dan arus globalisasi membuat cara masyarakat mengenal dan menjalankan tradisi ikut berubah. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah untuk menjaga agar tradisi tetap hidup di tengah masyarakat. Kementerian Kebudayaan memiliki peran dalam mendorong pemajuan kebudayaan melalui pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan. (Database Peraturan | JDIH BPK)
MELINDUNGI TRADISI MELALUI PENDATAAN DAN DOKUMENTASI
Salah satu upaya penting dalam menjaga tradisi adalah memastikan keberadaannya tercatat dan terdokumentasi dengan baik. Pendataan budaya membantu pemerintah mengetahui berbagai tradisi yang berkembang di masyarakat, termasuk pelaku, komunitas, dan lingkungan pendukungnya. Dokumentasi dapat dilakukan melalui tulisan, foto, video, rekaman suara, maupun bentuk arsip lainnya. Data tersebut dapat menjadi sumber informasi bagi penelitian, pendidikan, dan program pelestarian. PP Nomor 87 Tahun 2021 juga mengatur mengenai Sistem Pendataan Kebudayaan Terpadu sebagai bagian dari pelaksanaan pemajuan kebudayaan. (Database Peraturan | JDIH BPK)
Pendataan menjadi semakin penting ketika suatu tradisi mulai jarang dilakukan atau jumlah pelakunya semakin berkurang. Dokumentasi dapat membantu menjaga pengetahuan budaya agar tidak mudah hilang ketika terjadi perubahan generasi. Namun, pendataan sebaiknya dilakukan dengan melibatkan masyarakat dan pelaku budaya yang memahami tradisi tersebut. Dengan demikian, informasi yang dikumpulkan tidak hanya lengkap, tetapi juga sesuai dengan konteks budaya setempat. Langkah ini dapat menjadi dasar untuk menentukan bentuk pelindungan yang paling sesuai.
MEMANFAATKAN TEKNOLOGI DIGITAL UNTUK MEMPERKENALKAN TRADISI
Era modern memberikan kesempatan besar untuk memperkenalkan tradisi melalui teknologi digital. Informasi mengenai budaya dapat disampaikan melalui video, media sosial, situs web, arsip digital, dan berbagai platform edukasi. Cara tersebut membuat tradisi dapat dikenal oleh masyarakat yang berada jauh dari daerah asalnya. Teknologi juga memungkinkan dokumentasi budaya disimpan dan diakses dengan lebih mudah. Kementerian Kebudayaan menilai perkembangan digital dan media sosial telah menciptakan ruang baru untuk ekspresi, eksplorasi, dan promosi kebudayaan. (Balaimedia)
Pemanfaatan teknologi tidak berarti tradisi harus diubah secara berlebihan agar mengikuti tren. Nilai dan konteks budaya tetap perlu dihormati ketika tradisi diperkenalkan dalam bentuk digital. Konten yang dibuat juga sebaiknya menggunakan informasi yang benar dan tidak menampilkan budaya secara sembarangan. Generasi muda dapat dilibatkan sebagai pembuat konten sekaligus penerus pengetahuan budaya. Dengan cara tersebut, teknologi dapat menjadi alat untuk mendekatkan tradisi dengan kehidupan masyarakat modern.
MENDORONG PERAN GENERASI MUDA
Generasi muda memiliki peran penting karena keberlangsungan tradisi sangat bergantung pada adanya penerus. Jika anak muda tidak mengenal atau tertarik terhadap budaya daerahnya, suatu tradisi dapat semakin jarang dipraktikkan. Karena itu, kegiatan kebudayaan perlu dikemas dalam bentuk yang menarik, kreatif, edukatif, dan sesuai dengan perkembangan zaman. Sekolah, komunitas, dan berbagai lembaga dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk mengenal budaya secara langsung. Keterlibatan tersebut dapat membuat generasi muda tidak hanya mengetahui tradisi, tetapi juga memahami maknanya.
Generasi muda juga dapat menggunakan keterampilan digital untuk memperkenalkan budaya kepada masyarakat luas. Mereka dapat membuat dokumentasi, konten edukasi, karya kreatif, atau kegiatan komunitas yang mengangkat tradisi lokal. Peran anak muda sebagai pelaku budaya dapat membantu menciptakan proses pewarisan yang lebih aktif. Namun, kreativitas tetap perlu disertai penghormatan terhadap nilai dan komunitas pemilik budaya. Dengan demikian, modernisasi dapat berjalan berdampingan dengan keberlanjutan tradisi.
MENGEMBANGKAN TRADISI AGAR TETAP RELEVAN
Menjaga tradisi bukan berarti membuatnya tidak boleh mengalami perkembangan. Tradisi dapat berkembang selama perubahan tersebut tetap menghargai nilai dan identitas yang melekat pada budaya tersebut. Pemerintah dapat mendukung pertunjukan, festival, pameran, pelatihan, penelitian, dan kegiatan kreatif yang memberikan ruang bagi tradisi untuk terus dipraktikkan. Kegiatan semacam itu dapat membuat masyarakat memiliki kesempatan untuk mengenal budaya secara langsung. Pengembangan juga dapat membantu tradisi tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
Kreativitas dapat menjadi jembatan antara tradisi dan kehidupan modern. Misalnya, kesenian tradisional dapat diperkenalkan melalui pertunjukan dengan pendekatan baru tanpa menghilangkan unsur utamanya. Pengembangan yang tepat dapat membuat tradisi lebih mudah diterima oleh generasi baru. Namun, perubahan perlu mempertimbangkan pendapat pelaku dan komunitas yang memiliki hubungan langsung dengan tradisi tersebut. Dengan pendekatan yang seimbang, tradisi dapat tetap memiliki identitas sekaligus memperoleh ruang untuk berkembang.
MEMBERIKAN DUKUNGAN KEPADA PELAKU DAN KOMUNITAS BUDAYA
Tradisi tidak dapat bertahan hanya melalui dokumentasi karena budaya pada dasarnya hidup melalui manusia yang mempraktikkannya. Oleh sebab itu, pelaku budaya dan komunitas membutuhkan dukungan agar dapat terus berkarya dan melakukan pewarisan. Dukungan dapat berbentuk pelatihan, pendampingan, fasilitasi kegiatan, penghargaan, serta dukungan pendanaan. PP Nomor 87 Tahun 2021 mengatur pembinaan dan penghargaan dalam kerangka pemajuan kebudayaan. Pemerintah juga dapat memberikan insentif kepada pihak yang berkontribusi dalam pemajuan kebudayaan sesuai ketentuan yang berlaku. (Database Peraturan | JDIH BPK)
Salah satu bentuk dukungan pendanaan yang tersedia saat ini adalah Dana Indonesia Raya, yang memberikan dukungan bagi perseorangan, komunitas, dan lembaga untuk menjalankan berbagai program kebudayaan. Program 2026 mencakup 12 jenis kegiatan kebudayaan dan merupakan hasil kolaborasi Kementerian Kebudayaan dengan LPDP. (Dana Indonesia Raya) Dukungan seperti ini dapat membantu komunitas menjalankan kegiatan yang membutuhkan sumber daya. Semakin kuat dukungan terhadap pelaku budaya, semakin besar peluang tradisi untuk terus dipraktikkan dan diwariskan.
MENGUATKAN PENDIDIKAN BERBASIS BUDAYA
Pendidikan dapat menjadi sarana penting untuk mengenalkan tradisi kepada generasi berikutnya. Pengetahuan mengenai budaya lokal dapat diperkenalkan melalui pembelajaran, kegiatan sekolah, kunjungan budaya, proyek kreatif, maupun kegiatan ekstrakurikuler. Pendidikan berbasis budaya membantu peserta didik memahami bahwa tradisi merupakan bagian dari kehidupan dan identitas masyarakat. Pembelajaran juga dapat membuat anak muda lebih mengenal sejarah dan nilai yang terkandung dalam suatu tradisi. Dengan pemahaman tersebut, mereka dapat memiliki rasa menghargai terhadap budaya daerah.
Pengenalan budaya sebaiknya tidak hanya berupa hafalan mengenai nama atau asal suatu tradisi. Peserta didik perlu diberi kesempatan untuk mengamati, mencoba, berdiskusi, dan berinteraksi dengan pelaku budaya. Cara tersebut dapat membuat pembelajaran lebih dekat dengan pengalaman nyata. Sekolah juga dapat bekerja sama dengan komunitas atau budayawan setempat agar informasi yang diberikan lebih kontekstual. Dengan demikian, pendidikan dapat membantu memperkuat proses pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
MEMANFAATKAN RUANG PUBLIK UNTUK KEGIATAN BUDAYA
Ruang publik dapat menjadi tempat yang efektif untuk mempertemukan masyarakat dengan tradisi dan berbagai ekspresi budaya. Pertunjukan seni, pameran, festival, diskusi, dan kegiatan komunitas dapat diselenggarakan di ruang yang mudah diakses masyarakat. Kehadiran budaya di ruang publik membuat tradisi tidak hanya berada di lingkungan komunitasnya, tetapi juga dapat dikenal oleh masyarakat yang lebih luas. Kegiatan tersebut sekaligus dapat memberikan kesempatan kepada pelaku budaya untuk menampilkan karya. Pemerintah dapat membantu menciptakan ekosistem yang memberikan ruang bagi kegiatan budaya yang inklusif dan partisipatif.
Pemanfaatan ruang publik juga dapat meningkatkan interaksi antarkelompok masyarakat. Masyarakat dapat bertemu, berdiskusi, dan mengenal berbagai bentuk budaya melalui kegiatan yang terbuka. Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya pemajuan kebudayaan yang mendorong ruang interaksi budaya yang inklusif, partisipatif, dan inovatif. (Balaimedia) Jika dilakukan secara konsisten, kegiatan budaya di ruang publik dapat meningkatkan apresiasi terhadap tradisi. Hal ini juga dapat membuat budaya menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sehari-hari.
MEMPERKUAT KERJA SAMA DENGAN MASYARAKAT DAN DAERAH
Menjaga tradisi bukan hanya tugas pemerintah pusat. Pemerintah daerah, komunitas, lembaga pendidikan, pelaku budaya, akademisi, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menjaga keberlanjutan budaya. Kolaborasi diperlukan karena setiap daerah memiliki kondisi dan kebutuhan budaya yang berbeda. Pemerintah pusat dapat memberikan arah kebijakan dan dukungan, sedangkan pemerintah daerah lebih dekat dengan komunitas lokal. Pelaku budaya kemudian dapat memberikan pengetahuan langsung mengenai tradisi yang mereka jalankan.
Kerja sama yang baik juga dapat mencegah program kebudayaan berjalan tanpa memahami kondisi masyarakat setempat. Masyarakat perlu dilibatkan sebagai pelaku, bukan hanya sebagai penerima program. Pelibatan tersebut dapat dilakukan sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan. Dengan cara tersebut, program pelestarian dapat lebih sesuai dengan kebutuhan komunitas. Kolaborasi yang berkelanjutan juga membantu memastikan tradisi tetap hidup setelah suatu program selesai.
MENGUKUR PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN KEBUDAYAAN
Upaya menjaga tradisi perlu dievaluasi agar pemerintah dapat mengetahui perkembangan dan tantangan yang masih dihadapi. Salah satu instrumen yang digunakan dalam pembangunan kebudayaan adalah Indeks Pembangunan Kebudayaan atau IPK. IPK memberikan gambaran mengenai kemajuan pembangunan kebudayaan dan dapat digunakan sebagai dasar formulasi kebijakan serta koordinasi lintas sektor. Dimensinya mencakup ekonomi budaya, pendidikan, ketahanan sosial budaya, warisan budaya, ekspresi budaya, budaya literasi, dan gender. (Indeks Pembangunan Kebudayaan)
Pengukuran tersebut membantu melihat kebudayaan dari berbagai sisi, bukan hanya berdasarkan jumlah kegiatan yang diselenggarakan. Evaluasi berbasis data dapat membantu menentukan program yang perlu diperkuat atau diperbaiki. Pemerintah dapat menggunakan informasi tersebut untuk memahami kondisi kebudayaan di berbagai wilayah. Masyarakat dan pelaku budaya juga dapat memberikan masukan mengenai dampak program yang dijalankan. Dengan evaluasi yang konsisten, upaya menjaga tradisi dapat dilakukan secara lebih terarah.
MENJAGA TRADISI TANPA MENOLAK MODERNISASI
Modernisasi tidak selalu menjadi ancaman bagi keberadaan tradisi. Perkembangan teknologi justru dapat membuka kesempatan baru untuk dokumentasi, promosi, pendidikan, dan pengembangan budaya. Kunci utamanya adalah menjaga nilai budaya sambil menyesuaikan cara penyampaiannya dengan perkembangan masyarakat. Tradisi dapat diperkenalkan melalui media baru tanpa harus kehilangan identitasnya. Pendekatan tersebut memungkinkan budaya tetap dekat dengan generasi sekarang.
Di sisi lain, modernisasi tetap perlu disikapi secara kritis. Tidak semua perubahan harus diterapkan apabila dapat menghilangkan makna atau merugikan komunitas pemilik tradisi. Pelestarian yang baik harus menempatkan masyarakat dan nilai budaya sebagai pertimbangan utama. Teknologi sebaiknya digunakan sebagai alat pendukung, bukan sebagai pengganti peran pelaku budaya. Dengan keseimbangan tersebut, tradisi dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar sejarahnya.
KESIMPULAN
Upaya Kementerian Kebudayaan menjaga tradisi di era modern dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari pendataan, dokumentasi, pelindungan, pengembangan, pendidikan, digitalisasi, pembinaan, pendanaan, hingga kolaborasi dengan masyarakat. Kerangka tersebut sejalan dengan UU Nomor 5 Tahun 2017 yang menempatkan pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan sebagai bagian dari pemajuan kebudayaan. (Database Peraturan | JDIH BPK) Perkembangan teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas promosi dan akses masyarakat terhadap budaya. (Balaimedia)
Keberhasilan menjaga tradisi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah. Generasi muda, komunitas budaya, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, pelaku seni, dan masyarakat perlu ikut mengambil peran. Tradisi akan lebih mudah bertahan jika terus dipraktikkan, dipelajari, dikembangkan, dan diperkenalkan dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan kolaborasi yang kuat dan pemanfaatan teknologi secara bijak, tradisi Indonesia dapat tetap hidup tanpa kehilangan identitas dan nilai yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
About the Author
Gusti Ayu Tita P
Author — STEKOM University
An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.