Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 18 dibaca

Apa Saja Mitos Tentang Kepribadian Ganda Yang Perlu Diluruskan?

G

Gusti Ayu Tita P

24 September 2026

Bagikan:
Apa Saja Mitos Tentang Kepribadian Ganda Yang Perlu Diluruskan?

Kepribadian ganda merupakan istilah yang sering digunakan masyarakat untuk menyebut Gangguan Identitas Disosiatif atau Dissociative Identity Disorder (DID). Kondisi ini masih sering disalahpahami karena banyak informasi tentangnya berasal dari film, media sosial, atau cerita yang tidak berdasarkan fakta medis. Kesalahpahaman tersebut dapat membuat seseorang dengan DID mendapatkan stigma dan perlakuan yang tidak tepat. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui mitos yang beredar dan memahami fakta berdasarkan informasi kesehatan mental yang benar.

MITOS KEPRIBADIAN GANDA BERARTI MEMILIKI BANYAK KEPRIBADIAN BIASA

Salah satu mitos yang sering muncul adalah bahwa DID hanya berarti seseorang mempunyai beberapa karakter yang berbeda. Padahal, DID merupakan kondisi yang melibatkan gangguan pada identitas, ingatan, kesadaran, dan pengalaman disosiasi. Pengalaman setiap orang dapat berbeda sehingga tidak selalu terlihat seperti pergantian karakter secara dramatis. Kondisi tersebut juga dapat disertai kesenjangan ingatan yang tidak sama dengan lupa biasa.

Istilah kepribadian ganda sendiri lebih dikenal secara umum daripada istilah medisnya. Karena itu, penggunaan istilah tersebut sebaiknya disertai pemahaman bahwa yang dimaksud adalah kondisi kesehatan mental yang kompleks. Perbedaan sifat atau karakter seseorang tidak otomatis menunjukkan DID. Penentuan diagnosis harus dilakukan melalui pemeriksaan profesional.

MITOS PERUBAHAN SUASANA HATI BERARTI KEPRIBADIAN GANDA

Perubahan suasana hati juga sering dianggap sebagai tanda utama kepribadian ganda. Padahal, seseorang dapat merasa senang, sedih, marah, atau tenang tanpa mengalami DID. Perubahan mood merupakan pengalaman yang umum dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti situasi, tekanan, kurang tidur, atau kondisi kesehatan mental tertentu. Oleh sebab itu, perubahan emosi saja tidak cukup untuk menunjukkan adanya DID.

DID lebih berkaitan dengan pola gangguan identitas dan disosiasi yang dapat memengaruhi ingatan serta kesadaran seseorang. Gejalanya perlu dinilai secara menyeluruh dan tidak dapat ditentukan hanya dari perilaku yang terlihat dalam satu situasi. Diagnosis sendiri berdasarkan perubahan emosi dapat menyebabkan kesalahpahaman.

MITOS ORANG DENGAN DID SELALU BERBAHAYA

Gambaran dalam film atau cerita fiksi terkadang menghubungkan kepribadian ganda dengan perilaku berbahaya. Gambaran tersebut dapat menciptakan anggapan bahwa semua orang dengan DID memiliki risiko melakukan kekerasan. Faktanya, DID tidak membuat seseorang secara otomatis menjadi berbahaya atau agresif. Perilaku seseorang tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan diagnosis kesehatan mental.

Mitos ini dapat menyebabkan orang dengan DID dijauhi atau diperlakukan dengan rasa takut. Padahal, mereka tetap membutuhkan rasa aman, penghargaan, dan dukungan seperti orang lain. Penilaian terhadap seseorang sebaiknya didasarkan pada perilaku nyata, bukan stereotip mengenai kondisi mental tertentu.

MITOS DID SAMA DENGAN SKIZOFRENIA

DID dan skizofrenia merupakan dua kondisi kesehatan mental yang berbeda. Kesalahpahaman ini mungkin muncul karena masyarakat sering menghubungkan keduanya dengan pengalaman yang tidak biasa dalam pikiran atau perilaku seseorang. Namun, DID terutama berkaitan dengan gangguan identitas dan disosiasi, sedangkan skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang dapat melibatkan gejala seperti delusi, halusinasi, dan gangguan proses berpikir. Keduanya memiliki karakteristik dan pendekatan penanganan yang berbeda.

Menyamakan kedua kondisi tersebut dapat membuat informasi tentang kesehatan mental menjadi semakin tidak akurat. Diagnosis hanya dapat ditentukan melalui penilaian profesional berdasarkan gejala dan kondisi seseorang. Karena itu, informasi dari media atau pengalaman orang lain tidak dapat digunakan untuk memastikan diagnosis.

MITOS TRAUMA PASTI MENYEBABKAN DID

DID memiliki hubungan yang kuat dengan pengalaman trauma berat atau berulang, terutama yang terjadi pada masa perkembangan. Namun, hal tersebut tidak berarti setiap orang yang mengalami trauma akan mengalami DID. Perkembangan kondisi kesehatan mental dipengaruhi oleh berbagai faktor dan tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu penyebab. Karena itu, hubungan trauma dengan DID perlu dipahami secara hati-hati.

Selain itu, seseorang tidak seharusnya dipaksa untuk menceritakan atau mengingat kembali pengalaman traumatis demi membuktikan suatu kondisi. Pengalaman trauma perlu ditangani dengan pendekatan yang aman dan profesional. Menggali kenangan secara paksa juga bukan cara yang tepat untuk melakukan diagnosis.

MITOS DID HANYA TERLIHAT SEPERTI PERGANTIAN KEPRIBADIAN

Banyak orang membayangkan DID selalu ditandai dengan perubahan identitas yang sangat jelas dan mudah dilihat. Kenyataannya, gejala DID dapat berbeda pada setiap orang dan tidak selalu terlihat dramatis. Seseorang dapat mengalami kesenjangan ingatan, perubahan kesadaran, perasaan terlepas dari diri sendiri, atau pengalaman disosiatif lainnya. Beberapa gejala juga mungkin sulit dikenali oleh orang di sekitarnya.

Karena itu, tidak tepat menyimpulkan seseorang mengalami DID hanya karena tidak menunjukkan pergantian identitas yang terlihat jelas. Profesional akan melihat pola gejala dan dampaknya terhadap kehidupan seseorang secara keseluruhan. Pemeriksaan yang menyeluruh diperlukan untuk membedakan DID dari kondisi lain.

MITOS DID BISA DIHILANGKAN DENGAN KEMAUAN SENDIRI

Ada anggapan bahwa seseorang dapat menghentikan DID hanya dengan berusaha mengendalikan pikirannya. Pandangan tersebut terlalu sederhana karena DID merupakan kondisi kesehatan mental yang membutuhkan penanganan yang sesuai. Seseorang mungkin dapat mempelajari berbagai cara untuk mengelola gejalanya, tetapi proses tersebut tidak berarti cukup dilakukan dengan kemauan semata. Dukungan profesional dapat membantu seseorang memahami kondisi dan mengembangkan kemampuan menghadapi gejala.

Penanganan biasanya berfokus pada psikoterapi dan peningkatan kemampuan menghadapi disosiasi serta tekanan emosional. Obat tidak secara khusus menyembuhkan DID, tetapi dokter dapat memberikan obat untuk kondisi lain atau gejala tertentu jika diperlukan. Setiap rencana penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi individu.

KESIMPULAN

Mitos tentang kepribadian ganda dapat membuat masyarakat memiliki pandangan yang keliru terhadap Gangguan Identitas Disosiatif atau DID. DID bukan sekadar perubahan suasana hati, bukan sama dengan skizofrenia, dan tidak berarti seseorang otomatis berbahaya. Trauma memang memiliki hubungan kuat dengan DID, tetapi tidak semua orang yang mengalami trauma akan mengembangkan kondisi tersebut. Informasi yang akurat, sikap tidak menghakimi, dan pemeriksaan profesional sangat penting untuk menghindari stigma serta membantu seseorang mendapatkan dukungan yang sesuai. Dengan meluruskan berbagai mitos, masyarakat dapat memahami kesehatan mental dengan lebih bijak dan manusiawi.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya